Pria Aceh tersebut berpura-pura mati dan dikuburkan hidup-hidup. Dalam kubur ia pun diperiksa oleh malaikat Mungkar dan Nakir tentang agama dan amalannya. Karena tak mampu menjawab pertanyaan maka pria tersebut dipukul dengan pentungan besi. Namun pukulan malaikat itu tidak mengenai pria tadi. Dalam kegelapan kuburan, ada sesuatu yang menyerupai bulan yang seolah-olah melindungi pria itu dari pukulan malaikat.
Pria yang pura-pura mati itu kemudian berhasil keluar dari kuburan dan segera pulang ke rumah. Semua anggota keluarga dan sanak famili yang masih berduka terkejut dibuatnya. Isak tangis pun terjadi. Ia kemudian menceritakan pengalamannya dalam kuburan. Benda bulat yang seolah-olah seperti bulan yang menghalangi pukulan malaikat merupakan kue apam (serabi) yang dibuat oleh keluarganya untuk dibagi-bagikan kepada pelayat.
Setelah peristiwa itu, maka setiap rumah di Aceh akan memasak apam bila ada kerabatnya meninggal. Kue apam itu dibagikan di kuburan kepada para pengantar jenazah, sesaat setelah mayat dikuburkan.
Baca: Antara Diurnarius Romawi dan Bakeutok Aceh.
Apam merupakan kue yang dibuat dari bahan tepung beras dan santan berbentuk bulat. Cara membuatnya, tepung yang bercampur santan dimasukkan ke dalam penggoreng yang diolesi minyak makan. Kadar olesan minyak hanya sebatas cukup untuk diserap satu kue apam. Untuk memakannya diberikan kelapa parut bercampur gula agar apam tidak tawar. Ada juga yang dimakan dengan pisang serta telur kocok.



