Senin, Juli 22, 2024

Tokoh Masyarakat Kota Sigli...

SIGLI - Para tokoh masyarakat dari 15 gampong dalam Kecamatan Kota Sigli menyatakan...

Tim Polres Aceh Utara...

LHOKSUKON – Kapolres Aceh Utara AKBP Nanang Indra Bakti, S.H., S.I.K., bersama jajarannya...

Pasar Malam di Tanah...

SIGLI - Kegiatan hiburan Pasar Malam yang digelar di tanah wakaf Tgk. Dianjong,...

Tutup Dashat, Kepala DPMPPKB...

ACEH UTARA – Kegiatan Dapur Sehat Atasi Stunting (Dashat) yang dilaksanakan secara serentak...
BerandaHeadlineAceh Hari Ini:...

Aceh Hari Ini: Belanda Menghapus Nama Banda Aceh

Pada 24 Januari 1874 Pemerintah Kolonial Belanda menghapus nama Banda Aceh, menggantinya menjadi Kutaraja. Belanda melakukan itu sebagai politik penaklukan, meski yang mereka kuasai hanya sebuah kota yang ditinggalkan pejuang Aceh, karena pusat pemerintahan Kerajaan Aceh dipindahkan ke Keumala, Pidie.

Pergantian nama Banda Aceh menjadi Kutaraja itu dilakukan oleh Panglima Angkatan Perang Belanda, Jenderal Van Swieten. Ia menegaskan posisinya seolah telah berhasil menaklukkan Aceh kepada Gubernur Jendral Hindia Belanda di Buitenzorg (Bogor) dan Raja Belanda di Amsterdam bahwa ia telah berhasil menguasai istana Raja Aceh, sekaligus menguasai Kerajaan Aceh.

Selain itu, apa yang dilakukan Van Swieten tersebut sebagai bentuk penegasan penembusan kegagalan Belanda di Aceh pada agresi pertama Belanda yang menerwaskan panglima perang Belanda sebelumnya Jenderal JHR Kohler, akibat tembakan sniper Aceh di halaman Masjid Raya Baiturrahman.

penunjukan Van Swieten sebagai panglima perang itu juga sebagai bentuk pembalasan Belanda terhadap Aceh atas kegagalan pertama mereka. Van Swieten sejatinya sudah pensiun, tapi karena kematian Mayor Jenderal Kohler, maka jenderal senior Belanda itu diaktifkan kembali untuk memimpin agresi kedua ke Aceh.

Dalam The Dutch Colonial War In Aceh diungkapkan, agresi kedua militer Belanda ke Aceh itu dimulai pada 9 Desember 1973, yakni saat pasukan Belanda mendarat di Kuala Gigieng, Sagoe XXVI Mukim. Pendaratan pasukan Belanda itu dihadapi dengan perang sengit selama delapan hari oleh rakyat Aceh di sekitar pantai.

Setelah itu pasukan militer Belanda terus masuk merengsek ke pusat pemerintahan Kerajaan Aceh. Dan pada 6 Januari 1874 setelah menghadapi peperangan sengit pasukan Van Swieten berhasil menguasai Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh.

Kemudian pada 24 Januari 1874 militer Belanda juga berhasil merebut Dalam yakni Keraton Darut Dunia, pusat pemerintahan Kerajaan Aceh yang ditinggalkan oleh pemimpin Aceh, karena pusat pemerintahan Kerajaan Aceh telah dipindahkan ke Keumala, Pidie.

Pemindahan itu juga dilakukan karena Raja Aceh, Sultan Alauddin Mahmud Syah kala itu meninggal dunia akibat wabah penyakit kolera. Setelah berhasil merebut Keraton Darud Dunia dalam keadaan kosong itulah, Jenderal Van Swieten kemudian mengubah nama Kota Banda Aceh menjadi Kutaraja.

Nama Banda Aceh baru dibangkitkan kembali pada tahun 1963 oleh Gubernur Aceh Ali Hasjmy yang diperkuat dengan Surat Keputusan Menteri Pemerintahan Umum dan Otonomi Daerah Nomor.Des.52/I/43-43 tanggal 9 Mei 1963.

Karena itu pula, Hari Ulang Tahun (HUT) Kota Banda Aceh selama 25 tahun diperingati setiap tanggal 9 Mei, yakni sejak tahun 1963 hingga tahun 1988. Perubahan HUT Kota Banda Aceh menjadi 22 April dilakukan melalu seminar hari jadi Kota Banda Aceh yang diselenggarakan di Banda Aceh pada tanggal 26 hingga 28 Maret 1988.[]

Baca juga: