Beranda Desember

[CERPEN] Desember

Populer

Oleh: Syukri Isa Bluka Teubai

Hujan di malam Jum’at ini tiadalah seperti biasa, berhingga sampai pada membuat anak-anak di Bale -Balai- pengajian tiada bisa pulang tepat pada pukul sembilan malam itu. Sehingga mereka harus menunggu dalam ketidak pastian waktu. Pun begitu, adalah kegiatan selingan senggang biar tidak bosan menunggu akan si hujan reda.

“Jadi malam ini, long keunak tanyong bak ureng droeneuh ban-bandum (Saya mahu bertanya kepada sekalian handai taulan)?” kata Teungku Balee pada sekalian muridnya.

“Na keuh geukhen ujeuen (Adalah dikatakan hujan), Na keuh geukhen ie njang rhet dari lang’et (Adalah dikatakan air yang jatuh dari langit), Na keuh geukhen rahmat (Adalah dikatakan rahmat), puelom malam Jum’at (Apalagi malam Jum’at). Na keuh geukhen laknak (Adalah juga dikatakan laknak)?” Teungku Balee menyudahi sejenak atas pertanyaannya itu.

Sekalian murid pun tertunduk lesu, keringat dingin mulai terasa dipori-pori mereka. Mulut tertutup rapat, tiada terdengar sesuatu kecuali suara air hujan yang kian rentap di atas bubung bale itu.

“Akankah malam Jum’at ini menjadi malam laknak atawa laknak itu sendiri akan disulap menjadi rahmat?” Rintik desahan bergelegar di dalam diri si empunya hati, Hasan nan-nya (namanya).

Sekalian murid itu masih terdiam, bahkan ada yang langsung pingsan. Mereka semua berumur di atas rata-rata. Dan di malam itu hanya dua puluh lima orang murid sahaja yang berhadir ditambah sang teungku dan ditambah satu lagi dengan si Kumbang.

Kumbang adalah harimau peliharaan sang tgk, ia tidak berwujud. Namun ma’ruf akannya dan seluruh murid yang berjumlah seratus empat orang itu tahu bahawa tgk mempunyai seekor harimau.

Kerana memang mereka sering meminta ikut gurenya memberi makan si Kumbang akan pisang mah (pisang kecil) selepas dari shalat magrib di setiap malam Senin dan Kamis. Namun untuk malam jum’at ini si kumbang datang sendiri menemani mereka. Tanpa sesiapa yang mengajaknya. Dan untuk malam jum’at ini sahaja.

Murid yang berjumlah dua puluh lima orang tadi, hanya tinggal empat sahaja dari mereka yang tiada pingsang. Mungkin empat mereka itu adalah orang-orang pilihan.

Desember, malam Jum’at dan Empat orang murid yang tiada pingsang oleh sabab pertanyaan tgk tentang hujan. Hasan pun terduduk diantara Ehsan, Chairul dan Ambia empat mereka masih ada (tiada pingsan) di malam itu.

Teungku pun tiada merasa akan keanehan terhadap mereka yang pingsan dan masih terlihat ia nya duduk dengan penuh ketenangan di tempat kebiasaannya (pada satu sudut di utara Bale). Empat sekawan tadi berbisik-bisik sesamanya dan juga tidak bisa berbuat apa-apa.

“Dan satu hal lagi yang perlu kalian ketahui, surat Al-Fatihah adalah Ummul Qur-an, contohi ia. Kerana tiada termuat kata-kata yang tiada bijaksana/sopan, seperti nama-nama neraka/hal-hal zalim di dalamnya. Oleh sabab itu, dari dua puluh delapan/dua puluh sembilan (alif/hamzah) huruf hijaiyyah. Tujuh huruf tiada terkandung di dalamnya,” Teungku Balee -Balai- terus berkata-kata di malam Jum’at itu.

“Di dalam surat Al-Fatihah, adalah termuat Dua Puluh Satu huruf dari huruf-huruf Hijaiyyah,” Teungku terdiam. Banyaklah hal yang belum diberitahukan Teungku pada sekalian mereka, dan menjadilah tugas sekaligus kewajiban sekalian murid untuk mencari tahu sendiri akanpada apa-apa yang belum diketahui oleh diri.

Dengan demikian sang Teungku pun menjawab sendiri akan sekalian pertanyaannya tentang hujan tadi, walau hanya empat mereka yang masih ada. Hujan pun reda, setelah semua pertanyaan tadi terjawab olehnya sendiri tepat pada pukul dua belas malam itu.

“Cukuplah Bale dan Empat sekawan yang menjadi Saksi pada malam Jum’at bulan Desember ini untukku menjelaskan tentang apa itu Hujan,” guman Teungku Wali sembari sebuah senyuman bahagia tercipta di mulut wajahnya.

“Kumbang, setelah malam Jum'at kemarin. Berdiskusi dan mempraktekkan jurus-jurus baru itu di hadapanmu, sungguh sampai pada malam Jum'at yang penuh berkah akan hujan ini. Seluruh badanku masih terasa letih akannya lemas pada raga ini, dan sekarang sangatlah cukup untukku beristirahat, Ambia seperti bercakap-cakap sendiri.

Setelah beberapa tahun Teungku meninggal, ia masih sangat mengingat akanpada hal-hal yang telah terjadi dan dilakoninya sewaktu tgk masih ada. Seperti sedianya ia mengenang kembali bagaimana sosok alim itu menjelaskan kepada mereka dulu tentang hujan, dan sekarang hal-hal yang demikian sudah menjadi kenangan untuk dirinya.

 Dan tiga rakannya yang dulu pun (Hasan, Ehsan dan Chairul), kini sudah tiada ianya tahu akan rimba mereka sampai pada detik ini. Oleh kerana itu, Ambia tinggallah sendiri. Dan semua amanah Teungku Wali dahulu, belumlah satupun ia jalani/tepati. Adakah kerana bersabab sendiri? 

“Mulai esok, kegiatan-kegiatan yang sudah tertunda selama sepekan kebelakang. Niscaya akan kulakukan lagi seperti biasa, mengingat lelah sudah tiada lagi/berkurang dari jasad kehidupan ini, Ambia terus seperti bercakap-cakap sendiri di tengah malam jum’at ini.

“Jangan tanyakan Aku, tentang bagaimana cara menyelesaikan berbagai laksa dan elegi yang sudah kita bahas di pertengahan malam Jum'at lalu.” Ia masih bertutur.

“Kerana di pertengahan malam rahmat ini, Aku juga musti harus membisu kaku. Biarkanlah waktu yang menjawab semua elegi-elegi yang bertuan itu. Dan kita, cukup sahaja menasbih rindu kepada Tuhan Yang Satu.” Ia pun terdiam untuk sejenak waktu.

Ambia masih ditemani oleh si Kumbang, seekor harimau jinak yang suda beberapa tahun ini selalu menemani hari-harinya itu. Adalah harimau itu menjadi dekat dengan dirinya setelah Teungku Wali meninggalkan dunia ini beberapa tahun lalu.

“Seandainya Teungku masih ada, akanlah sangat elok untuk kita bercerita. Seandainya Teungku masih ada, akanlah sangat mulia kampung kita. Seandainya Teungku tiada pernah menjinakkanmu Kumbang, Sungguh Aku tiada sanggup memikirkan. Kerana Aku tahu siapa, darimana, bagaimana, akan dirimu. Dan berbahagialah bersamaku,” Ambia berguman di dalam hati.

“Kumbang, malam Jum’at di hadapan tunggu Aku di tempat biasa. Banyak sangat laksa yang ingin kuceritakan padamu tepat di pertengahan malam Jum'at nanti. Adalah tentang hal-ihwal yang telah berlaku di awal tahun ini,” Ambia berbicara dengan makhluk ghaib tersebut.

“Padahalnya, baru beberapa hari sahaja memasuki tahun baru masehi ini. Akan tetapi sungguh sangatlah banyak elegi-elegi yang telah terjadi dan itu belum juga terlakoni.” Ia masih juga bercakap-cakap pada harimau itu.

“Seperti biasa, Pisang Mah tiada akan lupa. Biar tak melek matamu kala Aku mempraktekkan jurus-jurus baru, setelah selesai menceritakan semua laksa (Harus selesai satu persatu dulu). Dan untuk tidak salah juga, ketika Aku berkesempatan mengajari mereka tentang ‘itu’,” belum juga ia mengakhiri keluh-kesahnya.

Ambia merasakan kesedihan yang belum pernah ia rasai selama hidupnya, baru kali ini ia rasakan pada hal yang demikian. Air matannya seperti tiada akan pernah habis keluar dari tempat itu, bila mengingat pada sekalian laksa yang tengah terjadi di kampungnya itu dan sampai sekarang belum juga berakhir.

“Kumbang, seandainya Teungku masih ada. Sungguh akan lebih-lebih dan lebih banyak lagi mengetahui rahasia-rahasia yang terkandung baik di dalam Al-Qur’an atawa yang masih tersimpan sebagai rahasia. Aku masih sangat mengingat akanpada waktu-waktu itu, di kala kita masih bersamanya dahulu. Dan Aku mengenal akan dirimu duhai yang berkuku tajam sehingga sampai sekarang kita berkawan, berdasarlah darinya,” Ambia sangat bersedih hati.

Dan sampai sekarang, belum juga sekalian elegi itu terselesaikan. Ia (Ambia) masih merindukan rakan-rakannya dulu dan terus berharap, dalam waktu dekat mereka akan segera kembali untuk menyatukan kampung mereka yang sudah lama tercerai-berai oleh ketidak pastian janji.

Sampai hari ini, sekalian mereka (masyarakat) di kampungnya masih terus dibodohi. Dan herannya kenapa mereka sangat susah untuk bersatu. Padahalnya, tiadalah banyak dari tetamu/pendatang (yang bukan masyarakat asli, yang tiada berdarah merah pekat, yang bukan dari keturunan indatu) yang berada di kampung tersebut.

“Di manakah kalian duhai sekalian rakan-rakanku, eee Hasan, eee Ehsan, eee Chairul. Aku, Ambia masih menunggu kalian pulang, apabila kalian mendengar panggilanku ini, bersegeralah pulang,” Ambia sangat bersemangat.

“Pada bintang dan bulan sudah kubisikkan, mereka (bintang/bulan) adalah kendaraan. Dengan hati yang bersahaja mereka akan bersedia menjemput di manapun kalian berada,” pemuda itu seperti orang kerasukan sahaja di tengah malam Jum’at yang penuh rahmat akan hujan ini.[]

*Syukri Isa Bluka Teubai, salah seorang alumnus angkatan kedua-2015 Sekolah Hamzah Fansuri.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita terkait

Berita lainya