Oleh: Reza Fahlevi

ACEH TENGAH, selain terkenal karena Laut Tawarnya, juga merupakan daerah penghasil komoditas kopi yang kini mendunia.

Dengan predikat itu, di dataran tinggi ini amat memungkinkan dikembangkan wisata agro, yakni aktivitas wisata yang melibatkan penggunaan lahan pertanian atau fasilitas terkait yang menjadi daya tarik bagi wisatawan.

Komoditas unggulan kopi Arabika Gayo, misalnya, dapat menjadi salah satu destinasi wisata unggulan dalam mewujudkan Aceh sebagai tujuan wisata halal tentunya.

Wisata agro pastinya makin menyenangkan bila disertai dengan berkeliling dan menikmati pemandangan di kebun kopi, memetik buah cherry kopi, dan berbincang-bincang dengan petani kopi. Saya pikir ini menjadi hal yang berbeda, dan tentu akan sangat menarik jika sekaligus dapat langsung menyeruput kopi Arabika di kebunnya.

Wah, wah, pastinya hidung dan mulut ini makin “candu” menghirup aroma wangi kopi serta hangatnya minum kopi Arabika Gayo.

***

Seorang pria berambut gondrong ala Kaka Slank datang menghampiri, memperkenalkan dirinya dengan menyebut nama, “Gembel”.

Dengan salam pembuka dan senyum simpel ala penyanyi rock 'n' roll, perkenalan kami pun dimulai.

Diskusi ringan seputar kopi serta potensi agrowisata kopi di Bener Meriah menjadi obrolan perdana kami dan ini semakin menarik bagi saya yang juga penyuka kopi.

Tak lama berselang, seorang pria muda yang terlihat smart datang menghampiri. Dialah Kadis Pariwisata Bener Meriah, Pak Haili Yoga. Beliau pun kemudian langsung mengajak saya dan rombongan panitia workshop menuju Kabupaten Bener Meriah.

Luas wilayah Kabupaten Bener Meriah adalah 1.454,04 mm. Kabupaten ini tergolong kabupaten baru di Provinsi Aceh, pemekaran dari kabupaten induknya, yaitu Aceh Tengah pada 2004.

Kabupaten ini juga dikenal sebagai tempat tinggal orang tua angkat Presiden Jokowi. Masa muda Bapak Presiden RI ke-7 tersebut pernah dihabiskan di kawasan ini.

Ibu kota kabupaten ini berada di Simpang Tiga Redelong, dengan topografi wilayahnya berbukit-bukit, suhu udara 26 derajat celsius. Jumlah penduduk per 31 Desember 2015 adalah 115.815 jiwa, di mana 75% penduduknya adalah petani kopi. Itulah paparan singkat Pak Haili Yoga kepada kami terkait profil wilayah kabupaten yang akan kami tuju.

Ada sekitar 6 unit kendaraan menuju Bener Meriah. Perjalanan ini dipimpin sahabat baru saya “Gembel”, nama di KTP, “Sadikin,” begitu katanya.

Isyarat lampu sein kanan mobil double cabin miliknya mengarahkan kami agar berbelok ke sisi kanan, jika perjalanan dari Takengon-Bener Meriah, setelah melewati jembatan besi Rembele, Kabupaten Bener Meriah.

Udara sejuk nan asri, hamparan kebun kopi di sisi kiri dan kanan, serta hijaunya daun kopi membuat mata ini semakin dimanjakan.

Kami lantas berhenti di dekat plang berdiameter 2 x 1 yang bertuliskan “Ngopi di Kebun Kopi Seladang”. Tampaknya ini lokasi tujuan Pak Haili Yoga mengajak kami ke Bener Meriah wilayah kerja beliau.

Untuk menuju lokasi kebun kopi Seladang yang terletak di pinggir jalan besar Aceh Tengah-Bener Meriah bisa menggunakan kendaraan pribadi atau kendaraan umum seperti minibus L300.

Jarak tempuh ke lokasi ini, jika dari Kantor Bupati Aceh Tengah, diperkirakan sekitar 30 km, dengan waktu tempuh lebih kurang 25 menit jika menggunakan kendaraan pribadi.

Untuk mencapai ke tempat ini tidaklah begitu sulit. Saya yakin semua pengemudi kendaraan umum yang melintasi rute ini pasti tahu jika disebut kebun Seladang.

Sapaan salam pembuka, sambutan salam, dan senyuman manis sepasang muda-mudi menjadi pembuka kedatangan kami di kebun kopi Seladang ini.

Keramahan, senyum persahabatan, dan sifat melayani tamu menjadi kesan pertama kami setiba di lokasi ini.

Luas area kebun kopi ini lebih kurang 5 hektare, dengan umur kopi berkisar 3 sampai 5 tahun.  Tak hanya luas, lingkungan perkebunan juga terlihat bersih.

Jalan setapak dan halaman parkir yang luas menjadi fasilitas yang memadai, ditambah fasilitas toilet dengan suara musik yang membuat tempat ini sangat berbeda dari daerah-daerah lain yang pernah saya kunjungi.

Tak hanya itu, perkebunan ini memiliki rumah singgah dengan warung kopinya. Inilah nuansa yang berbeda dan tentunya tidak saya dapatkan pada kebun-kebun kopi lain yang pernah saya kunjungi.

Menu Kopi Gayo

Ala Eropa dan penyajian kopi lainnya yang serba alami, mulai menjadikan tempat ini semakin berbeda. Ruangan tempat minum kopi dengan fasilitas pendukung penghangat kayu bakar juga tersedia di sini.

Meja kayu olahan akar pepohonan tua menjadi alas tempat sajian kopi. Terkesan eksotis dan sangat alami. Inilah surga ngopi di Bener Meriah.

Sebuah informasi kejutan kembali saya dapat dari Pak Haili, bahwa pemilik kebun dan warung kopi ini adalah sahabat kita, “Gembel”. Sungguh sebuah kejutan yang membuat saya semakin betah ngopi di tempat ini.

Tentunya kekaguman pada Gembel tidaklah berhenti sampai pada kebun kopi, fasilitas, serta rasa kopinya. Semangatnya sebagai seorang entrepreneur sejati dari Bener Meriah ini semakin membuat saya kagum akan tanah Gayo ini.

Tampang boleh ala rock 'n' roll, rambut gondrong sebahu, cuek, serta berpakaian apa adanya. Namun, semangat entrepreneur-nya yang membara patut diacungkan jempol. Dua jari jempol untuk “Gembel”.

Terus berkarya, terus mengembangkan potensi agrowisata kopi di Bener Meriah.[]

*Penulis adalah Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Aceh