BANDA ACEH – Tiga dosen dari Jurusan Seni Pertunjukan Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Aceh melaksanakan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) di SOS Children’s Village Banda Aceh.

PKM merupakan salah satu pilar tri dharma perguruan tinggi yang dalam pelaksanaannya tidak terlepas dari dua dharma lainnya yaitu penelitian dan pengajaran. PKM biasanya melibatkan segenap sivitas akademik, yaitu dosen, mahasiswa, tenaga kependidikan, serta alumni.

Melalui pengabdian masyarakat, ISBI Aceh hadir di tengah-tengah masyarakat khususnya untuk menawarkan ruang kreatif dalam membangun kemitraan yang bertujuan mendukung “Mewujudkan Lembaga Pendidikan Tinggi Seni dan Budaya” yang menghasilkan insan akademis, kreatif, mandiri, berkepribadian, dan berbudaya.

Sejalan dengan visi dari ISBI Aceh tersebut, LPPMPMP ISBI Aceh membuka peluang bagi dosen yang mengajukan proposal dan melewati proses review yang disetujui untuk melaksanakan PKM yang didanai PNBP ISBI Aceh.

Salah satu PKM yang disetujui LPPMPMP ISBI Aceh adalah Pelatihan Rias Pengantin dan Henna Art di SOS Children’s Village Banda Aceh. Pengabdian ini dilaksanakan tiga dosen dari Jurusan Seni Pertunjukan ISBI Aceh yang diketuai Dwindy Putri Cufara, M.Sn., beranggotakan Fani Dila Sari, M.Sn., dan Rico Gusmanto, M.Sn.

Ketiga tim pengabdian ini dibantu tiga mahasiswi. Kagiatan diawali pembukaan dan pelatihan henna Art pada 11 Juni 2022, dilanjutkan esok hari (12/6) dengan tajuk Rias Pengantin.

Kegiatan selama dua hari ini diikuti anak didik remaja putri SOS Children’s Village Banda Aceh. Kegiatan ini dihadari sekretaris LPMPMP ISBI Aceh dalam mengisi kata sambutan sekaligus membuka kegiatan pelatihan. Juga hadir Ketua SOS Children’s Village Banda Aceh, Rinaldi Hasan, serta Sinta yang merupakan pembina dari remaja putri.

Rinaladi Hasan menyebutkan Pelatihan Rias Pengantin dan Henna Art akan sangat bermanfaat bagi remaja putri SOS Children’s Village Banda Aceh. Karena jika ditekuni dan memiliki skill dalam bidang ini akan terbangun kemandirian dan peluang profesi bagi peserta didik.

Menurut Sinta, SOS Children’s Villages adalah organisasi sosial nirlaba non-pemerintah yang aktif dalam mendukung hak-hak anak dan berkomitmen memberikan anak-anak yang telah atau beresiko kehilangan pengasuhan orang tua kebutuhan utama mereka. Yaitu keluarga dan rumah yang penuh kasih sayang serta berfokus di bidang pengasuhan, pendidikan, dan kesehatan, yang berusaha memberi kehidupan lebih baik untuk anak-anak Indonesia.

Di program pengasuhan berbasis keluarga, SOS Children’s Villages memastikan anak-anak yang telah kehilangan pengasuhan orang tua dapat memiliki rumah, ibu, kakak, dan adik selayaknya sebuah keluarga dan membentuk sebuah komunitas yang disebut sebagai Desa Anak, sehingga mereka bisa memiliki masa depan yang lebih baik.

Di Indonesia, terdapat 8 Desa Anak atau disebut village yang tersebar di 8 kota yaitu Banda Aceh, Meulaboh, Medan, Jakarta, Lembang, Semarang, Tabanan, dan Flores.

Sinta juga menyampaikan “kami membantu anak-anak kami hingga mereka siap untuk mandiri, membantu diri mereka sendiri. Kami memberikan anak-anak pendidikan dan kemampuan yang mereka butuhkan untuk menjadi orang dewasa yang independent. Dan meskipun mereka tumbuh dewasa dan mandiri mereka akan selalu memiliki keluarga SOS mereka”.

Oleh karena itu, Sinta berterima kasih kepada institusi yang mau bermitra dengan SOS untuk memberikan pelatihan agar peserta didik memiliki skill dan melirik peluang profesi agar mampu menjadi insan mandiri nantinya.

“Pada kesempatan PKM yang dilaksanakan dosen Jurusan Seni Pertunjukan ISBI Aceh, kami sangat berterima kasih dan berharap semoga kegiatan ini berlanjut dan terus bersama membangun kepedulian terhadap anak-anak bangsa Indonesia,” ujarnya.

Pelatihan berbasis workshop yang dilaksanakan selama dua hari ini mendapatkan hasil yang sangat memuaskan. Diketahui dari 10 peserta, 7 di antaranya telah mampu mengaplikasikan ilmu dan skillnya secara apik. Hal ini dibenarkan instruktur dan tim pengabdian yang mengevaluasi hasil demonstrasi peserta pada setiap sesi akhir pelatihan.

Tim pengabdian bersama pimpinan SOS Children’s Village Banda Aceh juga memberikan semangat kepada peserta lain yang belum mahir dalam melukis henna dan rias pengantin agar terus belajar dan optimis demi peluang usaha di masa kini dan mendatang.[](ril)