SUBULUSSALAM – Dinas Pertanian, Perkebunan dan Perikanan (Distanbunkan) Kota Subulussalam menggelar rapat khusus dengan sejumlah perusahaan perkebunan kelapa sawit berlangsung di kantor Distanbunkan setempat, Jumat, 30 Juli 2021.
Rapat tersebut membahas program kemitraan antara Pemerintah Kota Subulussalam melalui Distanbunkan
dengan perusahaan perkebunan kelapa sawit di Bumi Syekh Hamzah, terkait realisasi kebun plasma dan program Corporate Social Responsibilty (CSR).
Kepala Distanbunkan Kota Subulussalam, Junifar, S. Sos mengatakan melalui pertemuan itu pihaknya meminta pihak perkebunan kelapa sawit segera mewujudkan kebun plasma sebagaimana di atur dalam UU Nomor 39 Tahun 2014.
Baca Juga: Walkot Bintang Pimpin Rapat Forkopimda Bahas HGU dan Tapal Batas
Lebih jauh Junifar menjelaskan, jika merujuk pada UU Nomor 39 Tahun 2014 Pasal 58 tentang kemitraan usaha perkebunan ayat 1 disebutkan bahwa perusahaan perkebunan yang memiliki izin usaha perkebunan wajib memfasilitasi pembangunan kebun masyarakat paling rendah seluas 20% dari total luas area kebun.
Junifar mengatakan, pertemuan ini nantinya akan terus berlanjut untuk mengevaluasi sejauh mana kesiapan pihak perusahaan untuk merealisasikan kebun plasma, realisasi CSR terhadap masyarakat sekitar perkebunan.
Dalam pertemuan itu, M. Candra Ginting dari PT Bangun Sempurna Lestari (BSL) mengatakan terkait program CSR pihaknya menyalurkan berupa bantuan jika diakumulasikan sekitar Rp 150 juta per tahun.

Bantuan itu, kata Candra Ginting meliputi hewan qurban saat Idul Adha, sumbangan kepada warga kemalangan dan pesta serta honor guru madrasah di Kampung Sikalondang dan Kilometer 11, termasuk perbaikan jalan.
Sedangkan perwakilan dari PT Laot Bangko
Wahyudi mengatakan terkait plasma, pihaknya sedang menyiapkan lahan 20 persen dari luas HGU. Saat ini proses perlengkapan berkas seperti legalitas dari pemilik dan berkoordinasi dengan BPN diupayakan segera terealisasi.
Tim Ahli Distanbunkan Kota Subulussalam dari Earthworm Foundation, Mainul Sofyan mengatakan jika CSR terprogram dengan baik bisa mengangkat kesejahteraan masyarakat sekitar.
Sofyan menyebutkan kehadiran mereka di sini, untuk membantu pemerintah Kota Subulussalam, memberikan pendapat saran dan masukan serta pendampingan kepada pemerintah menyampaikan pola penyaluran CSR yang baik untuk mendorong peningkatan kualitas kehidupan masyarakat di sekitar area perkebunan.
Baca Juga: Tingkatkan Imunitas, Puluhan Jurnalis Subulussalam Disuntik Vaksin
Menurutnya, jika program CRS hanya berupa bantuan sekilas misalnya Rp 200 ribu sampai Rp 300 ribu, tidak memberikan bekas dan tidak berpengaruh signifikan terhadap kesejahteraan masyarakat.
Padahal, kata Mainul Sofyan, jika CSR disalurkan secara terstruktur, misalkan setiap tahun perusahaan menyediakan dana CSR Rp 50 juta dalam lima tahun Rp 250 juta.
Maka, dana tersebut bisa digunakan untuk program tepat sasaran, misalnya bantuan pendidikan bagi anak-anak warga yang berada di sekitar perusahaan.
Hal ini bisa terwujud, jika ada komitmen bersama untuk membantu masyarakat lewat program CSR dari perusahaan perkebunan kelapa sawit yang ada di Kota Subulussalam.
Kabid Perkebunan Andriansyah mengatakan, pertemuan ini tidak sampai di sini saja, ke depan pihak perkebunan diminta menyampaikan laporan per semester ke Distanbunkan Kota Subulussalam untuk menindaklanjuti kesepakatan dari PKS dan HGU terkait program kemitraan.
Hadir dalam rapat tersebut perwakilan dari perusahaan di antaranya PT BSL M Candra Ginting, PT Laot Bangko Wahyudi, PT GSS Husni H Lubis, PT Asdal Robet Tampu Bolon, PT MSSB STP Group Ezar Primananda, Idir Ali dari Yayasan HAKA, Sekretaris Distanbunkan Herwinsyah, Kabid Perkebunan Andriansyah serta Mainul Sofyan bersama Kasraji dari Earthworm Foundation.[]








