Senin, Juni 24, 2024

Judi Online: Antara Frustasi...

Oleh: Muhammad Syahrial Razali Ibrahim, Dosen Fakultas Syariah IAIN LhokseumawePemberitaan judi online akhir-akhir...

Hujan dan Angin Kencang,...

ACEH UTARA - Dua rumah di Dusun Dua Lampoh U, Keude Pantonlabu, Kecamatan...

Jelang Pilkada Subulussalam, Fajri...

SUBULUSSALAM - Komunikasi elit partai politik jelang Pilkada Subulussalam mulai terlihat intens. Terbaru,...

Jemaah Haji Aceh Dipulangkan...

BANDA ACEH – Jemaah Haji Debarkasi Aceh (BTJ) akan dipulangkan dari Arab Saudi...
BerandaInspirasiIslamRamadan: Upaya Memaknai...

Ramadan: Upaya Memaknai Esensi Beragama

Oleh: Muhammad Syahrial Razali Ibrahim*

Ramadan menjadi satu-satunya bulan yang selalu ditunggu kehadirannya oleh seluruh kaum muslimin. Meskipun ternyata Ramadan bukan satu-satunya bulan yang berprediket “bulan suci” atau bulan yang agung dalam Islam. Di sana ada bulan Zulhijjah, yang di dalamnya Allah syariatkan ibadah haji, di mana kemuliaan dan keagungannya tak lebih kecil dari bulan Ramadan. Bahkan ulama sempat berselisih tentang dua bulan ini, mana satu dari keduanya yang lebih mulia. Lainnya ada bulan-bulan haram, Zulqaidah, Zulhijjah, Muharram dan Rajab. Ini adalah bulan-bulan yang sangat dimuliakan dalam Islam, bahkan sejak masa jahiliyah dulu orang-orang sudah memuliakannya. Demi menjaga kemuliaan dan kehormatan bulan-bulan tersebut, Islam mengharamkan peperangan dan apapun bentuk tumpah darah di dalamnya. Allah berfirman, “Mereka bertanya kepadamu tentang berperang pada bulan Haram. Katakanlah: “Berperang dalam bulan itu adalah dosa besar” (al-Baqarah: 217). Lebih dari itu al-Quran mengatakan, “Maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu” (al-Taubah: 36). Sebagaimana keburukan diganjari lebih pada bulan-bulan ini, demikian pula kebaikan, pahalanya dilipatgandakan.

Selain bulan-bulan di atas, ada satu bulan lagi yang luput dari perhatian banyak orang, yaitu Sya’ban. Ini juga bulan yang sangat mulia dalam Islam. Memang kemuliannya tak sehebat Ramadan, tetapi masuk kategori bulan mulia. Dalam sebuah hadisnya nabi bersabda, “Sya’ban adalah bulan yang dilupakan banyak orang, yang datang antara Rajab dan Ramadan, bulan diangkatnya amalan hamba kepada Allah Swt, “dan aku sangat senang saat amalanku diangkat, aku dalam keadaan berpuasa” (HR: Ahmad dan Nasai). Ini satu-satunya bulan di mana nabi memperbanyak puasa sunat di dalamnya. Dalam hadis yang disampaikan oleh Ummu Salamah, riwayat Imam Nasai disebutkan bahwa nabi menyambung puasa sunatnya di bulan Sya’ban dengan puasa wajib Ramadan, dua bulan berturut-turut. Bahkan oleh sebagian ulama memandang melaksanakan puasa sunat di bulan Sya’ban lebih baik dari melakukannya di bulan-bulan haram. Namun begitu, Ramadan tetap menjadi satu-satunya bulan yang disambut dan diperlakukan secara spesial oleh umat Islam.

Keistimewaan Ramadan

Perlakuan istimewa atas bulan Ramadan sangatlah wajar, karena memang bulan ini memiliki sejumlah kelebihan dan daya tarik yang tak dimiliki oleh bulan-bulan lain. Hadis berikut ini setidaknya dapat menggambarkan secuil keistimewaan bulan Ramadan dan sekaligus memperlihatkan kegembiraan hati nabi dalam menyongsong kedatangannya. “Telah datang kepada kalian bulan Ramadan, bulan yang penuh dengan keberkahan, Allah mewajibkan puasa di dalamnya, pintu-pintu surga terbuka sepanjang bulan tersebut, dan pintu-pintu neraka ditutup, bahkan syaitan-syaitan dibelenggu. Pada bulan tersebut ada satu malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan, barang siapa yang tidak mendapatkan kebaikan pada pada malam itu, maka (seakan-akan) ia telah kehilangan seluruh kebaikan” (HR: Nasai).

Berkah yang dimaksudkan pada hadis di atas adalah kebaikan yang banyak atau pahala yang berlipat dari setiap kebaikan yang dikerjakan. Apalagi jika kebaikan itu adalah berpuasa. Dalam sebuah hadis qudsi disebutkan bahwa setiap kebaikan dibalas minimal sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat, kecuali puasa. Allah berfirman, seseorang tidak berpuasa kecuali untuk-Ku, dan Aku yang akan membalasnya” (HR: Muslim). Hadis ini dipahami oleh banyak ulama bahwa ibadah puasa pahalanya bisa tak terhingga atau tanpa batas, serupa dengan pahala sabar. Al-Quran menyebutkan, “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas” (al-Zumar: 10). Karena memang ibadah puasa identik dengan amalan sabar. Sabar atas perintah, sabar atas larangan dan sabar atas putusan Allah, semuanya ada dalam ibadah puasa. Ganjaran menjadi semakin besar karena puasa yang dikerjakan adalah puasa wajib. Ulama sepakat bahwa, perbuatan wajib pahalanya jauh melampaui amalan sunat. Dalam sebuah hadis qudsi disebutkan, Allah berfiman “Tidak ada satu amalan yang dengan amalan tersebut hamba-Ku mendekatkan dirinya kepada-Ku yang lebih kucintai melebihi dari fardhu yang Aku fardhukan kepadanya” (HR: Bukhari).

Dalam hadis di atas juga disebutkan di antara keistimewaan bulan Ramadan yang tak dimiliki bulan lain adalah adanya malam qadar, yang nilainya lebih baik dari seribu bulan. Bulan yang dalam sebuah hadisnya nabi bersabda, “Siapa yang menghidupkan malam qadar dengan penuh keimanan seraya mengharapkan balasan (dari Allah) maka ia akan diampuni semua dosa-dosanya yang telah lalu” (HR: Bukhari). Keberadaan malam qadar ini menjadikan Ramadan sama sekali berbeda dengan bulan-bulan lainnya, karena adanya syariat i’tikaf di masjid-masjid pada sepuluh malam yang terakhir. Hikmah i’tikaf ini di samping untuk memperbanyak ibadah di malam-malam terakhir bulan Ramadan, juga diperuntukkan agar kondisi seseorang betul-betul berkualitas saat malam qadar tiba. Artinya, pada malam itu diharapkan ia benar-benar sedang fokus dalam beribadah sehingga bisa meraih semua kebaikan dan ganjaran yang dijanjikan. Karena itu nabi bersabda, “Carilah malam qadar pada malam-malam ganjil di sepuluh terakhir bulan Ramadan” (HR: Bukhari).

Banyaknya kebaikan dan pahala di bulan Ramadan juga ditandai dengan syari’at sadaqah dan zakat di bulan ini. Mulai dari bersedekah untuk orang berbuka hingga zakat fitrah yang dibayar oleh setiap mukmin pada pagi hari raya. Ramadan menjadi satu-satunya bulan dalam Islam yang sangat kentara dengan budaya infaq atau sadaqah. Spirit ini didasarkan pada hadis nabi, “Siapa yang memberi sesuatu untuk berbuka bagi orang yang berpuasa, maka ia akan mendapatkan pahala puasa orang tersebut tanpa mengurangi pahalanya sedikitpun” (HR: Tirmizi). Artinya orang yang berinfak akan dapat dua pahala puasa, puasa dirinya dan puasa orang yang berbuka dari makanan pemberiannya, tanpa mengurangi pahala orang berbuka tersebut sedikitpun. Hadis ini telah menggerakkan budaya bersedekah yang luar biasa di kalangan kaum muslimin sepanjang bulan Ramadan. Di mana-mana jumlah infak naik dan bertambah secara signifikan. Banyak orang kemudian menjadikan bulan ini sebagai waktu di mana mereka menunaikan zakat malnya, di samping juga menunaikan zakat fitrahnya.

Ramadan adalah bulan diturunkannya al-Quran yang kemudian menjadikan kitab suci ini sebagai sesuatu yang paling dekat dengan kaum muslimin. Semua berlomba-lomba memperbanyak bacaan dan hafalan al-Quran di bulan ini. Shalat malam berjamaah menjadi salah satu syiar besar sepanjang bulan Ramadan dan sepanjang tahun, di mana setiap malamnya al-Quran diperdengarkan melalui suara merdu para imam tarawih. Shalat tarawih menjadi salah satu ajang di mana al-Quran dibacakan hingga khatam. Ada masjid-masjid yang setiap malamnya menyelesaikan tarawih hingga satu juz al-Quran, ada yang lebih, bahkan di Temboro, Magetan, para santri Ponpes Al-Fatah khatam al-Quran dalam satu malam. Mereka menyelesaikan shalat malamnya selama 8 jam untuk sekali khatam al-Quran. Meskipun masih banyak yang bacaan tarawihnya pendek-pendek. Tentu semua sesuai dengan kemampuan masing-masing. Namun yang pasti al-Quran begitu makmur pada malam-malam Ramadan, bahkan juga siang harinya.

Belum lagi tadarus al-Quran setelah tarawih yang di banyak tempat rata-rata setiap malamnya menyelesaikan minimal satu juz. Belum lagi dengan kajian-kajian keagamaan yang tak terputus, mulai dari tausiyah bakda shalat Subuh, kajian bakda Subuh, kajian Dhuha, Kajian qabla Dhuhur, kajian bakda Dhuhur, dialog-dialog keagamaan di sejumlah media, seperti radio dan televisi menjelang berbuka, tausiyah bakda Isya sebelum tarawih, dan setelah tarawih serta sejumlah kajian atau pendidikan Ramadan lainnya baik yang diikuti oleh orang dewasa maupun anak-anak, semuanya hadir menjadikan Ramadan begitu spesial dan sangat istimewa. Benar-benar bulan yang penuh dengan keberkahan dan berlimpah kebaikan. Bulan yang benar-benar syaitan terbelenggu, sehingga amal shaleh tumbuh subur di mana-mana.

Memaknai Esensi Ramadan

Beberapa hal yang disebutkan di atas adalah sebagian dari mozaik Ramadan yang takkan ditemukan di luar bulan Ramadan. Bulan yang siapa menjalankan ibadah puasa di dalamnya akan menjadi orang bertakwa. Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (al-Baqarah: 183). Jika menjalankan puasa saja–tentu dengan tidak meninggalkan shalat lima waktu–seseorang bisa menjadi hamba yang bertakwa, terus bagaimana jika ditambah dengan sejumlah kebaikan lainnya. Bagaimana jika seseorang berpuasa di siang hari, kemudian di samping itu ia bertarawih pada malam harinya, sambung bertadarus, menghadiri majlis-majlis ilmu dan aktif dalam berbagai kegiatan sosial. Sekiranya di sana ada kedudukan yang lebih tinggi dari takwa, bisa dipastikan orang itu akan mendapatkan kemuliaan tersebut. Dan bukankah itu semua yang bertahun-tahun dilakukan oleh hampir seluruh kaum muslimin, berpuasa di siang harinya, dan bertarawih di waktu malamnya, serta melakukan ragam kabaikan lainnya. Lalu di mana takwa dalam diri mereka? Mengapa kebaikan itu hanya terjadi di bulan Ramadan saja? Ke mana perginya mereka ini setelah Ramadan?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut terus menghantui benak orang-orang yang mau berpikir. Ada apa dengan orang-orang baik itu? Mengapa mereka hanya baik di bulan Ramadan saja, setelah itu kembali seperti tak pernah ketemu dengan bulan Ramadan. Pertanyaan ini bukan tanpa dasar, di mana dalam sebuah hadis nabi bersabda, “Ada orang yang berpuasa, tetapi ia tak mendapatkan apapun dari puasa itu kecuali haus di siang hari, dan ada orang yang menghidupkan malam hari, iapun tak mendapatkan apapun dari perbuatannya itu kecuali lelah bergadang” (HR: Ibnu Majah). Hadis ini secara tidak langsung mengajarkan kita bahwa ibadah dalam Islam bukanlah sebatas ritual tanpa makna, namun hadir untuk kemaslahatan manusia, baik di dunia maupun di akhirat kelak. Namun ketika hal itu dilakukan tanpa dasar ilmu dan dengan motif yang keliru maka ia akan berakhir menjadi beban yang melelahkan dan pekerjaan yang menjemukan. Ramadan dengan segudang kebaikan di dalamnya hanya akan menjadi sebuah tradisi yang diwariskan secara turun temurun tanpa punya akhir (goal) yang jelas. Ramadan sepenuhnya menjadi bulan bazar, bulan pesta kuliner, dan persiapan menyambut hari raya Idul Fitri, karenanya semua bergembira. Adapun nilai-nilai yang harusnya terimplementasikan dalam kehidupan di luar Ramadan kekal menjadi teori yang tidak menarik untuk dibahas, apalagi dipraktikkan. Wallahua’lam. (Bersambung).

* Muhammad Syahrial Razali Ibrahim adalah Dosen dan Dekan Fakultas Syariah IAIN Lhokseumawe, dan salah seorang Pimpinan Dayah Ma’had Ta’limul Qur’an (Mataqu) Ustman Bin Affan Lhokseumawe. Ia juga dikenal sebagai Teungku Balee di Lhokseumawe.

Baca juga: