BARU-baru ini termasyhurlah (telah populer) kata “cebong” atau “kecebong”. Kecebong, apalagi cebong, tidak ada dalam perbendaharaan kataku. Aku hanya tahu “aneuk abiek-abiek“.
Kami di Paloh Dayah, Kecamatan Muara Dua, Kabupaten Aceh Utara (Sekarang, Paloh Dayah, Kecamatan Muara Satu, Kota Lhokseumawe), punya aneuk abiek-abiek.
Mereka hidup di dalam rawa, sawah, dan parit. Kami, anak-anak Paloh Dayah, saat itu aku usia sekolah Madrasah Ibtidaiyah.
Aneuk abiek-abiek, terlalu lemah dan dipandang tidak ada gunanya. Ia berasal dari katak atau kodok, lalu menjadi telur, menjadi aneuk abiek-abiek dengan ada ekor, menjadi katak muda masih ada ekor, lalu menjadi katak dewasa tanpa ekor.
Telur katak itu berkarang-karang, seperti telur ikan, dan mengapung di air. Begitu telur katak itu menetas, jadilah mereka sebagai anak katak alias aneuk abiek-abiek.
Sebagaimana berkarang-karang saat masih menjadi telur, maka aneuk abiek-abiek yang telah menetas pun berkawan-kawanan. Ke mana pun pergi, mereka berkawanan. Tetapi mereka hanya aneuk abiek-abiek, tidak memiliki kekuatan apapun. Apabila datang ikan gabus (eungket bace), maka ditelanlah semua aneuk abiek-abiek, satu kawanan. Itu pun tidak akan mengenyangkan satu ekor ikan gabus dewasa.
Dan, tidak seperti katak dewasa yang memiliki insting menyelamatkan diri, aneuk abiek-abiek tidak tahu apa-apa tentang bahaya, dan mereka sering menjadi makanan pemangsa (predator) air, bahkan predator kecil sekalipun dapat memakan mereka.
Saat usia madrasah itu, sepulang sekolah atau pada waktu bermain, kalau tidak membuat perangkap untuk burung, main kandang, main guli, dan sebagainya, maka kami menangkap ikan. Atau setidaknya, kami menangkap aneuk abiek-abiek, untuk mainan. Aneuk abiek-abiek itu kami masukkan ke dalam plastik atau botol, atau sekedar ke dalam tempurung atau batok kelapa yang sudah diisi air. Untuk apa? Tidak ada.
Bagi kami, aneuk abiek-abiek itu tidak ada gunanya, dimakan tidak bisa, dijadikan umpan kail juga tidak bisa, dikasih makan ayam juga tidak mengenyangkan mereka. Jadi, aneuk abiek-abiek itu hanya untuk kami lihat sebentar karena mereka punya ekor seperti ikan. Lalu mereka dilemparkan ke parit berair atau paya (rawa) lagi.
Selain aneuk abiek-abiek, kami juga pernah menangkap bileh balee. Itu sejenis ikan teri air tawar, di sawah atau parit atau rawa-rawa, tidak bisa dimakan. Tidak aad yang memakan bileh balee.
Kembali pada masyhurnya aneuk abiek-abiek alias cebong kecebong baru-baru ini, aku tidak tahu apa maksud mereka. Akan tetapi, menjadikan aneuk abiek-abiek sebagai metafora, dalam budaya kami, itu adalah yang yangmenggelikan. Tidak ada satupun yang dapat disamakan dengan aneuk abiek-abiek, itu adalah binatang paling lemah.
Oleh karena itu, tidak ada metafora aneuk abiek-abiek atau kecubung atau cebong dalam budaya Aceh. Dalam perang GAM-RI tahap akhir (1999-2000-an), metafora yang dipakai untuk anggota kecil adalah aneuk udeueng (anak udang). Ditamsilkan sebagai binatang yang bisa dimakan, ada artinya. Tetapi aneuk abiek-abiek? Itu bukan sekedar metafora, tetapi olok-olokan alias sindiran kasar alias penghinaan.
Bagi rekan Aceh yang punya pengalaman menangkap aneuk abiek-abiek, ingat waktu tadrop (menangkap) aneuk abiek-abiek, pasoe lam kaca, pasoe lam bruek (memasukkan ke dalam botol, ke dalam tempurung).[]





