BerandaAlquranAl-Quran dan Perintah Puasa Ramadan

Al-Quran dan Perintah Puasa Ramadan

Populer

Oleh: Muhammad Syahrial Razali Ibrahim, M.A., Ph.D.,
Fakultas Syariah IAIN Lhokseumawe

Dalam sebuah hadis Aisyah bercerita bahwa nabi dulunya berpuasa pada tanggal 10 Muharram yang dikenal dengan hari ‘Asyura. Itu adalah hari puasanya orang Quraisy pada zaman jahiliyah. Ketika nanti sampai di Madinah nabi tetap berpuasa pada hari tersebut dan memerintahkan sahabat-sahabatnya untuk berpuasa. Terkait hal ini Ibnu ‘Abbas bercerita, bahwa saat nabi berada di Madinah beliau mendapati orang-orang Yahudi berpuasa pada hari tersebut (10 Muharram), orang-orangpun bertanya tentang puasa mereka pada hari itu. Mereka menjawab, bahwa itu adalah hari di mana Allah menyelamatkan nabi-Nya Musa dan Bani Israil dari (kejaran) Fir’aun. “Kami” berpuasa untuk mengagungkannya, kata orang Yahudi. Lalu nabi bersabda, “kami lebih pantas ke atas (memuliakan) Musa daripada kalian”. Kemudian beliau memerintahkan kaum muslimin untuk berpuasa pada hari tersebut. Namun kewajiban puasa ini dibatalkan (dinasakh) saat fardhu Ramadan turun. Bagi yang ingin puasa silakan puasa, bagi yang tidak tak ada paksaan ke atasnya, (HR: Bukhari Muslim).

Puasa Ramadan sendiri mulai difardhukan pada bulan Sya’ban tahun dua Hijriah, atau pada tahun kedua keberadaan nabi di Madinah. Puasa yang disyariatkan pada saat itu ternyata berbeda dengan yang dilaksanakan umat Islam hari ini. Pada mulanya kewajiban puasa Ramadan bersifat pilihan (takhyir). Bagi yang tidak ingin puasa, ia boleh menggantikannya dengan membayar fidyah. Hal itu didasarkan pada pemahaman atas firman Allah, “Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin”, (al-Baqarah: 184). Demikian disampaikan sahabat nabi Salamah bin Akwa’, (HR: Bukhari dan Muslim). Masih menurut sumber yang sama, syariat ini bertahan hingga turun ayat setelahnya, yaitu firman Allah, “Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu”, (al-Baqarah: 185), (HR: Muslim).

Meskipun sudah berubah dari takhyir menjadi ilzam, saat itu orang-orang masih harus berpuasa siang dan malam. Siapa yang tidur setelah terbenamnya matahari maka ia tak boleh makan seandainya terbangun pada malam itu. Ia harus berpuasa sampai tiba waktu berbuka keesokan harinya, hingga turun firman Allah, “dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan istri-istri kamu”, sampai dengan firman-Nya, “dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam”, (al-Baqarah: 187). Orang-orangpun bergembira dengan turunnya ayat tersebut. Demikian cerita Barra’ bin ‘Azib, (HR: Bukhari).

Hakikat Puasa Ramadan

Salah satu ayat yang menjadi landasan hukum berpuasa Ramadan adalah firman Allah, “hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”, (al-Baqarah: 183). Ayat ini diawali dengan seruan langsung dari Allah Swt. Allah menyeru orang beriman tanpa menggunakan perantara nabi-Nya. Hal itu menjadi kebiasaan al-Quran saat mensyariatkan hukum tertentu, perintah atau larangan. Secara psikologis, panggilan ini akan membuat yang dipanggil merasa dihargai lebih dari yang seharusnya. Harapannya, mereka akan lebih terpanggil dalam melaksanakan apa yang menjadi isi panggilan atau seruan Allah tersebut.

Bukan hanya soal rasa dihargai lebih, tetapi Allah memang memberi penghargaan lebih. Hal itu karena iman yang ada pada mereka, walaupun kadarnya hanya seukuran biji zarrah seperti dijelaskan oleh Abdullah Ibni ‘Abbas. Berbeda dengan panggilan Allah kepada orang-orang kafir yang tidak beriman, Allah menggunakan perantara. Lihatlah firman Allah berikut ini, “katakanlah: “Hai orang-orang yang menganut agama Yahudi, jika kamu mendakwakan bahwa sesungguhnya kamu sajalah kekasih Allah bukan manusia-manusia yang lain, maka harapkanlah kematianmu, jika kamu adalah orang-orang yang benar”, (al-Jumu’ah: 6). Atau firman Allah, “Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu”, (Ali ‘Imran: 64). Atau panggilan Allah kepada orang musyrik, “Katakanlah: “Hai orang-orang kafir, Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah”, (al-Kafirun: 1 – 3). Allah memerintahkan kepada nabi-Nya Muhammad, “katakanlah”. Padahal Allah boleh saja memanggilnya sendiri, tetapi semua itu terhalang oleh kekafiran yang ada pada mereka.

Kewajiban puasa pada ayat ini diungkapkan dengan kalimat “kutiba ‘alaikum” yang secara literal bermakna “dituliskan atas kamu sekalian”. Para ulama menjelaskan, penggunaan kata “kutiba” biasanya dijumpai pada syariat yang berat. Sehingga secara tidak langsung ayat ini memberi isyarat bahwa ibadah puasa merupakan sebuah kewajiban yang berat dan tidak mudah. Hal ini serupa dengan perintah melaksanakan qishas dan syariat perang. Kedua-duanya diperintahkan dengan ungkapan “kutiba ‘alaikum”. Silakan buka al-Quran dan lihat al-Baqarah 178 (syariat qishas) dan al-Baqarah 216 (syariat perang). Bahkan pada syariat perang, Allah menegaskan bahwa itu suatu yang dibenci oleh jiwa manusia. Sama halnya dengan qishas, tidak mudah bagi manusia mengamalkan syariat tersebut.

Ayat lain yang menggunakan pola “kutiba” ada pada perintah berwasiat, yaitu firman Allah Swt, “diwajibkan atas kamu, apabila seorang di antara kamu kedatangan (tanda-tanda) maut, jika ia meninggalkan harta yang banyak, berwasiat untuk ibu-bapak dan karib kerabatnya secara ma’ruf”, (al-Baqarah: 180). Kewajiban pada ayat ini diungkapkan dengan “kutiba ‘alaikum”. Sebagian ulama mengatakan, dua hal yang sangat bernilai bagi manusia, yaitu nyawa dan harta. Itulah mengapa kemudian dalam banyak ayat Allah menyeru orang beriman agar berjihad dengan harta dan nyawanya. Karena berat, maka Allah tidak memunculkan diri-Nya saat menurunkan syarist tersebut. Syariat yang secara lahir terasa berat untuk diemban oleh hamba-Nya. Hal itu sesuai dengan sifat-Nya yang selalu sayang dan pemurah kepada mereka, terutama yang beriman. Allah menyembunyikan diri-Nya dan memilih menggunakan pola kalimat majhul (pasif). Ayat-ayat di atas tidak berbunyi, “Allah mewajibkan ke atas kamu sekalian”, melainkan, “diwajibkan atas kalian”, tanpa menyebutkan secara terang siapa yang mewajibkannya.

Karena berat maka berpotensi untuk dilalaikan dan tidak dilaksanakan. Oleh itu Allah lebih memilih menggunakan “kutiba” daripada “furidha” atau “wujiba” atau kata lainnya. Seperti disindir sebelumnya bahwa kutiba berasal dari kata “kitab” yang artinya “ditulis”. Melalui kata “kutiba” seolah-olah Allah ingin mengabarkan hamba-Nya bahwa perbuatan yang diperintahkan itu ada catatannya. Allah tidak hanya memerintahkan untuk ditunaikan, tetapi perintah itu disertai dengan catatan di sisi-Nya. Sebagian ulama menjelaskan bahwa sesuatu yang harus ditunaikan, jika itu sifatnya tertulis, maka biasanya akan menambah beban psikologis bagi mukallaf untuk memberi perhatian lebih dan berusaha semaksimal mungkin untuk menunaikannya. Persis seperti orang yang berhutang. Jika hutang itu memiliki bukti tertulis pada orang yang memberi hutang, maka yang berhutang tidak akan main-main dalam melunasinya. Ia pasti merasakan keterikatan lebih (ziyadat al-tautsiq) dan akan berupaya lebih, dibandingkan jika hutang itu tidak dicatat oleh yang memberi hutang. Yang berhutang bisa saja mungkir dan mengingkari hutangnya. Itulah barangkali mengapa jika berhutang kita diperintahkan untuk mencatatnya. Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu’amalah tidak secara tunai (hutang piutang) untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya”, (al-Baqarah: 282).

Faktanya, bukankah semua kewajiban agama ini adalah hutang yang harus dilunasi dan ditunaikan oleh mukallaf kepada Allah Swt. Dalam sebuah hadis diceritakan, bahwa seorang perempuan mendatangi nabi dan bercerita kepadanya, “wahai Rasulullah, sesungguhnya ibuku telah wafat, dan ia meninggalkan puasa Ramadan, apakah boleh bagiku berpuasa untuknya?”. Lalu nabi bersabda, “apa pendapatmu jikalau ibumu meninggalkan hutang, bukankah engkau yang akan melunasinya?, maka hutang Allah lebih pantas untuk dilunasi”, (HR: Bukhari).

Bukti puasa merupakan ibadah yang berat salah satunya adalah penegasan dari Allah bahwa ibadah ini sebenarnya sudah pernah diperintahkan kepada umat-umat terdahulu. Bahkan kata Ibnu Jarir, ungkapan “kama kutiba” menunjukkan keserupaan dan kesesuaian. Artinya ibadah puasa umat Islam hari ini persis sama dengan syariat puasa umat sebelumnya. Allah ingin menyampaikan sesungguhnya syariat puasa ini bukan hanya dirasakan oleh umat Muhammad, tetapi juga pernah dirasakan oleh umat-umat sebelumnya. Sesuatu jika dirasakan oleh banyak orang akan terasa ringan meskipun pada dasarnya berat. Ulama mengatakan, iza ‘ammat hanat. Artinya sesuatu yang sudah umum, banyak orang mengalaminya, maka akan menjadi ringan. Begitulah cara al-Quran membujuk umat ini supaya tegar dalam menjalani dan mengamalkan syariat Islam. Al-Quran mengisahkan ragam cerita tentang bagaimana tantangan yang dihadapi oleh nabi-nabi terdahulu, agar umat Islam merasa ringan dan kuat dalam menjalankan agama, serta tidak mudah berputus asa.

Mengisahkan puasa sebagai ibadah umat terdahulu bukan saja memberi rasa ringan kepada umat Muhammad, tetapi juga menegaskan bahwa puasa adalah ibadah besar. Buktinya ibadah ini tidak hanya diwajibkan kepada umat Muhammad, tetapi sejak lama telah menjadi kewajiban para nabi dan rasul serta umat-umat terdahulu. Mirip-mirip dengan ibadah shalat dan zakat yang telah ada dan diwajibkan kepada umat-umat sebelumnya. Ibadah-ibadah ini tak ada yang di-nasakh (dibatalkan) walaupun berganti nabi dan syriat, sehingga menjadi pondasi Islam sejak dari syariat nabi-nabi terdahulu.

Bukti lain bahwa puasa adalah ibadah yang berat munculnnya ragam keringanan dalam menjalaninya. Seperti boleh tidak berpuasa bagi yang sakit dan musafir misalnya. Atau orang tua yang sudah lanjut usia. Bahkan secara umum bagi siapa saja yang merasa kesulitan dan kepayahan dalam menjalankan puasa dibolehkan baginya untuk menggantikannya pada waktu yang lain, apapun bentuk ke’uzurannya, atau gugur samasekali dengan cara membayar fidyah. Sekali lagi, untuk membujuk hati orang beriman agar tidak khawatir dengan ibadah ini al-Quran menegaskan, “Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu”, (al-Baqarah: 185).

Ibadah Berat Tetapi Ringan

Namun bagaimanapun beratnya puasa, dan ibadah-ibadah lainnya, tetap akan terasa ringan, jika orang-orang melakukannya dengan hati dan tidak mengandalkan fisik badannya. Inilah rahasia, mengapa sejak dari awal Allah menyeru orang beriman. Karena sejatinya, agama ini meskipun secara lahiriah dikerjakan oleh fisik manusia, sumber kekuatannya adalah hati, yaitu iman. Iman menjadi kunci dan modal utama bagi seseorang dalam menjalankan perintah dan larangan Allah. Contoh lain misalnya shalat, Allah berfirman, “dan sesungguhnya shalat itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’”, (al-Baqarah: 45). Ringan bagi yang khusyu’, dan berat buat yang mengandalkan fisik semata. Tentang siapa orang khusyu’, Allah kembali menjelaskan, “(yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya”, (al-Baqarah: 46). Inilah makna iman, yaitu yakin kepada Allah dan balasan-Nya. Bukankah dalam sebuah hadis nabi bersabda, “barang siapa berpuasa dengan penuh keimanan dan mengharapkan balasan, maka ia akan diampunkan dosanya yang telah lalu”, (HR: Bukhari).

Puasa Ramadan, meskipun berat tetap akan menjadi ringan mengingat balasannya yang luar biasa besarnya. Memang berat, tetapi karena ganjarannya yang besar, menjadikan puasa itu terasa ringan. Dan balasannya tak tanggung-tanggung, yaitu takwa. Bukankah takwa adalah tujuan dan capaian akhir dari perjalanan spritual seorang mukmin. Bukankah dengan takwa seseorang akan mendapatkan segala-galanya. Perhatikan beberapa ayat berikut ini, “Hai orang-orang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, Kami akan memberikan kepadamu Furqaan. Dan kami akan jauhkan dirimu dari kesalahan-kesalahanmu, dan mengampuni (dosa-dosa)mu. Dan Allah mempunyai karunia yang besar”, (al-Anfal: 29). Takwa adalah jalan mudah memahami agama ini, sekaligus pengampun atas dosa yang dilakukan. Dalam ayat lain Allah berfirman, “Dan bertakwalah kepada Allah; Allah mengajarmu”, (al-Baqarah: 282). Di lain tempat Allah menegaskan bahwa takwa merupakan syarat diterimanya amalan, yang tanpanya, sebanyak apapun amalan akan sia-sia. Allah berfirman, “sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa”, (al-Maidah: 27). Pada ayat lain Allah mengatakan bahwa takwa adalah solusi dan pintu rezeki, “barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar, dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya”, (al-Talaq: 2 – 3). Bukan hanya membawa rezeki, takwa juga menjadi sumber keberkahan. Allah berfirman, “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi”, (al-A’raf: 96). Begitu pula takwa adalah lambang kemuliaan. Makin takwa seseorag semakin mulia kedudukannya di sisi Allah Swt. Allah berfirman, “sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu”, (al-Hujurat: 13).

Besarnya balasan bagi orang berpuasa juga disebutkan dalam sebuah hadis qudsi, “setiap amal anak Adam untuknya, kecuali puasa, itu untuk-Ku (kata Allah), dan Aku yang akan membalasnya. Ia tidak meninggalkan makan minumnya kecuali karena Aku. Setiap amalan dibalas dari sepuluh hingga tujuh ratus, kecuali puasa, ibadah itu untuk-Ku, dan Aku yang akan membalasnya”, (HR: Bukhari). Abu Bakar al-Qurtubi mengatakan, firman Allah, “Aku yang membalasnya” menunjukkan bahwa jika amalan lain terbatas hingga tujuh ratus, maka balasan ibadah puasa tanpa batas. Allah berfirman, “sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas”, (al-Zumar: 10). Puasa Ramadan seluruhnya sabar dan pelajaran kesabaran, dan nabi menamakannya dengan bulan sabar. Dalam sebuah hadis beliau bersabda, “berpuasalah pada bulan sabar dan tiga hari setiap bulan”, (HR: Nasa’i). Wallahua’lam.[]

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita terkait

Berita lainya