“Pada tahun 2000-an itu, saya ke Amerika dibawa oleh Dubes (Duta Besar) Amerika  untuk acara pertemuan para aktivis dunia, usai acara tersebut saya berbagi cerita, bertukar pikiran, berdiskusi dengan orang-orang yang ada di acara itu,” terang Tu yangmana di waktu dia diundang selaku ketua Rabithah Taliban Aceh.

Tgk. H. Tu Bulqaini Tanjungan atawa yang lebih akrab disapa dengan panggilan, Tu, atawa Tu Bulqaini, dia kini diamanahkan sebagai ketua umum Partai Adil Sejahtera (MPP-PAS) Aceh.

Tanjungan, Samalanga adalah desa asalnya. Salah satu kampung yang kini sudah termasuk ke dalam kabupaten Bireuen setelah adanya pemekaran di Aceh Utara. Sebelumnya Samalanga merupakan bagian daripada wilayah utara Aceh itu.

Partai yang akan mengadakan Tasyakkur Akbar di kuburan Sultan Malikussaleh, Geuredong Pasee, Aceh Utara, pada 22 Februari 2023 mendatang, itu didirikan oleh para ulama yang ada di Aceh. Salah satu hasil daripada acara Silaturahmi Ulama se-Aceh(SUWA) tahun 2021 lalu adalah mendirikan Partai PAS Aceh.

“Kepada semua handai taulan, guru-guru, rekan-rekan, murid-murid saya, baik itu siapa saja mereka-mereka yang sudah lama atawapun baru mengenal saya, tegur dan beri masukan untuk saya ketika saya sudah mulai terlihat berbeda, apalagi sekarang sudah memipin partai, tentunya teguran itu disampaikan dengan cara yang elegan,” pesan Tu kepada semua handai taulan sekalian.

Tu Bulqaini yang kini diberi mandat sebagai ketua Umum Majelis Partai Adil Sejahtera (MPP-PAS Aceh) bukan orang baru dalam dunia politik, khususnya Aceh. Di masa Aceh masih konflik dulu, ia sudah mulai menyuarakan ketidakadilan yang terjadi di bumi Serambi Makkah ini melalui organisasinya iaitu Rabithah Taliban Aceh.

Dalam bahasa Arab Rabatha-yarbithu bermakna ikat/mengikat-ikatan, ikatan yang dimaksud bisa diartikan menjadi kelompok atawa kumpulan tergantung kepentingan daripada kalimat selanjutnya. Rabithah berarti Ikatan/kelompok. Thalaba-yatlubu mempunyai arti meminta/menuntut.

Rabithah Taliban Aceh memiliki arti kelompok penuntut Aceh, adapun kelompok penuntut di sini ditujukan kepada orang-orang yang sedang menuntut ilmu baik itu di dayah-dayah atawa sekolah-sekolah atawa tempat pendidikan yang ada di mana saja di dunia.

Jangan Permainkan Agama

Karena ketegasannya itu, Tu Bulqaini yang di waktu tidak lama ini mengundurkan diri dari Wakil Ketua MPU (Majelis Permusyawaratan Ulama) Kota Banda Aceh. Sekilas dari apa yang dilihat, bahkan sudah dianggap dan diketahui oleh khalayak ramai khususnya Aceh dia itu adalah orang yang sangat-sangat arogan.

“Perlu diketahui bahwa itu adalah klaim daripada orang-orang yang tidak senang, kalim daripada oknum-oknum yang tidak suka apabila agama ini. Apabila hukum agama ini bisa berjalan sebagaimana mestinya,” tegas Tu sa’at dijumpai di Markaz Islah Al-Aziziyah, Ahad, 12 Februari 2023.

“Perihal agama tidak ada tawar-menawar bagi saya, itu prinsip hidup. Jangan main-main dengan agama, itu perintah mutlak bagi seluruh ummat, kan, di agama apapun tidak ada yang namanya perintah untuk melakukan hal yang tidak-tidak. Semua agama yang ada di bumi ini, semuanya itu menyerukan kepada keadilan, kedamaian, kebaikan dan seterusnya tentang kebaikan-kebaikan,” ujar Ketua Umum Partai Adil Sejahtera (PAS) Aceh.

“Apa lagi sudah di partai sekarang ini, lihatlah ke depan nanti, oknum-oknum para propagandis itu akan semakin lantang bersuara, lantang menyuarakan, ‘ulama-ulama, teungku-teungku tidak boleh berpolitik, di dayah saja’ dan semacamnya. Sungguh mereka-mereka itu tidak paham sejarah dan tidak tahu malu,” ucap lelaki yang sudah malang-melintang di dayah-dayah yang ada di Aceh takkala menuntut ilmu dulu.

Penyuka Film India itu dari dulu sudah menyuarakan tentang kebaikan bagi Aceh, maka anggapan yang salah, kekeliruan yang amat sangat-sangat besar bagi siapa sahaja yang mengakatakan bahwa Tu itu seorang yang arogan dan tidak cinta damai.

Karena Cinta dan Kasih Sayang

Tu mengatakan bahwa berhingga sampai didirikannya Markaz Islah Al-Aziziyah tersebut bukan karena satu, dua sebab melainkan banyak hal. Di antaranya, pada suatu ketika di masa perang di Aceh masih berkecamuk, dia pulang dari Banda Aceh ke Tanjungan. Sebelum dirinya sampai kekampungnya, dia menyempatkan diri untuk singgah ke sebuah dayah yang ada di belakang Kapolsek Mutiara, jalan menuju Tiro sekarang.

Di sana dia bertanya kepada beberapa orang santri perihal siapa orang yang terpampang di muka sampul sebuah tabloid terbitan Tanah Jawa, spontan anak-anak itu menjawab, ‘mereka adalah orang-orang yang telah membunuh ayah-ayah kami’. Tu merasakan sesak yang amat sangat di dalam dadanya.

Maka adanya Markaz Islah Al- Aziziyah (central perubahan/tempat perbaikan) bukan terbentuk begitu saja melainkan karena cinta, kasih-sayang, karena kelembutan hatinya yangmana di waktu Aceh masih dalam gejolak (perang). Karena cintanya kepada Aceh dan cintanya kepada generasi-generasi penurus Aceh khususnya penerus bangsa, bersabablah lahirnya Markazul Islah Al- Aziziyah.

“Terngiang-ngiang, selalu terngiang-ngiang di kepala saya pada kata-kata Amitabh Bachchan, di dalam salah satu filmnya, ‘Api dendam tidak bisa dipadamkan, kecuali oleh si pendendam itu sendiri’,” Tu masih melanjutkan bicaranya.

“Ketika Aceh masih di dalam huru-hara (perang), generasi-generasinya nanti itu akan menjadi bom waktu, pribadi, batin saya tidak menginginkan itu. Saya tidak ingin Aceh terus dilanda perang. Maka setelah merenung dan berpikir saya harus melakukan sesuatu untuk Aceh, untuk Indonesia,” sesekali kulit-kulit yang ada di dahinya dahinya itu berkerut.

“Maka kemudian adalah sebuah naungan ini, yangmana saya sangat ingin memadamkan api-api dendam yang ada di dalam diri para generasi-generasi ini dengan air (agama), Karena keimanan, taqwa dan rasa kenyang yang akan mampu menahan gejolak dendam itu,” ungkap Tu menceritakan dasar sejarah didirikannya Markaz Islah Al-Aziziyah yang bertempat di Lueng Bata, Banda Aceh.

Dorongan daripada Para Aktivis Dunia

Sebab lain daripada didirikannya Markaz Islah setelah dia pulang dari Amerika Sekirat, pada lawatan itu ia bertemu dengan para tokoh-tokoh sosial, tokoh perdamaian dan organisasi-organisasi yang bergerak di bidang kemanusiaan.

“Pada tahun 2000-an itu, saya ke Amerika dibawa oleh Dubes (Duta Besar) Amerika  untuk acara pertemuan para aktivis dunia, usai acara tersebut saya berbagi cerita, bertukar pikiran, berdiskusi dengan orang-orang yang ada di acara itu,” terang Tu yangmana di waktu dia diundang selaku ketua Rabithah Taliban Aceh.

“Maka gairah yang berapi-api yangmana subelumnya sudah ada di dalam dirinya saya untuk membuat suatu lembaga pendidikan, bak gayung bersambut. Sampai saya di Aceh saya dirikanlah Markaz Islah ini,” ungkap Tu Bulqaini.

“Markaz itu artinya tempat, islah maknanya, kan, perbaikan dan Al-Aziziyah itu tempat saya menimba ilmu dulu. Oleh karena sebab-sebab yang di antaranya itulah saya mendirikan Markaz Islah Al-Aziziyah. Supaya generasi-generasi Aceh bisa saya padamkan api dendamnya atas apa yang sudah berlaku di Aceh tempo hari,” tatapan tajam, mata Tu tajam memandang jauh ke depan.

Tu juga berpesan kepada segenap lapisan masyarakat khusunya Aceh supaya sama-sama menjaga perdamaian yang sudah ada di Aceh. Sama-sama menjunjung tinggi nikmat damai itu, begitu juga akanpada hal yang berkaitan dengan politik, supaya sama-sama juga bisa menciptakan kondisi, suasa politik yang baik.

“Siapa saja boleh berpolitik demi agama, Aceh, demi bangsa Indonesia, apalagi di Aceh kini memiliki partai lokal. Semua partai itu milik orang Aceh, tak ada beda antara satu dan lainnya. Kita-kita di partai ini sama, semuanya sama-sama berjuangan untuk Aceh yang lebih baik lagi. Maka masyarakat bebas menentukan pilihan terbaiknya,” tutup Tgk. H. Tu Bulqaini.[]

Penulis: Syukri Isa Bluka Teubai
Editor: Thayeb Loh Angen.