Rabu, Juli 24, 2024

Tinjau Venue PON XII,...

SIGLI - Pemerintah Kabupaten Pidie meminta rekanan terus memacu pekerjaan tiga venue yang...

Wali Nanggroe dan Mualem...

JAKARTA – Wali Nanggroe Aceh Paduka Yang Mulia Tgk. Malik Mahmud Al Haythar...

Balai Syura: Perempuan Aceh...

BANDA ACEH - Balai Syura Ureung Inong Aceh dan seluruh elemen gerakan perempuan...

Pemko Subulussalam dan Pemkab...

SUBULUSSALAM - Pemerintah Kota (Pemko) Subulussalam menjalin kerja sama atau MoU dengan Pemerintah...
BerandaOpiniBudaya Hidup Orang...

Budaya Hidup Orang Aceh Penuh Kenduri

Oleh: Nab Bahany As
Budayawan, tinggal di Banda Aceh.
————————————————

Miskin-miskin orang Aceh, kalau dihitung-hitung dari 12 bulan dalam setahun, hampir tak ada bulan pun yang tidak ada kenduri dalam hidup orang Aceh. Mungkin masyarakat yang paling banyak tradisi kendurinya di nusantara adalah masyarakat Aceh. Ini dapat dilihat, dari 12 bulan dalam setahun—yang nama bulan Islam dalam kelender tahun Hijriah dari bahasa Arab diganti nama dalam bahasa Aceh oleh orang Aceh— sehingga hampir semua nama bulan dalam bahasa Aceh dinamakan bulan kenduri oleh orang Aceh.

Kita mulai dari bulan Muharram yang disebut orang Aceh beuleun Hasan-Husen, adalah bulan kenduri bubur untuk mengenang peristiwa syahidnya cucu Nabi Muhammad SAW, yaitu Hasan dan Husen yang wafat dalam perang karbala. Orang Aceh memperingati hari meninggal Hasan-Husen pada 10 Muharram yang disebut hari Asyura. Terus bulan Safar (beuleun sapha) adalah bulan kenduri laot dan bulan ucapara Rabu Abeh, yang juga diyakini orang Aceh sebagai bulan kemalangan atau bulan sial. Karena itu, orang Aceh dulu bila ada suatu pekerjaan atau hajatan—kalau tidak terpaksa—tidak dilakukan dalam bulan Safar ini. Karena bulan Safar dianggap orang Aceh dulu bulan kekerasan yang mudah menyulut emosional manusia.

Kemudian tiga bulan berturut-turut, yaitu bulan Rabiul Awal (beuleun molet), Rabiul Akhir (beuleun molet teungeh) dan Jamadil Awal (beuleun molet keuneulheuh). Tiga bulan ini bagi orang Aceh adalah jelas bulan kenduri besar-besaran, yaitu kenduri Maulid Nabi Muhammad SAW.

Kanapa dalam kehidupan orang Aceh ada tiga bulan Maulid? Kerena kenduri maulid bagi orang Aceh adalah kenduri Keu Pang Ulee (maksudnya kenduri kepada Rasululullah SAW) yang sangat dicintainya. Karena itu, kenduri Maulid bagi orang Aceh tidak boleh alakadarnya, tapi harus sempurna.

Untuk kesempurnaan kenduri maulid ini, tentu sangat tergantung pada kemakmuran ekonomi masyarakatnya. Kalau misalkan di suatu daerah di Aceh begitu datang bulan Rabiul Awal mereka baru habis panen, maka masyarakat dapat itu langsung melaksanakan kenduri maulid bertepatan pada bulan Rabiul Awal bulan Maulid pertama. Sementara di daerah lain, mengambil maulid tengah setelah mereka panen. Demikian pula maulid terakhir, yaitu dalam bulan Jamadil Awal. Kerena menurut mereka dalam bulan tersebut mereka sudah makmur, baik karena hasil penen sawah atau pun hasil pekebunan lainnya.

Kemudian dalam bulan Jamadil Akhir, orang Aceh dulu menyebutnya beuleun khanduri boh kayee. Seterusnya bulan Rajab, bulan ini dinamakan orang Aceh beuleun khanduri apam. Atau sering juga disebut beuleun mereut (bulan Isra Mi’raj). Dalam bulan ini orang Aceh selain mengadakan kenduri nasi di meunasah-meunasah atau di masjid-masjid, juga mengadakan kenduri apam (semacam kue serabi) yang dimakan secara bersama-sama.

Latar sejarah munculnya tradisi kenduri apam bagi orang Aceh menurut Snouck Hurgronje, berawal dari seseorang yang ingin mengetahui bagaimana nasib orang di dalam kubur. Terutama tentang pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh malaikat Mungkar dan Nangkir. Lalu orang itu berpura-pura mati hingga dikubur hidup-hidup. Kedua malaikat datang menanyakan soal agama dan amalnya. Si pura-pura mati ini ternyata banyak sekali kekuarangan amalnya. Malaikat pun memukulnya dengan puntungan besi.

Akan tetapi pukulan itu tidak mengenainya, kerena terhalang oleh sesuatu benda berbentuknya bulat seperti bulan. Seakan-akan benda itu terus melindunginya dari pukulan-pukulan malaikat. Lalu orang yang pura-pura mati itu pun berhasil keluar dari kubur dan segera menemui anggota keluarganya yang sangat terkejut melihat dia telah hidup kembali. Lantas lelaki itu menceritakan pengalamannya yang terlindungi saat hendak dipukul malaikat. Ternyata perisai yang berbentuk bulat seperti bulan yang melindunginya adalah kue apam yang sedang dibuat oleh keluarganya di rumah untuk dikendurikan.

Cerita Snouck itu bisa jadi sebagai ilustrasi yang tidak bisa dipertanggungjawabkan secara berfikif ilmiah. Namun, setidaknya dari cerita itu dapat dijadikan hikmah dari makna sebuah kenduri. Sekalipun yang dikendurikan itu hanya sebentuk kue apam.
Kenduri apam tradisi orang Aceh tidak hanya dalam bulan Rajab, tetapi juga dilaksanakan setiap terjadinya gempa bumi. Karena menurut orang Aceh dulu bila terjadi gempa bumi akan terjadi pergeseran tulang-belulang mayat leluhurnya yang ada di dalam kubur. Maka dengan kenduri apam ini diharapkan tulang mayat sudaranya di dalam kubur dapat bersatu kembali. Itu sebabnya, setiap habis terjadi gempa bumi, orang Aceh dulu selalu mengadakan keduri apam.

Seterusnya bulan Sya’ban, bulan ini bagi orang Aceh adalah bulan khanduri bu. Dalam bulan Sya’ban ini biasanya orang Aceh mengadakan kenduri untuk segala arwah keluarganya yang sering disebut dengan khanduri thon. Upacara kenduri ini dengan mengundang warga kampung dan sanak saudara dekatnya untuk bersamadiyah (meudo’a) di rumah orang yang berkenduri, dengan harapan kenduri ini dapat menenangkan segala arwah keluarganya yang telah meninggal dunia.

Begitu pula bulan Ramadhan, dalam bulan puasa ini menurut tradisi orang Aceh dulu paling tidak ada tiga kali upacara kenduri yang dilaksanakan. Yaitu kenduri tamat Alquran (tadarrus) pada paruh pertama bulan puasa, dan kenduri memperingati Nuzul Quran (17 Ramadhan), serta kendiri tamat Alquran paruh terakhir Ramadhan. Semua upacara kenduri itu dipusatkan di meunasah atau di masjid, dengan cara setiap warga kampung mengeluarkan hidangan kendurinya untuk makan bersama-sama saat berbuka puasa.

Memasuki 1 Syawal—seperti umat Islam lainnya dinia—masyarakat Aceh juga merayakan Idul Firi. Dalam kunjung mengunjung silaturrahmi Idul Fitri ini bagi orang Aceh juga tak lepas dari kenduri. Setiap tamu yang datang ke rumahnya tetap dipaksa harus makan nasi walau hanya sedikit sebagai bagian dari kenduri lebaran.

Demikian pula dengan bulan Zulkaedah, yang disebut orang Aceh beuleun meurapet. Dikatakan bulan meurapet, karena bulan Zulkaedah ini adalah bulan yang diapit oleh tanggal 10 Zulhijah, yang merupakan puncak dari pelaksanaan ibadah haji dan sekaligus sebagai hari raya Idul Adha. Kenduri dalam bulan Zulhijah yang sering disebut orang Aceh khanduri ujong thon dimaksudkan sebagai kenduri rasa syukur atas segala rezki yang telah diberikan Allah selama dalam setahun atas segala usahanya. Jadi, dalam kehidupan orang Aceh, dari 12 bulan dalam setahun, hampir tak ada bulan yang tidak ada kenduri.

Itu belum lagi kenduri-kenduri mengharapkan keberkahan dalam bercocok tanam. Seperti khanduri tren u blang yang disebut orang Aceh khanduri Nabi Adam. Kenduri ini dimaksudkan agar usaha pertaniannya jauh dari segala hama penyakit, sehingga dapat menghasilkan panen sebagaimana yang diharapkan.
Begitu pula kenduri-kenduri kelahiran dan kematian. Dalam tradisi orang Aceh kenduri kematian biasanya dilaksanakan sampai 7 hari berturut-turut. Pada hari ke 7 adalah puncak dari kenduri kematian dilaksanakan secara bersar-besaran bagi yang berkemampuan secara ekonomi. Setelah kenduri 7 hari ada lagi kenduri 10 hari kematian, kenduri 40 hari, dan kenduri 100 hari. Tiga kenduri ini sudah menjadi tradisi dari kenduri kematian seseorang yang dilaksanakan oleh keluarga yang ditinggalkan sesuai dengan kemampuannya.

Sekalipun ada khilafiah dalam hal kenduri kematian ini, kita tidak akan masuk dalam wilayah itu. Karena yang kita bincangkan ini adalah masalah tradisi, bukan persoalan aliran dan mazhab. Yang tentu saja, tradisi-tradisi yang sudah mengakar dalam masyarakat Aceh ini juga adalah adopsi dari nilai-nilai ajaran Islam.[]

Baca Juga: Memahami Sifat Orang Aceh

Baca juga: