SIGLI – Para petani di sejumlah lokasi dalam Kabupaten Pidie terpaksa memanen padi sebelum saatnya. Pasalnya, tanaman padi mereka digasak hama ulat dan hama gosong (walang sangit).
Serangan hama ulat merupakan ancaman paling berbahaya bagi petani. Hama tersebut menyerang begitu cepat dengan cara memotong bagian tangkai padi (canek) hingga berserakan di tanah. Bahkan diperkirakan dalam satu malam ada seper empat dari dari tangkai (mu pade) digerek ulat. Kondisi itu membuat hasil panen menurun drastis.
Yanti, seorang petani di Kecamatan Pidie, Selasa 25 April 2017 mengatakan, dirinya terpaksa harus memanen padi lebih cepat meski belum saatnya panen, karena serangan hama ulat.
“Kita tidak mungkin mempertahankan lagi dan terpaksa memanen lebih cepat. Kalau tidak, semuanya akan habis digerek ulat,” terangnya.
Yanti menambahkan, adapun jenis ulat yang mengerek bertanduk dan berukuran besar. Upaya penyemprotan tidak mungkin lagi dilakukan, mengingat masa panen sudah dekat, dan dikhawatirkan berbahaya bagi kesehatan saat dikonsumsi.
Hal senada juga dituturkan Abdullah, petani lainnya. Bahkan, selain ulat juga ada serangan hama walang sangit, sehingga tidak mungkin dipertahankan lagi.
“Bukan ulat saja, tapi geusong juga banyak menyerang tanaman padi kami,” tuturnya.
Memang, lanjut dia berdasarkan perhitungan musim orang tua mereka terdahulu yang dipercayakan turun temurun, bulan April merupakan bulan wabah hama ulat. Sehingga para petani berupaya masa panennya tidak masuk pada bulan tersebut.
“Memang, hasil produksi padi tahun secara umum bagus jika dibandingkan tahun lalu. Tetapi itu bagi mereka yang masa panennya sebelum bulat April atau tepat waktu. Sedangkan bagi yang telat masa panen sedikit berkurang,” terang Abdullah.[]

