Senin, Juli 22, 2024

Tokoh Masyarakat Kota Sigli...

SIGLI - Para tokoh masyarakat dari 15 gampong dalam Kecamatan Kota Sigli menyatakan...

Tim Polres Aceh Utara...

LHOKSUKON – Kapolres Aceh Utara AKBP Nanang Indra Bakti, S.H., S.I.K., bersama jajarannya...

Pasar Malam di Tanah...

SIGLI - Kegiatan hiburan Pasar Malam yang digelar di tanah wakaf Tgk. Dianjong,...

Tutup Dashat, Kepala DPMPPKB...

ACEH UTARA – Kegiatan Dapur Sehat Atasi Stunting (Dashat) yang dilaksanakan secara serentak...
BerandaHeadlineAceh Hari Ini:...

Aceh Hari Ini: Peristiwa Tipu Aceh Gegerkan Belanda

Pada 29 Maret 1896, Teuku Umar dan pengikutnya kembali memperkuat barisan perjuangan rakyat Aceh. Ia membawa lari semua senjata, amunis dan dana yang diberikan Belanda kepadanya.

Orang-orang yang sebelumnya mencaci Teuku Umar karena menyerah kepada Belanda, balik memujinya karena mampu membawa lari ratusan pucuk senjata Belanda dan puluhan ribu butir pelurunya. Menyerah pura-pura Teuku Umar kepada Belanda itu dikenal sepanjang masa sebagai “Tipu Aceh” paling fenomenal sepanjang zaman.

Membelotnya Teuku Umar itu membuat geger Belanda. Komisaris Pemerintah Belanda di Aceh, Letnan Jenderal Vetter sangat terpukul dengan peristiwa itu, hingga kemudian mengeluarkan maklumat perang terhadap Teuku Umar. Maklumat itu berbunyi:

…menyatakan perang kepada Teuku Umar, bukan kepada Aceh; serta mencabut kepangkatan yang telah diberikan kepada Teuku Umar sebagai Panglima Perang Besar; serta pencabutan gelar kebesaran “Johan Pahlawan”. Memberhentikan Teuku Umar sebagai Uleebalang Leupeung dan menuntut pengembalian senjata-senjata Belanda dan peluru-peluru yang telah diberikannya.”

Baca Juga: Pasukan Aceh Dikirim ke Perang Front Medan Area.

Akibat peristiwa itu, rumah kediaman Teuku Umar yang dibangun Belanda di Lampisang dibakar dan diledakkan oleh Belanda. Gubernur Militer Hindia Belanda di Aceh, Jenderal Deijckerhoff dipecat dari jabatannya dan digantikan oleh Jendral Van Heutsz.

Kejadian itu menjadi pukulan telak bagi Belanda. Teuku Umar pun menjadi target nomor wahid untuk dibunuh. Pasukan marsose yang sebelumnya ditempatkan pada benteng-benteng terpusat pun dikerahkan ke rimba-rimba Aceh untuk mencari gerilyawan Teuku Umar. Karena itu pula marsose kemudian menjadi sangat beringas dan liar. Bukan hanya para gerilyawan Aceh yang menjadi sasaran, masyarakat biasa pun kerap menjadi korban karena menolak memberitahu keberadaan Teuku Umar.

Keberingasan Belanda itu dipicu karena Belanda pernah sangat percaya pada Teuku Umar. Malah kepadanya pemerintah kolonial tersebut memberi gelar Johan Pahlawan dalam suatu upacara resmi di Kutaraja pada 30 September 1893.

Bukan itu saja, Belanda juga melengkapi pasukan Teuku Umar dengan senjata lengkap dengan peluru serta beberapa fasilitas kepada Teuku Umar diantaranya 380 senapan kokang moderen, 800 senapan jenis lama, 250.000 butir peluru, 500 kilogram mesiu, 120.000 sumbu mesiu, dan lima ton timah untuk mengisi sendiri persediaan mesiu. Ia juga diberikan candu dan uang sebanyak 18.000 ringgit Spanyol.

Perang terus berkecamuk, pasukan marsose di bawah pimpinan Jendral van Huetz didatangkan langsung dari Batavia untuk menyerang kelompok Teuku Umar. Kepada Van Huetz Gubernur Militer Hindia Belanda memerintahkan untuk menangkap Teuku Umar hidup atau mati.

Baca Juga: Belanda Memproklamirkan Perang Terhadap Aceh.

Pada tahun 1899, Belanda melalui seorang cuak (mata-mata) berhasil mengetahui keberadaan Teuku Umar dan pasukannya. Ia pun dihadang saat pulang dari Pidie menuju Meulaboh, Aceh Barat melalui pegunungan. Pasukan Belanda yang sudah siaga pun menembaknya dalam perang terbuka ketika kelompok Teuku Umar sampai pada sebuah pantai. Dua peluru bersarang di tubuh Teuku Umar.

Pahlawan nasional kelahiran 1854 itu pun roboh. Ia segera dibawa lari oleh Pang Laot, salah seorang panglima perang dalam kelompok gerilyawan Teuku Umar. Dalam keadaan kritis Teuku Umar berkata kepada Pang Laot dan pasukannya. “Beungoh singoh geutanyoe tajep kupi bak keude Meulaboh atawa ulon akan syahid—besok pagi kita minum kopi di Kedai Meulaboh atau saya akan syahid.”

Ternyata janji minum kopi bareng itu tidak terwujud, Teuku Umar tewas. Meski sudah meninggal, jenazah Teuku Umar disembunyikan oleh pasukannya. Mula-mula dibawa ke daerah Calang, kemudian ke Batu Putih hingga ke daerah Arongan. Baru setelah Belanda tidak lagi mengejar, jenazah Teuku Umar dimakamkan di Desa Meugoe Rayeuk, Kecamatan Kaway XVI, Kabupaten Aceh Barat.[]

Baca juga: