Hadijah hanya bisa tueng upah di sawah orang lain setelah menggadaikan tanahnya untuk modal Ulul Azmi, dan Muhammad Razi, merantau ke Kutaraja tahun lalu. Keduanya jatuh bangun menjual martabak, tapi kukuh berjuang demi membahagiakan ibunya di kampung halaman. Sang ibu yang sudah berusia 60 tahun pun terus berdoa agar dua putranya itu memperoleh rezeki halal hingga bisa sukses kelak.

Hadijah tinggal bersama putrinya, Eka Riah (30 tahun), di Desa Lueng Baro, Kecamatan Lapang, Aceh Utara. Eka Riah, kakak kandung Muhammad Razi (26 tahun) dan Ulul Azmi (18 tahun), menikah dengan Saiful. Saiful-Eka telah memberikan dua cucu untuk Hadijah. Mereka menempati rumah berdinding papan tua, beratap seng.

Rumah itu dibangun tahun 2009. “Sebelumnya berbentuk rumoh Aceh. Karena sudah sangat tua, kemudian dibongkar, kayunya dijadikan rumah yang sekarang,” ujar Hadijah saat ditemui portalsatu.com/ di rumahnya, Kamis, 4 Maret 2021.

Rumah tersebut memiliki tiga kamar terbuat dari tripleks, sebagian sudah lapuk. Ruangan dapur berdinding anyaman bambu, sebagian terlihat bolong. Belum ada makanan apapun di dapur itu walau sudah menjelang siang. Yang tampak hanya kompor dan tabung gas elpiji 3 Kg.

“Belum sempat memasak. Biasanya kalau lauk apa yang ada saya masak. Seperti biasa, kita hidup sederhana. Yang penting selalu berdoa dan bersyukur atas nikmat yang Allah berikan kepada kita semua,” ucap Hadijah yang sudah menjanda sejak November 2005 silam.

Suami Hadijah, M. Hasyem meninggal dunia setelah menderita lumpuh. “Lumpuh akibat kesetrum listrik. Setelah beberapa tahun lumpuh akhirnya beliau meninggal. Sebelum musibah itu, beliau petani biasa, tidak ada pendapatan tetap,” tutur Hadijah.

Ketika Hasyem meninggal dunia, Ulul Azmi masih berusia tiga tahun. Eka Riah dan Muhammad Razi juga masih anak di bawah umur. Sejak saat itu, Hadijah sebagai ibu sekaligus ayah untuk tiga anaknya.

(Hadijah. Foto: portalsatu/Fazil)

Hadijah berjuang keras menjadi tulang punggung keluarga hingga berhasil menyekolahkan putri sulungnya, Eka Riah tamat MAN. Namun, Razi dan Azmi hanya mengenyam pendidikan sampai SMP. “Karena keterbatasan biaya, tidak masuk SMA,” ucapnya.

Kondisi tersebut membuat Razi berusaha mandiri. Dia merantau ke Medan, bekerja di warung menjual martabak. Sekitar tiga tahun merantau, Razi pulang kampung berjualan martabak menggunakan sebuah rak dan becak mesin pemberian abang iparnya. Dia menjajakan martabak ke sekolah-sekolah di seputaran kampungnya, sejak tahun 2018. Usaha Razi lalu dibantu Azmi.

“Awalnya Razi yang bisa buat martabak, kemudian Azmi juga sudah bisa karena membantu abangnya. Keduanya saat berpergian ke mana-mana selalu berdua,” kata Hadijah.

Dua putra Hadijah itu akhirnya memutuskan untuk merantau ke Ibu Kota Provinsi Aceh selepas hari raya Idulfitri 2020. Dari pesisir Aceh Utara, Razi dan Azmi menuju Kutaraja menggunakan becak mesin sebagai tempat berjualan martabak dan roti cane (canai). Mereka memilih membawa becak pemberian abang iparnya itu supaya bisa lebih berhemat selama di Banda Aceh.

“Modal awal untuk mereka berjualan martabak ke Banda Aceh, saya menggadaikan sawah Rp7 juta. Uang itu termasuk untuk perbaikan perlengkapan gerobak becak, biaya sewa kos dan kebutuhan lainnya selama mereka di sana,” ungkap Hadijah.

Selama Razi dan Azmi merantau ke Banda Aceh, keduanya belum pernah pulang kampung. Namun, kata Hadijah, putranya itu mengabarkan kondisi mereka melalui telepon seluler.

“Sekarang mereka tinggal di rumah kos milik temannya di kawasan Peukan Bada, Aceh Besar. Mereka tidak sanggup sewa kos lagi karena martabak kurang laku. Mungkin salah satu penyebabnya karena pandemi Covid ini, sehingga tidak semua lokasi ramai pembeli (martabak),” kata Hadijah.

Mengetahui kondisi seperti itu, Hadijah pernah menyarankan kedua anaknya untuk pulang kampung. “Tapi mereka menyampaikan, pulang kampung juga tidak tahu apa yang bisa dilakukan untuk pencaharian sehari-hari. Makanya lebih memilih berjualan martabak dan roti cane di kawasan Banda Aceh atau Aceh Besar untuk belajar lebih mandiri,” tuturnya.

Perempuan lanjut usia ini tidak mampu lagi membantu modal untuk anaknya lantaran sekarang ia hanya buruh tani. “Jika ada orang lain yang menyuruh untuk tueng upah saat musim tanam maupun panen padi, baru ada sedikit rezeki meski hanya cukup untuk sehari-hari,” ujar Hadijah.

Hadijah melanjutkan, “kalau tidak ada orang yang menyuruh untuk upah-mengupah seperti itu, berarti tidak ada penghasilan. Apalagi selama anak saya merantau ke Banda Aceh belum mampu mengirim uang kepada saya, karena kondisi mereka pun sekarang hanya cukup untuk makan sehari-hari. Bahkan, anak saya itu pernah makan nasi satu bungkus berdua".

Namun, Hadijah selalu berdoa setiap usai salat. "Semoga Allah memudahkan rezeki untuk mereka. Mereka masih muda, saya mendoakan untuk Razi dan Azmi suatu saat nanti bisa sukses dan lebih mandiri lagi ke depan," ucapnya.[]

Baca juga:

https://portalsatu.com/ekonomi/2021/03/kisah-ulul-azmi-dari-aceh-utara-jual-martabak-di-kutaraja-demi-ibu/