LHOKSEUMAWE – Maraknya peredaran narkoba di Lembaga Pemasyarakatan tidak terlepas dari peran orang luar, termasuk kerabat dari napi dan tahanan. Narkoba itu dipasok ke dalam LP/Lapas untuk diedarkan atau dikonsumsi napi dan tahanan.

“Di sini mayoritas napi kasus narkoba, mereka menggunakan banyak cara agar bisa mendapatkan barang itu masuk ke dalam Lapas, dan bisa mengelabui petugas. Seperti (pembesuk/tamu) memasukkan dalam kacang goreng, buah-buahan lunak dan di sela-sela lapisan baju yang terkadang sangat sulit untuk kita deteksi,” kata Kalapas Kelas II-A Lhokseumawe Elly Yuzar belum lama ini.

Menurutnya, narkoba dimasukkan ke dalam Lapas dengan trik licik seperti itu biasanya untuk dikonsumsi napi. Ia mengaku sangat sulit mendeteksi penyelundupan barang haram tersebut ke dalam Lapas. Misalnya, petugas harus membongkar semua kacang goreng yang dibawa pembesuk napi.

“Anda bayangkan saja, bila ada kacang goreng 1 kilogram dan kita mencurigai salah satu biji kacang diisi narkoba. Petugas harus mengupas satu persatu biji kacang,” terang Elly Yuzar yang pernah bertugas di Bengkulu.

Elly menyebut keluarga napi dan tahanan melakukan cara-cara licik tersebut lantaran para petugas dan sipir Lapas tidak bisa disuap. Ia menyebut tidak ada pagawai maupun sipir Lapas Lhokseumawe yang hidup mewah.

“Termasuk aksi peledakan bom rakitan oleh seorang napi (23 Oktober 2016), karena tidak ada celah untuk mereka kabur dengan cara menyuap petugas. Jadi, terpaksa mencari jalan lain untuk kabur, ya, seperti meledakkan bom di dinding, loncat tembok dan aksi lainnya,” jelasnya.

Elly menambahkan, pascainsiden ledakan bom rakitan, pengawasan dan pengaman di Lapas peninggalan kolonial Belanda itu semakin ditingkatkan. Ini untuk menghindari insiden serupa terulang.[]

Laporan Munir