Apam juga sering dibawa pada kenduri-kenduri lainnya, seperti kenduri di mesjid dan meunasah. Warga dengan suka rela membawa apam untuk dihidangkan pada kenduri tersebut. Kenduri apam juga dilaksanakan pada hari ketujuh (seuneujoh) orang meninggal.

Selain itu apam juga sering dibagi-bagi bila ada peristiwa gempa. Alasannya, gempa akan membuat si mayat dalam kuburan terayun-ayun, maka kenduri apam dilakukan untuk menenangkan si mayat.

Pembagian apam juga ajang bersedekah makanan terhadap sesama warga. Namun dalam kepercayaan masyarakat Aceh, kenduri apam bisa menjadi perantara antara orang yang sudah meninggal dengan sanak familinya yang masih hidup. Makanya kenduri apam dilaksanakan oleh masyarakat Aceh untuk menghormati jasad leluhurnya yang sudah meninggal.

Namun versi lain menyebutkan, asal usul kenduri apam bermula ditujukan kepada pria yang tiga kali berturut-turut tidak ke mesjid melaksanakan shalat Jumat. Sebagai denda adat, pria tersebut harus membuat kue apam sebanyak 100 buah untuk diantar ke mesjid dan akan dimakan bersama sebagai sedekah. Dengan seringnya orang membawa kue apam ke mesjid akan membuat dirinya malu, maka dari zaman dahulu pria Aceh yang sudah baligh sangat jarang meninggalkan shalat Jumat.[]