Kematian perwira Belanda Letnan Kolonel Scheepen karena ditikam dengan rencong oleh Uleebalang Titue, Pidie menjadi salah satu kisah tragis perang Belanda di Aceh.
Letnan Kolonel Scheepens ini bukan orang sembarangan. Ia tergolong perwira Belanda yang sukses di Aceh. Ia terlibat dalam perang penaklukkan dataran tinggi Gayo. Pernah mengalami luka serius dalam perang, yang tak bisa disembuhkan di Aceh. Untuk mengobatinya dia harus dikirim kembali ke Belanda. Ia sampai harus dua kali menjalani operasi di sana.
Letnan Kolonel Scheepens juga perwira yang sangat beruntung. Luka dari perang Aceh yang dibawanya ke Belanda itu untuk diobati, membuat ia dindang undangan makan malam dengan Ratu Belanda di istananya.
Baca Juga: Kisah Remaja Aceh Membunuh Controleur Belanda
Nama Letnan Kolonel Scheepens terpampang di tiang utama gerbang Peutjut Kerkhof. Di sana tertulis: “In Memoriam Luitenant-Kolonel WBJA Scheepens Overleden 17 October 1913”. Tanggal yang tertera di situ merupakan tanggal Scheepens meninggal setelah dihamok rencong Teuku Ben Titue.
Perkara penusukan Letnan Kolonel Scheepens itu pun dipicu oleh ketidakpuasan Teuku Ben Titue. Uleebalang itu kecewa terhadap hasil musyawarah penyelesaian sengketa antara anaknya dengan anak masyarakat biasa.
Anak Teuku Ben Titue diketahui melakukan pelecehan terhadap seorang penduduk. Ada yang mengatakan ia mengangu anak gadis orang, sehingga abang si gadis kemudian memukul anak sang Uleebalang. Teuku Ben Titue kemudian melaporkan peristiwa penyerangan terhadap putranya itu kepada Letnan Kolonel Scheepens selaku penguasa sipil dan militer Belanda di Pidie.
Baca Juga: Politik Ulama Aceh di Mekkah
Letnan Kolonel Scheepens pada 10 Oktober 1913 menggelar musyawarah untuk menyelesaikan sengketa itu. Pihak Teuku Ben Titue dan anaknya serta orang tua dan pemuda yang melakukan pemukulan terhadap anak uleebalang itu dihadirkan, musyawarah itu juga disaksikan oleh masyarakat setempat.
Setelah mengetahui duduk persoalannya, Letnan Kolonel Scheepens memutuskan hukuman tiga bulan penjara terhadap pelaku pemukulan anak Uleebalang tersebut. Tapi, Teuku Ben Titue tidak terima, hukuman itu dianggap terlalu ringan, dan mencoreng wibawanya sebagai seorang Uleebalang. Karena marah terhadap putusan itu, ia mencabut rencong di pinggangnya kemudian menusuk tubuh Scheepens.
Letnan Kolonel Scheepens yang berlumuran darah dibawa lari ke rumah sakit di Sigli, di hadapan istrinya ia mencoba untuk tetap tenang, seolah lukanya tidak parah. Sementara ke Kutaraja (Banda Aceh) dikirim kabar untuk segera mengirim dokter bedah ke Sigli. Tapi nyawa Scheepens tak dapat diselamatkan. Jenazahnya kemudian dibawa ke Banda Aceh dan dikuburkan di Peutjut Kerkhof.[]





