Senin, Juni 24, 2024

Judi Online: Antara Frustasi...

Oleh: Muhammad Syahrial Razali Ibrahim, Dosen Fakultas Syariah IAIN LhokseumawePemberitaan judi online akhir-akhir...

Hujan dan Angin Kencang,...

ACEH UTARA - Dua rumah di Dusun Dua Lampoh U, Keude Pantonlabu, Kecamatan...

Jelang Pilkada Subulussalam, Fajri...

SUBULUSSALAM - Komunikasi elit partai politik jelang Pilkada Subulussalam mulai terlihat intens. Terbaru,...

Jemaah Haji Aceh Dipulangkan...

BANDA ACEH – Jemaah Haji Debarkasi Aceh (BTJ) akan dipulangkan dari Arab Saudi...
BerandaInspirasiIslamBeragama tapi Mencari...

Beragama tapi Mencari Dunia

Oleh: Muhammad Syahrial Razali Ibrahim*

Sebuah video pendek berseleweran di beberapa grup media sosial yang isinya mencoba memberi pencerahan kepada sebagian orang agar bisa menjalani kehidupan lebih baik dan mendapatkan kebahagiaan. Sang motivator (penceramah) dalam video tersebut menyampaikan bahwa jika selama ini hidup anda terasa gelap, tidak tenang, dan selalu gundah walaupun memiliki harta berlimpah, maka coba rutinkan lima hal berikut ini setiap hari; 1) Bangunlah bertahajud di malam hari walaupun hanya untuk satu rakaat witir, 3) Jangan lupa shalat Dhuha di setiap pagi, meski hanya dua rakaat, 3) Hadirilah shalat berjamaah di semua waktu, 4) Jangan lupa baca Quran, walau hanya sebaris, dan 5) Bersedekahlah semampunya. Setelah melaksanakan ini semua, maka lihatlah perubahan yang akan terjadi dalam hidup anda. Kira-kira demikian bunyi narasi dalam video singkat tersebut.

Konten seperti di atas sebenarnya sesuatu yang jamak dijumpai dalam banyak video pendek lainnya, atau bahkan dalam sejumlah karya tulis juga kerap ditemukan hal serupa. Jika hidup ingin bahagia maka buatlah ini dan itu dan seterusnya. Intinya, mendakwahkan orang-orang agar termotivasi untuk beribadah lebih baik serta melakukan ragam kebaikan. Mengajak orang lain berbuat kebaikan sejatinya kebaikan itu sendiri, bahkan dalam sebuah hadis disebutkan, “Seseorang yang menunjuki (menggerakkan) orang lain untuk melakukan kebaikan, maka ia akan mendapatkan pahala orang yang (diajak) melakukan kebaikan tersebut” (HR: Muslim). Ia dipandang seperti pelaku kebaikan itu, padahal ia hanya mengajak atau mengingatkan saja.

Dalam Islam, mengajak orang lain berbuat baik merupakan bagian dari prinsip amar makruf nahi mungkar yang menjadi ciri dan karkateristik umat Islam. Allah berfirman, “Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, serta beriman kepada Allah” (Ali Imran: 110). Bahkan ayat ini menegaskan bahwa keutamaan atau keistimewaan umat Islam sangat bergantung pada sejauh mana konsistensi mereka dalam mendakwahkan kebaikan dan mencegah kemungkaran terjadi di masyarakat. Pun begitu, tidak serta merta sesuatu yang baik dapat disampaikan begitu saja kepada siapa saja, melainkan perlu memperhatikan hal-hal (syarat) tertentu sehingga bisa dipastikan kebaikan itu sampai kepada yang dimaksud secara baik. Sebuah riwayat dari Imam Dailami menyebutkan, “Kita diperintahkan menyampaikan agama kepada manusia sesuai dengan daya tangkap (akal) mereka”. Salah paham adalah fitnah yang harus dihindari.

Beragama karena Iming-Iming Dunia

Tidak dipungkiri bahwa konten video di atas atau sejenisnya berisikan ajakan kepada kebaikan, tetapi ada beberapa narasi yang jika diteliti ternyata problematik. Narasi seperti ini juga tersampaikan oleh ‘ustaz-ustaz’ lain, di mana pada akhirnya tanpa disadari telah melahirkan disorientasi pada banyak orang dalam beragama. Kekeliruan narasi itu terletak pada ketika host-nya (youtuber) mengatakan, “Jika hidup anda susah, terasa gelap, cobalah dengan membiasakan ibadah berikut ini”, setelah menyebutkan sejumlah ibadah, ia meyambung ucapannya, “Lihatlah nanti apa yang akan terjadi dalam hidup anda”. Ia maksudkan dengan kata-kata itu bahwa orang-orang yang mau merutinkan amalan atau ibadah tertentu seperti yang disarankan maka hidupnya akan berubah menjadi lebih baik dari sebelumnya. Seperti adegan tukang sulap, video itupun berhenti sampai di situ, hanya Allah yang tahu, apakah hasil editan atau memang segitu durasi aslinya, kemudian melesat ke jagat maya dan tersebar di sejumlah grup media sosial.

Namun, ini sebenarnya bukan hanya soal video yang mungkin saja editan, dan “ternyata salah edit”, tetapi konten seperti di atas juga biasa terdengar dalam ceramah-ceramah agama secara sungguhan. Para penceramah yang menyampaikan materi itu sepertinya juga tidak sadar kalau penyampaiannya bisa memberi pemahaman yang keliru bagi pendengarnya tentang tujuan beragama. Orang-orang yang pemahaman keagamaannya “terbelakang” akan mengkonsumsi setiap wejangan agama apa adanya, apalagi terdengar praktis dan realiable, ditambah lagi dengan iming-iming duniawi yang sifatnya instan. Manusia dengan sifatnya yang tergesa-gesa sebagaimana disebukan dalam al-Quran (al-Isra’ 11) sudah barang tentu tergoda ketika mendengar ada amalan tertentu yang mudah dan simpel, tetapi dibalas dengan ganjaran besar dan saat itu juga. Apalagi dalam Islam (baca: al-Quran) teorinya memang demikian, amalan kecil dibalas besar, bahkan bisa sangat besar, dan tak terhingga. Hal yang membuat orang-orang semakin yakin dalam merealisasikan nasihat agama, tanpa perlu analisa, bahkan bertanya.

Problem utama konten ceramah dalam video tersebut atau ceramah-ceramah lain yang sejenis adalah iming-iming yang hanya membatasi pada balasan dunia. Di mana hal itu sangat bertentangan dengan semangat dan tujuan dasar dalam beragama (baca: beribadah). Iming-iming dunia itu akan masuk dan melekat di alam bawah sadar para pendengar ceramah tersebut, sehingga tanpa koreksi merekapun akan fokus pada balasan duniawi. Dalam beberapa riwayat disebutkan, dulu orang-orang Arab saat selesai wuquf di Arafah mereka pergi untuk mendiami Mina dan sesampainya di sana berdoa kepada Allah agar diberikan dunia untuk mereka. Ibnu Jarir meriwayatkan beberapa contoh doa mereka, di antaranya mereka meminta; “Ya Allah, ayahku dulu memiliki mangkuk yang besar dan kubah yang luas, serta harta yang banyak, berilah aku kini seperti Engkau dahulu memberikan untuk ayahku”. Abu Wail mengatakan, ada juga di antara mereka yang meminta unta dan kambing. Ibnu Abbas, sebagaimana dikutip oleh Ibnu Katsir mengatakan, dulu orang-orang Arab pergi ke Arafah, sambil berwuquf mereka minta agar tahun itu diberikan hujan dan kesuburan, baik tanahnya maupun orang-orangnya, sehingga dapat melahirkan anak-anak yang rupawan. Mereka sama sekali tidak meminta balasan akhirat.

Tak ada bedanya cerita Ibnu Jarir dan Ibnu Katsir di atas dengan prilaku sebagian umat Islam hari ini. Mereka sama-sama fokus pada balasan dunia, hanya beda zaman dan konteks, sehingga objek yang diminta cenderung berbeda. Secara tidak langsung, mereka adalah orang-orang yang hanya beriman kepada Allah, tapi tidak beriman kepada hari akhir. Buat mereka, tuntutan beragama hanya sebatas mencari kehidupan dunia, tanpa perlu mengharapkan balasan akhirat. Merasa selama ini pendapatannya kurang lancar, atau terlilit utang misalnya, maka ia akan merutinkan shalat Dhuha, atau ada masalah di tempat kerjanya, ia coba menenangkan diri dengan memperbanyak baca Quran, begitu seterusnya. Prilaku ini bisa ditemukan dalam bentuk lain, seperti menghiasi rumah dengan ayat-ayat al-Quran pilihan misalnya, dengan dalih bisa membawa rezeki dan keuntungan, terhindar dari marabahaya serta hal-hal lainnya. Agama benar-benar difungsikan sebagai jampi-jampi yang bisa menyelesaikan semua kemelut dunia, dan hanya untuk kepentingan dunia.

Fenomena beribadah dengan hanya berharap balasan dunia disentil dan mendapat teguran keras dari Allah Swt dengan menurunkan firman-Nya, “Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah hajimu, maka berdzikirlah dengan menyebut Allah, sebagaimana kamu menyebut-nyebut (membangga-banggakan) nenek moyangmu, atau (bahkan) berdzikirlah lebih banyak dari itu. Maka di antara manusia ada orang yang bendoa: “Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia”, dan tiadalah baginya bahagian (yang menyenangkan) di akhirat. Dan di antara mereka ada orang yang berdoa: “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka” (al-Baqarah: 200 – 201).

Ayat ini bagian dari ajaran moderat Islam yang mengajarkan pola hidup berimbang, proporsional dan berkeadilan. Bukan hanya tidak boleh membatasi pada meminta kebaikan dunia saja, membatasi meminta akhirat saja juga tidak dibolehkan. Dulu ada seorang laki-laki mengalami sakit keras, Rasulullah bertanya kepadanya saat datang menjenguk, “Apa yang engkau pinta sebelumnya sehingga ditimpa penyakit separah ini?” Laki-laki itu menjawab, “Ya Allah apa saja yang akan membuatku terhukum kelak di akhirat, maka segerakanlah saat ini juga hukumannya di dunia”. Lalu, Nabi bersabda, “Maha Suci Allah, engkau takkan sanggup menanggungnya, tapi berdoalah kepada-Nya, “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka“. Nabi kemudian mendoakan orang tersebut dan iapun sembuh seperti sedia kala.

Tujuan Beragama

Pada bagian ini perlu dipertegas bahwa meskipun diajarkan agar seimbang dalam berharap balasan, tujuan dasar beragama bukanlah untuk mendapatkan balasan. Adapun ragam balasan yang dijanjikan dalam al-Quran atau hadis Rasulullah maksudnya untuk memotivasi agar manusia mau bergama dan menjalankan agama dengan baik dan benar, bukan tujuan beragama itu sendiri. Akan tetapi, jangan disalahpahami seakan-akan tak boleh berharap balasan. Ayat al-Baqarah 200 dan 201 sudah sangat jelas menerangkan bahwa kita diajarkan untuk meminta balasan dunia dan akhirat dalam bergama. Bahkan dalam sebuah ayat Allah berfirman, “Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain, dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap” (al-Insyirah: 7 – 8). Berharap balasan akan membuat orang yang bekerja (beramal) termotivasi dan bersemangat, tapi sekali lagi, balasan bukanlah tujuan. Adapun tujuan beragama di antaranya seperti disebutkan dalam sebuah hadis Nabi, “Tidaklah aku diutus (sebagai rasul) melainkan untuk memperbaiki akhlak” (HR: Ahmad).

Agama hadir untuk kemaslahatan manusia, menjadikan mereka benar-benar beradab dan berakhlak mulia. Ibadah shalat disyariatkan agar manusia terhindar dari perbuatan keji dan munkar. Puasa difardhukan agar orang beriman naik derajatnya menjadi orang yang bertakwa. Zakat diwajibkan bagi yang mampu agar hilang dari jiwanya sifat kikir dan tamak, sehingga menjadi orang yang peduli kepada sesama. Begitu seterusnya dengan ibadah-ibadah lainnya. Sederhananya, agama adalah kumpulan nilai yang harus diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari, bukan sekadar tempat mencari aman atau ruang bersemedi. Agama hadir untuk memperbagus kualitas akhlak dan moral manusia, baik yang berhubungan langsung dengan Allah maupun yang berhubungan dengan makhluk-Nya. Orang beragama tampak bukan hanya pada semangat ibadahnya, tapi juga integritas dalam bekerja dan jiwa sosialnya. Sangat tidak tepat jika ada yang masuk dalam agama ini hanya semata-mata ingin memperoleh pahala, apalagi hanya mengharap ganjaran dunia, maka ini jelas-jelas prilaku amoral yang jauh dari tujuan beragama.

Penjelasan semacam ini perlu mendapat perhatian dari para jubir agama dan benar-benar disampaikan, sehingga para pendengarnya mendapatkan informasi yang valid dan berimbang. Tidak cukup hanya demi menyenangkan sebagian fansnya lalu memotong-motong ayat Allah. Karena tidak dipungkiri, ada sebagian orang yang notabene “berhijrah” karena kelelahan mencari dunia dengan caranya, ia mencoba nasibnya dengan beragama, tujuannya masih sama, “mencari dunia”. Akibatnya ia akan mengalami kelelahan yang tak bertepi. Andai terlihat enjoy dan happy, itu tak lebih hanya sebatas sugesti semata. Wallahua’lam.

* Muhammad Syahrial Razali Ibrahim adalah Dosen dan Dekan Fakultas Syariah IAIN Lhokseumawe, dan salah seorang Pimpinan Dayah Ma’had Ta’limul Qur’an (Mataqu) Ustman Bin Affan Lhokseumawe. Ia juga dikenal sebagai Teungku Balee di Lhokseumawe.

 

Baca juga: