SUBULUSSALAM – Dinas Kesehatan Kota Subulussalam melakukan berbagai upaya dalam penanganan dan pencegahan stunting di Bumi Syekh Hamzah Fansuri itu.

Salah satu upaya yang telah dilakukan yaitu menggerakan desa untuk terbentuknya Rumah Gizi Kampong (RGK) yang angka stuntingnya tergolong tinggi.

Adapun sembilan RGK itu yakni Desa Subulussalam, Desa Subulussalam Selatan, Desa Pegayo, Kuta Tengah yang berada di Kecamatan Simpang Kiri. Selanjutnya Desa Pulo Belen di Kecamatan Sultan Daulat dan Desa Cepu dan Penanggalan di Kecamatan Penanggalan.

Peresmian Rumah Gizi Kampong (RGK) di Posyandu Pelawis Pos  1 Subulussalam Kecamatan Simpang Kiri, Kota Subulussalam 2020 lalu.

Kemudian dua RKG lainnya ada Desa Bukit Alim, Kecamatan Longkib dan Desa Binanga, Kecamatan Rundeng.

Kasie Kesga dan Gizi Dinkes Subulussalam, Herlina kepada portalsatu.com/, Kamis, 30 Juni 2022 mengatakan dengan terbentuknya RGK ini, Dinas Kesehatan Kota Subulussalam berharap kepada bidan desa dan kader bekerja sama dengan TP PKK desa untuk dapat memanfaatkan fasiltas yang ada seperti RGK, di sana bisa sebagai tempat pengolahan menu makanan untuk anak stunting.

Herlina menjelaskan RGK merupakan upaya edukasi pencegahan dan penanganan stunting melalui model intervensi implementasi di kampong.

Dinas Kesehatan bekerja sama dengan berbagai mitra kerja, Bappeda, DPMK dan P3AKB untuk menurunkan prevalensi angka stunting di Bumi Sada Kata. Langkah ini dilakukan dengan memberdayakan masyarakat kampong melalui model intervensi pencegahan dan penanganan stunting secara terintegrasi di level desa.

Dengan adanya RGK ini diharapkan akan menurunkan angka stunting di Kota Subulusalam yang saat ini mencapai 1.137 kasus. Untuk mewaspadai terjadinya stunting, maka diperlukan edukasi menyeluruh pada seluruh masyarakat, terutama pada ibu hamil melalui para pengurus PKK kampong dan Posyandu.

"Kami turun ke desa-desa untuk melakukan pemutarkhiran data, mengecek langsung ke lapangan untuk memastikan keakuratan data yang di entri bidan desa dan kader ke
aplikasi Kader Peduli Balita BGM Stunting," kata Herlina.

Dinkes bersama mitra kerja kerja ke turun ke lapangan menyampaikan cara pencegahan stunting, dari remaja sampai usia dua tahun. Selain itu, DPMK juga memberikan usulan kepada kades dan kader dalam memanfaatkan dana desa yang ada untuk penanganan dan pencegahan stuntng.

Herlina menjelaskan salah satu upaya yang di lakukan dalam penurunan stunting, memakan makanan bergizi dengan menu seimbang, ikan ,telur ,sayur dan buah, makanan bergizi, bukan berarti mahal, menurut Herlina desa dapat mengaktifkan kembali RGK yang yelah dibentuk.

Di RGK itu masyarakat dapat melakukan kegiatan yang dapat menunjang pencegahan dan penurunan stunting seperti pengolahan makan bergizi bagi anak yang stunting, gizi buruk, ibu hamil, pemantauan pengukuran balita yang ada di desa masing-masing.

RGK yang telah ada terbentuk di Kota Subulussalam ada 9 RGK, ada yang dibentuk oleh Dinas Kesehatan ada juga oleh desa masing-masing yang dihadiri langsung oleh Ketua TP Pkk Hj. Mariani Harahap, SE.

Dikatakan, saat ini dalam penurunan stunting bukan hanya dari saat hamil saja, tapi sejak usia remaja dengan pemberian tablet penambah darah atau TTD, dari bu hamil, usia kandungan 270 hari di dalam kandungan atau 9 bulan sampai anak berusia dua tahun dapat dikatakan juga (MASA EMAS).

Kabid Kesehatan Masyarakat, Ambia, Amd, Kep menambahkan ada tiga penyebab stunting, pertama karena pola asuh yang salah, kedua faktor gizi, ketiga faktor lingkungan.

Ambia menjelaskan ketiga faktor ini merupakan faktor yang paling kuat dalam terjadiya stunting. Saat ini Dinas Kesehatan khususnya bidang Kesmas membawahi tiga seksi yaitu seksi kesga dan gizi, promosi kesehatan, kesehatan kerja dan olah raga terus berupaya dalam melakukan aksi-aksi dalam pencegahan dan penurunan stunting.

Salah satunya melakukan edukasi gizi seimbang dan pergerakan masyarakat dalam meningkatkan gerakan, masyarakat hidup sehat, begitu juga dalam menjaga kondisi lingkungan agar tetap bersih dan sehat.

Seksi kesehatan lingkungan juga berupaya dalam terwujudnya desa Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) tidaknya hanya program yang ada di Dinas Kesehatan, namun saling berkontribusi juga dalam penurunan stunting, misalnya program pemberian obat cacing dan lainnya.[]