Sedangkan untuk membuktikan adanya Istana Darud Dunia dalam kemegahan sejarah kesulthanan Aceh masih mengalami kesulitan. Selain terbatasnya sumber tertulis, baik sumber lokal maupun asing, juga tak ada sumber fisik yang menandakan salah satu dari bukti sejarah peninggalan bekas Istana Darud Dunia ini sebagai istana termegah dalam masa Kesultanan Aceh.
Aceh memang tidak bisa membuktikan kemegahan sejarahnya dalam bentuk peninggalan fisik. Karena peradaban yang pernah dibangun Aceh dalam masa kejayaannya adalah peradaban pembangunan ilmu pengetahuan yang berakar pada Islam dan kebudayaan Melayu. Lain halnya dengan daerah lain, seperti di Jawa yang akar budayanya lebih dulu dipengaruhi oleh kebudayaan Hindu, begitu Islam masuk ke Jawa, Brobudur dan candi-candi lainnya telah lebih dulu ada, hingga sekarang bukti sejarah di Jawa secara fisik masih dapat ditunjukkan peningggalannya.
Sedangkan Aceh yang pembangunan peradabannya berakar pada budaya Islam dan Melayu, maka bukti sejarah Aceh hanya bisa ditunjukkan dalam bentuk ilmu pengatahuan, yaitu kitab-kitab dan naskah-naskah, serta manuskrip-manuskrip yang ditinggalkan oleh para ulama dan cendikiawan Aceh di abad-abad kejayaannya. Itulah yang membedakan latar belakang budaya Aceh dengan budaya daerah lainnya di nusantara. Makanya, di Aceh sumber sejarah dalam bentuk fisik sangat sulit ditemukan, karena peradaban yang dibangun Aceh dulu adalah peradaban pengembangan ilmu pengetahuan.
Bukti sejarah kemajuan ilmu pengetahuan yang pernah dikembangkan oleh para ilmuan Aceh dahulu sampai kini masih bisa ditunjukkan. Salah satunya adalah ratusan kitab ilmu pengetahuan karya para ulama Aceh terdahulu masih tersimpan di perputakaan kuno Tanoh Abee, Kecamatan Seulimum, Aceh Besar (baca katalog manuskrip perpustakaan pesantren tanoh abee: PDIA, 2013). Belum lagi kitab-kitab ilmu pengetahuan yang jumlahnya ribuan dalam bentuk hikayat Aceh, yang kini tersimpan hampir diberbagi Museum penting di dunia, terutama di negeri Belanda dan di negera-negara Asia Tenggara lainnya yang dulunya pernah berhubungan dengan Aceh.
Oleh karenanya, bangunan Istana Darud Dunia sebagai bagian dari kemajuan peradaban Aceh, yang kemudian lebur besama jatuhnya Kesultanan Aceh Darussalam, mestinya juga harus diungkapkan secara tertulis untuk membuktikan bahwa Istana Darud Dunia Kesultanan Aceh yang demikian hebat dan megah memang pernah berdiri di Aceh, walaupun sekarang artefak dari jejak istana tersebut sama sekali tak bisa lagi dibuktikan secara fisik. Namun, dengan ada sumber tertulis, orang akan percaya bahwa Istana Darud Dunia Kesultanan Aceh memang ada dan pernah berdiri megah di Aceh sekian ratus tahun yang silam.[]



