Tgk. Muslem saban Jumat naik perahu mengarungi Krueng Arakundo untuk mengajarkan ilmu agama kepada masyarakat Sarah Raja. Demi menghidupkan pengajian di dusun terpencil itu, dia membuang rasa takut akan tenggelam di sungai besar dan dalam lantaran tidak bisa berenang.
Tgk. Muslem berangkat menggunakan sepeda motor dari rumahnya di Dusun Tanah Merah, Desa Lubok Pusaka, Kecamatan Langkahan, Aceh Utara, ke Dusun Bidari, Lubok Pusaka, Jumat, 3 Maret 2023, sekitar pukul 07.15 WIB. Laki-laki 46 tahun itu langsung merapat ke tempat bertambat perahu di bibir Krueng Arakundo. Dia menggandeng tas berisi kitab dan sebotol air mineral.
Tgk. Muslem lalu menumpang perahu menuju Sarah Raja, Desa Leubok Pusaka. Perahu kecil itu melawan arus deras Krueng Arakundo. Pria beruban tersebut mengenakan baju pelampung untuk berjaga-jaga agar tidak hanyut dan tenggelam jika perahu karam.
Tiba di Sarah Raja, sekitar pukul 08.30 WIB, Tgk. Muslem berkeliling dusun itu sekitar 15 menit. Dia mendatangi rumah-rumah warga dan mengajak mereka ke balai untuk mengikuti pengajian.
Pengajian berlangsung sekitar 1,5 jam. Pukul 10.00 WIB, Tgk. Muslem naik perahu dari Sarah Raja ke Bidari untuk kembali ke dayahnya di Tanah Merah. Lalu, dia bergegas ke masjid untuk shalat Jumat.
“Saya membayar uang jasa perahu Rp150 ribu PP (pergi dan pulang) setiap Jumat. Karena saya ke sana untuk mengajarkan ilmu agama kepada masyarakat, ongkos perahu segitu. Tapi, kalau sewa perahu untuk keperluan lain, biayanya lebih mahal lagi,” ujar Tgk. Muslem, dihubungi portalsatu.com/, Senin, 6 Maret 2023.
***
Tgk. Muslem adalah Pimpinan Dayah Bustanul Muttaqin di Dusun Tanah Merah, cabang dari Dayah Bustanul Huda Paya Pasi, Aceh Timur. Dia mengabdi sebagai guru mengaji bagi masyarakat Sarah Raja setiap Jumat sejak awal tahun 2021.
Tgk. Muslem menceritakan, beberapa tahun lalu ia melihat sebuah video tentang kondisi Sarah Raja. “Dalam video itu saya lihat ternyata di sana ramai warga. Namun, sebagian warga tampak mengenakan pakaian tidak menutup aurat,” ujarnya.
Kondisi tersebut menggugah hati Tgk. Muslem untuk mengajarkan ilmu agama kepada masyarakat Sarah Raja. Mulanya, dia mengadakan kegiatan zikir di dusun terasing itu. Selesai zikir, Tgk. Muslem membuat pendekatan dengan masyarakat Sarah Raja. Dia menyampaikan bersedia menjadi guru mengaji secara sukarela.
“Saya meminta untuk melaksanakan kegiatan pengajian di sana. Karena mendapat respons baik dari masyarakat setempat maka mulailah saya mengajarkan pengajian sejak Januari 2021,” ucap Tgk. Muslem.
Tgk. Muslem membuka kitab Al-Bajuri dalam majelis pengajian dihadiri mayoritas ibu-ibu Sarah Raja. Dia memberikan penjelasan kepada mereka tentang hukum Islam berkaitan dengan aktivitas sehari-hari. “Tentang shalat, bacaan-bacaan dalam shalat, adab kepada suami, cara berpuasa, cara berpakaian dan mandi sesuai tuntunan agama, tata cara membersihkan kain, beras, ikan, dan sebagainya,” ujarnya.
Selama ini Tgk. Muslem juga menerima delapan anak Sarah Raja sudah tamat Sekolah Dasar (SD) untuk mondok di dayahnya guna belajar mengaji sambil melanjutkan pendidikan menengah pertama dan atas.
Saat ini ada lima anak warga Sarah Raja bersekolah di SD Dusun Sarah Gala, Desa Sah Raja, Kecamatan Pante Bidari, Aceh Timur. “Kalau lima anak itu sudah tamat SD, saya memberikan kesempatan kepada mereka tinggal di Dayah Bustanul Muttaqin. Sementara ini mereka belajar mengaji tingkat bacaan Iqra melalui orang tuanya masing-masing di rumahnya,” kata Tgk. Muslem.
Tgk. Muslem juga sudah menitipkan seorang guru mengaji di salah satu dayah di Sarah Gala. Rencananya setelah Ramadhan tahun ini, setiap Jumat sore, guru mengaji itu akan menyeberangi sungai ke Sarah Raja untuk mengisi pengajian khusus kepada lima anak tersebut. “Tujuannya agar terbantu mereka dari segi ilmu agama,” ucapnya.

[Tgk. Muslem. Foto: Istimewa]
***
Dekan Fakultas Syariah IAIN Lhokseumawe, Tgk. Muhammad Syahrial Razali Ibrahim, Lc., M.A., Ph.D., menjawab portalsatu.com/, Senin, 13 Maret 2023, mengatakan banyak Hadis menjelaskan tentang kelebihan menyebarkan ilmu. Di antaranya, “Siapa yang mengajarkan suatu ilmu kepada seseorang, maka ia akan mendapatkan pahala orang yang mengamalkan ilmu tersebut” (HR: Ibnu Majah).
“Barang siapa yang menyeru manusia kepada petunjuk (lalu diikuti), maka ia akan mendapatkan pahala semisal pahala orang yang mengikuti petunjuk tersebut” (HR: Muslim).
“Dunia ini untuk empat jenis manusia: 1). Untuk hamba yang mendapatkan harta dan ilmu, lalu ia bertakwa kepada Allah dengan harta dan ilmunya, menyambung silaturahim, dan mengajarkan manusia (semata-mata) karena Allah, maka ia berada pada martabat yang paling baik; 2) Hamba yang hanya diberi ilmu tanpa memiliki harta, dengan niat yang tulus (jujur) ia berucap, “Sekiranya aku diberi harta, sungguh akan kulakukan ini dan itu seperti sifulan”, maka ia akan dibalas dengan niatnya itu, dan pahala kedua mereka sama, baik yang berharta maupun yang tak berharta….” (HR: Tirmizi).
Lantas, bagaimana kewajiban menyebarkan ilmu, atau bahaya menyembunyikan ilmu, menurut Alquran?
“Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al Kitab, mereka itu dilaknati Allah dan dilaknati (pula) oleh semua (makhluk) yang dapat melaknati” (al-Baqarah: 159), “Kecuali mereka yang telah taubat dan mengadakan perbaikan dan menerangkan (kebenaran), maka terhadap mereka itulah Aku menerima taubatnya dan Akulah Yang Maha Menerima taubat lagi Maha Penyayang” (al-Baqarah: 160).
“Keterangan dan petunjuk termasuk di dalamnya ilmu. Menerangkan kebenaran maknanya menyampaikan ilmu dan mengajarkan orang lain,” kata Tgk. Syahrial yang meraih Doctor of Philosophy (Ph.D) Quran dan Sunah di International Islamic University Malaysia.
“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati dalam kebenaran dan nasihat menasihati dalam kesabaran” (al-‘Ashr: 1-3).
“Nasihat dalam kebenaran termasuk menyebarkan ilmu,” ucap Tgk. Syahrial yang juga salah satu pimpinan Dayah Ma’had Ta’limul Qur’an (Mataqu) Ustman Bin Affan, Lhokseumawe.
***
Perjalanan Tgk. Muslem mengarungi Krueng Arakundo menggunakan perahu dari Bidari ke Sarah Raja tidak selalu berjalan mulus. Dia pernah mengalami dua kali kejadian membuatnya takut pada Januari 2023, beberapa hari setelah banjir melanda Kecamatan Langkahan.
“Kejadian pertama, saat saya bersama tiga warga lainnya menumpang perahu berukuran kecil. Kapasitas perahu itu sebenarnya untuk tiga orang, tapi hari itu penumpangnya empat orang. Kebetulan debit air sungai masih tinggi karena banjir di Langkahan baru surut, sehingga sangat terasa oleng-oleng hingga masuk air ke dalam perahu, sebab arusnya kencang,” ujar Tgk. Muslem.
Satu kejadian lainnya, saat Tgk. Muslem bersama pengemudi perahu menuju Sarah Raja. “Di tengah sungai, perahu menabrak balok (potongan kayu besar). Saat itu, debit air juga tinggi dan deras. Sehingga bagian depan perahu terjungkal ke atas balok, hampir terbalik. Saat itu saya merasa takut, karena sebenarnya saya tidak bisa berenang, makanya saya memakai pelampung di badan,” ungkap Tgk. Muslem.
Tgk. Muslem menyatakan, “Insya Allah, kalau kesehatan saya mendukung maka selalu bersedia memimpin pengajian bagi masyarakat Sarah Raja. Ini panggilan hati saya, tidak mengharapkan apapun dari mereka”.[](nsy)








