Adat Peuturi Linto Baro dan Khanduri Peutamat Daroh di Gampong Lamteumen Timur
Oleh: Muhammad Yusuf Bombang (Apa Kaoy)
Seniman dan Budayawan Aceh

Khanduri Peutamat Daroh

Purnama penuh di langit biru Ibukota Aceh memantulkan cahaya terang-benderang, menandakan bulan Ramadan 1443 H telah memasuki angka ke 16. Kebahagian tampak terpancar hampir di setiap wajah warga Gampong Lamteumen Timur, Kecamatan Jaya Baru, Kota Banda Aceh.

Pada malam 16 Ramadan itu, 4 ekor lembu dan 35 buah beulagong raya (belanga besar) telah dipersiapkan di halaman balee manyang, depan Masjid Baburrahmah yang berdiri megah. Warga Gampong yang terdiri dari 5 dusun itu tengah bergotong-royong mempersiapkan dan memasak kuwah beulangong untuk khanduri pada esok sorenya, saat berbuka puasa. Kegiatan rutin tahunan tersebut dilaksanakan dalam rangka menyambut dan menyemarakkan malam 17 Ramadhan atau Nuzulul Quran sekaligus juga sebagai khanduri Malam Peutamat Daroh (khatam Alquran).

Untuk pembiayaan dan segala kebutuhan acara khanduri tersebut dananya berasal dari hasil meuripee (sumbangan warga dan donator dari para tokoh gampong) serta dari dana kas gampong. Selain meuripee dana sebesar Rp. 100.000,- (seratus ribu rupiah) per kepala keluarga (KK), tidak termasuk bagi warga kurang mampu, untuk kebutuhan kuah beulangong, para warga yang ada kemudahan rezeki untuk khaduri juga mengantar paket hidangan ke masjid.

Selain itu, tidak sedikit pula warga yang mengadakan khanduri di rumahnya masing-masing dengan mengundang saudara serta kerabatnyan dari luar gampong. Sementara untuk khanduri di masjid, selain warga gampong itu sendiri, juga turut diundang warga dan tokoh masyarakat dari gampong tetangganya.

Daging lembu yang telah dimasak sebagai galai kuah beulangong tersebut, selain untuk khanduri di masjid, juga dibagikan kepada setiap rumah warga yang ikut meuripee (menyumbang, patungan) dan kepada setiap keluarga miskin, keluarga janda dan anak yatim.

Salah seorang tokoh masyarakat, Herman AW, mengungkapkan, Khanduri Peutamat Daroh sudah menjadi tradisi turun-temurun di Gampong Lamteumen Timur.

“Kalau dilihat dari tahun ke tahun, sejak dari masa kanak-kanak saya hingga sekarang. Alhamdulillah, tahun ini juga terlihat adanya peningkatan kualitas dari kegiatannya. Baik itu dari mulai pembetukan Panitia dan pembagian tugasnya masing-masing terlihat makin terarah. Begitu pula dari segi antusias masyarakat untuk ikut meuripee dana dan juga dalam hal khanduri paket hidangan dari warga ke masjid, itupun tampak adanya peningkatan dari tahun-tahun sebelumnya,” katanya.

Namun, menurutnya, ada satu hal yang ingin dia sarankan, jika memungkinkan ke depannya nanti, baik itu acara khanduri maulid, khanduri peutamat daroh atau apapun bentuk khanduri gampong lainnya, panitia penyambut tamu benar-benar dipersiapkan lebih matang lagi.

“Tujuannya, agar para tamu yang kita undang dapat terlayani dengan rapi, bijak, dan bersahaja, mulai dari saat mereka tiba di lokasi khanduri sampai dengan mereka ingin pamit pulang,” tambah Herman AW, putra dari Tgk. Abdul Wahab, mantan Geuchik Lamteumen Timur periode sebelum hingga saat bencana tsunami melanda Aceh tahun 2004 itu.

Sementara Dedy Syahputra, Kepala Dusun Cempaka, juga membenarkan dan sepakat dengan saran juga pendapat yang disampaikan Herman AW.

“Saya sepakat dengan itu,” kata Dedy yang pada acara tersebut mengoordinir pantia bidang dapur, yang bertugas menyiapkan dan memasak kuah beulangong. Ada 35 buah beulangong dengan 35 orang juru masak dikoordinirnya.

Menanggapi hal tersebut Geuchik Lamteumen Timur, Riazil, S.Sos, mengakui bahwa kegiatan khanduri peutamat daroh kali ini meski adanya tambahan nilai plus dari tahun-tahun sebelumnya. Namun, kata dia, untuk ke depannya masih perlu dievaluasi agar lebih baik lagi.

“Semua kita memang menginginkan jauh lebih baik. Tadisi warisan orang tua kita terdahulu akan terus kita rawat dan kita kembangkan sesuai dengan keadaan dan sesuai pula dengan nilai-nilai ke-Aceh-an yang islami,” kata Geuchik Riazil, yang baru beberapa bulan terpilih sebagai Pemimpin Gampong Lamteumen Timur.

Adat Peuturi Linto

Dari arah Kota Banda Aceh, lebih-kurang 300 meter melewati simpang tiga, jalan Teuku Umar, memasuki gapura utama Gampong Lamteumen Timur, tepatnya di jalan Tgk. H. Abu Bakar, dusun Cempaka, berdiri megah Masjid Baburrahmah.

Masjid Gampong yang mulai dibangun kembali sejak beberapa tahun setelah tsunami Aceh pada 2004 silam itu diperkirakan baru rampung pembangunannya sekira 70 %. Pada malam 18 Ramadan, seusai shalat tarawih, di dalam masjid yang berlantai granit itu masih ramai warga gampong, geuchik, imam masjid, beberapa orang tokoh masyarakat, kepada dusun, para pemuda dan remaja masjid.

Di tengah-tengah mereka semua, didudukkanlah secara berderet rapi 5 orang linto baro dengan dalong kue dan bungkusan paket sirup serta rokok yang terhias indah di hadapannya masing-masing.

Para linto tersebut adalah mereka yang menikahi wanita Gampong Lamteumen Timur sejak setelah lebaran puasa tahun lalu. Begitulah tradisi yang berlaku di Gampong Lamteumen Timur, para linto baro (pengatin baru pria) akan diperkenalkan secara adat di masjid setiap selesai acara khanduri peutamat daroh. Hadir juga dalam acara peuturi linto (memperkenalkan pengantin laki-laki) tersebut keluarga laki-laki dari pihak linto dan pihak dara baro (pengantin baru wanita).

Setelah selesai menyampaikan muqadimah pembuka, pembaca acara mempersilakan linto baro satu per satu untuk berdiri memperkenalkan diri. Dilanjutkan secara satu per satu pula orangtua laki-laki pihak linto Baro atau keluarga yang mewakilinya menyerahkan secara simbolis putranya tersebut kepada keuchik, disaksikan oleh orangtua laki-laki pihak daro paro atau keluarga yang mewakilinya, oleh imam masjid, dan tokoh adat.

Setelah itu selesai, pembawa acara mempersilakan Bapak Keuchik untuk menyampaikan kata sambutan dan arahan. Acara dilanjutkan dengan menyampaikan nasihat atau haba peutuah oleh tokoh adat, kemudian pembacaan doa oleh Tgk Imum Masjid.

Selesai doa, pembawa acara mempersilakan semua hadirin berdiri. Saat selawat bersama dilantunkan (dipimpim oleh teungku), para linto baro diarahkan oleh pembawa acara untuk berkeliling, menyalami satu per satu para hadirin yang hadir dalam acara tersebut.

Selesai para linto baro menyalami semua hadirin, pembawa acara mempersilakan salah seorang tetua adat untuk menyampaikan kata-kata nasihat dan peutuah kepada para linto baro. Tgk Mukhsin Z, yang akrab disapa dengan nama Lem Mukhsin, menyampaikan dalam pidatonya agar para linto baro bergaul dengan masyarakat lainnya di Gampong Lamteumen Timur.

“Anak-anak kami sekalian, para linto baro, kalian sekarang sudah bahagian dari keluarga besar warga Gampong Lamteumen Timur. Bagi kita di gampong ini, tidak ada istilah asoe lhok (penduduk asli) dan ureueng tamong (pendatang). Kepada siapapun yang baru memilih tinggal di gampong ini hanya boleh disebut sebagai warga baru. Sebagai warga baru, bagi anak-anak kami sekalian para linto baro, agar kalian tidak merasa asing dalam masyarakat membaurlah dengan siapapun, saling tegur sapa satu sama lainnya. Hadirlah ke masjid untuk salat berjamaah, ikutlah bergotoyong-royong kalau ada kegiatan gotong-royong di gampong ini. Kalau salah satu warga atau keluarganya yang musibah, kita harus saling kunjung dan saling bantu. Begitu pula kalua ada khanduri udep dan khanduri mate, kita sebagai warga harus saling bantu-membantu,” kata Lem Mukhsin yang atas nama tokoh adat pada malam itu.

Sementara Tgk. Mulyadi, selaku Imam Masjid Baburahmah Gampong Lamteumen, kepada penulis menyampaikan saat mewanwancarainya, “Mengenai adat peuturi linto di Gampong Teumen Timur ini sudah ada sejak lama. Kita sepakat tetap memeliharanya, termasuk semua adat-budaya Aceh lainnya sepakat untuk kita pertahankan dan kembangkan di Gampong Ini, sepanjang adat-budaya tersebut tidak bertentangan dengan syariat Islam”.

Geuchik Lamteumen Timur, Riazil S.Sos, juga sependapat dengan Tgk Mulyadi dalam mempertahahankan adat-budaya Aceh.

“Kita bahkan sudah terpublikasi secara luas di berbagai media massa bahwa Gampong Lamteumen Timur ini sebagai Gampong percontohan Budaya Kota Banda Aceh. Keteguhan tekad itu telah kita awali dengan upacara Adat Peusijuek Geuchik beberapa bulan lalu. Secara perlahan kita terus pertahankan, kembangkan dan sempurnakan dengan dukungan dan Kerjasama yang baik dari semua pihak,” jelas Riazil yang sebelum menjadi keuchik pernah hampir dua periode menjabat sebagai Kepala Dusun Teratai Gampong Lamteumen Timur.

Banda Aceh, 21 April 2022.[]