Selasa, Juli 23, 2024

Dinkes Gayo Lues Keluhkan...

BLANGKEJEREN - Dinas Kesehatan Kabupaten Gayo Lues mengeluhkan proses pencairan keuangan tahun 2024...

H. Jata Ungkap Jadi...

BLANGKEJEREN – H. Jata mengaku dirinya ditunjuk Menteri Dalam Negeri (Mendagri) menjadi Pj....

Bandar Publishing Luncurkan Buku...

BANDA ACEH - Penerbit Bandar Publishing Banda Aceh meluncurkan sekaligus dua karya Dr....

Rombongan Thailand Selatan Kunjungi...

BANDA ACEH – Delegasi dari berbagai lembaga di Thailand Selatan mengunjungi Kantor Partai...
BerandaInspirasiBeragama: Antara Rasional...

Beragama: Antara Rasional dan Emosional

Oleh: Muhammad Syahrial Razali Ibrahim

Suatu ketika Nabi dan para sahabatnya singgah dan shalat subuh di Hudaibiyah setelah malamnya tempat tersebut diguyur hujan. Selesai shalat Baginda berpaling kepada sahabatnya dan bersabda, “tahukah kalian apa yang difirmankan oleh Allah Swt?” Mereka menjawab, Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu. Lalu beliau melanjutkan sabdanya, “Allah berfirman, ada di antara hambaku yang bangun di pagi hari sebagai orang mukmin dan ada yang kafir kepadaku, orang yang mengatakan, ‘kami diberi hujan karena karunia dan rahmat Allah’ dia adalah orang yang beriman kepadaku dan kafir kepada benda-benda langit (bintang-bintang), adapun yang mengatakan, ‘kami kehujanan karena bintang ini dan itu’, maka dia telah kafir kepadaku dan beriman kepada benda-benda langit”, (HR: Bukhari dan Muslim).

Hadis di atas menjelaskan tentang suatu yang meluncur begitu saja dari lisan banyak orang hari ini terkait dengan berbagai kejadian dan fenomena alam, seperti hujan dan lain-lain. Ini adalah bagian kebiasaan masyarakat jahiliyah dulu. Jika turun hujan, mereka langsung menjadikan peredaran bintang di langit sebagai sebabnya. Namun kebiasaan ini terwariskan dan masih tersisa di kalangan umat Islam hingga saat ini. Dalam sebuah hadis nabi bersabda, “Ada empat kebiasaan jahiliyah yang tidak ditinggalkan oleh umatku, berbangga-bangga dengan kedudukan, mencela nasab (rasisme), menjadikan peredaraan bintang sebagai sebab turunnya hujan, dan meratapi kematian”, (HR: Muslim).

Dalam surah al-Baqarah Allah berfirman, “karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui”, (al-Baqarah: 22). Di antara contoh praktis yang dijelaskan oleh Ibnu Abbas terkait dengan larangan menyekutukan Allah sebagaimana dimaksud pada ayat di atas adalah ucapan seseorang, “kalaulah bukan anjing ini tentu kita sudah kemalingan”. Ini adalah kata-kata yang saban hari terdengar dari lisan banyak orang. Orang-orang terbiasa berucap, “untung ada pohon ini dan itu, jika tidak maka mobil ini sudah terjun masuk ke jurang”. Banyak orang terbiasa mengucapkan, “wajar hujan sangat lebat dan deras, karena memang mendung sangat pekat dan tebal”.

Lalu apakah kata-kata tersebut serta merta menyebabkan orang tersebut menjadi kafir? Kalau kafir, apakah menggelincirkan seseorang menjadi murtad atau bagaimana? Secara singkat ulama memberi penjelasan bahwa kata-kata tersebut tidak bisa divonis begitu saja tanpa mempertimbangkan maksud dari yang mengucapkannya.

Poin kita dari ayat dan hadis di atas adalah bagaimana seharusnya sikap kita merespons ucapan atau perbuatan seseorang yang secara lahiriyah terlihat nyerempet (terindikasi) pada pelecehan atau penodaan agama. Apakah karena seseorang yang mengucapkan kata-kata “kafr” lalu sera merta divonis “kafir” dan rame-rame ikut mengatakan sipolan telah menista agama, sipolan musuh Islam dan lain-lain. Kemudian, siapa yang berhak memvonis seseorang kafir di dalam Islam, masyarakat awam, preman jalanan, atau siapa?

Tabayyun (Klarifikasi)

Hal pertama yang harus dilakukan adalah tabayyun atau mencari tahu hal sebenarnya terkait dengan informasi yang didengar atau peristiwa yang dilihat. Bukanlah hal bijak ketika seseorang mendengar atau membaca sesuatu yang menurutnya tidak benar lalu dengan serta merta berkesimpulan secara sepihak tanpa melakukan cek dan ricek. Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu”, (al-Hujurat: 6).

Ayat ini turun berkaitan dengan pengiriman utusan dari Rasulullah kepada Harits yang diduga tidak mau menyetor zakat kepada Rasulullah di Madinah. Padahal dugaan itu bersumber dari berita bohong yang dibuat-buat oleh Al-Walid bin Uqbah. Meskipun begitu pelajaran dari ayat ini berlaku untuk seluruh umat Islam agar berhati-hati dalam menerima informasi dari siapapun. Perlu adanya kerendahan hati untuk memastikan sumber dan konten berita. Termasuk dari tabayyun ini adalah memastikan maksud dari sipelaku. Karena tidak menutup kemungkinan seseorang saat mengucapkan sesuatu sedang berada dalam kondisi tertekan, terpaksa, lupa atau terlanjur bicara tanpa bermaksud apa-apa atas ucapannya. Nabi mengatakan, “Sesungguhnya Allah mengampuni umatku karena kekeliruan (ketidak sengajaan), lupa serta keterpaksaan”, (HR: Ibnu Majah).

Termasuk tabayyun adalah mempertimbangkan psikologis keagamaan seseorang, seperti firman Allah terkait dengan fitnah yang pernah menimpa Aisyah Ummul Mukminin. Lagi-lagi karena rumor yang diterima begitu saja. “Mengapa di waktu kamu mendengar berita bohong itu orang-orang mukminin dan mukminat tidak bersangka baik terhadap diri mereka sendiri, dan (mengapa tidak) berkata: “Ini adalah suatu berita bohong yang nyata“, (An-Nur: 12).

Ayat ini mengajarkan umat Islam agar berbaik sangka pada saudaranya jika terindikasi berbuat buruk. Mengucapkan pada dirinya, “ah, sepertinya itu tidak mungkin ia lakukan”, “maksud dia mungkin bukan begitu”. Ini adalah ruang toleransi pada setiap mukmin untuk saudaranya sesama orang beriman. Artinya jangan gegabah menerima apa yang dilihat dan didengar begitu saja, perlu analisa dan pencermatan, sehingga tidak salah duga, apalagi salah tuduh.

Bersikap Adil

Adil adalah nilai tertinggi yang harus dipelihara dan dijunjung oleh semua umat, terutama umat Islam yang dikenal sebagai umattan wasatan (umat yang moderat). Sikap adil harus membersamai seseorang ketika berinteraksi dengan siapapun, terlebih saat ingin menilai ucapan atau perbuatan seseorang. Jangan karena adanya perbedaan agama, keyakinan, partai politik atau hal lainnya lalu membuat seseorang bersikap subjektif dan curang dalam penilaiannya.

Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”, (al-Maidah: 8).

Tidak ada keadilan yang lebih tinggi dari keadilan yang diajarkan al-Quran lewat ayat di atas. Sayed Thanthawi pimpinan tertinggi Al-Azhar pada masanya menulis dalam tafsir al-Wasith, ayat ini mewajibkan umat Islam berlaku adil kepada orang kafir sebagai musuh Allah, terlebih dengan sesama orang beriman yang merupakan wali-wali dan kekasih-Nya. Karena sangat mungkin orang yang diduga salah ternyata ia benar, atau orang jahat ternyata pada dirinya ada kebaikan dan kebenaran. Tapi karena kebencian telah menyelimuti seluruh perasaan kita terhadap seseorang, akhirnya kebenaran atau kebaikan pada orang tersebut menjadi nol.

Dalam sebuah riwayat disebutkan, suatu hari Nabi Isa dan murid-muridnya sedang dalam sebuah perjalanan, tiba-tiba dikejutkan dengan sebuah bangkai anjing. Spontan semua muridnya menutup hidung mereka. Tetapi dengan penuh santun Nabi Isa mengatakan, “lihatlah, betapa putih gigi anjing tersebut”. Perhatikan perbedaan antara Nabi Isa dan murid-muridnya. Kisah yang mengajarkan siapapun untuk bersikap objektif dan berbesar hati mengaku kebenaran pihak lawan walaupun kecil.

Dalam satu ungkapan disebutkan, “katakan jika itu benar, walaupun pahit”. Suatu hari Abu Hurairah yang sedang bertugas menjaga gandum baitul mal didatangi oleh setan yang berpura-pura jadi pencuri dan menyamar sebagai seorang kakek miskin. Di akhir cerita Abu Hurairah diajarkan ayat Kursi, lalu saat melapor kepada Rasulullah, beliau bersabda “Dia telah berkata benar kepadamu, walaupun sebenarnya ia pendusta”, (HR: Bukhari).

Setanpun harus mendapatkan keadilan dan pengakuan jika itu adalah haknya, apalagi manusia, apalagi sesama muslim. Jangan karena dikenal pendusta lalu kebenaran ucapannya dianulir hanya gara-gara kebiasaannya berdusta.

Rahmah

Salah satu tujuan besar pengutusan Rasulullah ke bumi ini adalah membawa rahmah bagi seluruh manusia, bahkan untuk semua makhluk. Allah berfirman, “Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam”, (al-Anbiya: 107). Rasulullah mengenalkan dirinya sebagai nabi pembawa rahmah dengan sabdanya, “Aku ini tidak lain adalah rahmah yang membawa petunjuk”, (HR: Al-Darimi).

Ada banyak ayat dalam al-Quran yang menjelaskan tentang nabi Muhammad sebagai seorang pengasih dan penyayang. Bahkan secara khusus sangat sayang kepada orang beriman sebagaimana firman Allah, “Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin”, (At-Taubah: 128).

Pertanyaan sederhananya adalah, jika nabi Muhammad dikenal dengan rahmah dan kasih sayangnya, lalu mengapa umatnya hari ini kasar, pemarah, penuh benci, sulit memaafkan dan mudah mendendam sesama mereka. Padahal Allah berfirman, “Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah tegas terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka”, (al-Fath: 29).

Karena sikap rahmahnya Rasulullah telah mengislamkan orang-orang kafir pada zamannya, lalu kita hari ini dengan mudah mengkafirkan orang Islam. Sepertinya kita sangat senang ketika melihat ada saudara kita berbuat salah, bahkan ikut menyoraki kesalahannya. Bukankah agama Islam adalah agama nasihat, lalu kenapa nasihat berganti dengan hujatan, fitnah dan provokasi. Al-Quran mengajarkan, “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik”, (an-Nahl: 125).

Jika nasihat kepada orang kafir diharuskan dengan cara yang baik, lalu bagaimana menasihati sesama muslim? Kita selalu meneriakkan “demi Islam”, memekik kalimat “takbir”, tapi banyak kita tidak sadar, jangan-jangan sikap kita saat meneriakkan Islam sebenarnya sedang menginjak-injak Islam itu sendiri. Kita mengira sedang menjunjung dan membela Islam, padahal jangan-jangan kita sedang menjatuhkan dan menghinanya. Sungguh beragama tidak cukup hanya dengan emosi, tapi butuh hati, nalar, dan budi. Wallahua’lam.

* Penulis adalah Dosen dan Dekan Fakultas Syariah IAIN Lhokseumawe.

Baca juga: