BANDA ACEH – Sorot lampu panggung malam itu terasa begitu hangat bagi Patria Briliyan Amin dan Syathira Aleta Rasha. Dua santri utusan Dayah Insan Qurani (IQ) ini sukses memboyong dua trofi juara kedua dalam ajang Lomba Public Speaking Tahun 2026 tingkat Madrasah Aliyah (MA) se-Aceh.

Perlombaan bergengsi untuk Santri Dayah Kabupaten Aceh Besar dan Kota Banda Aceh yang digagas oleh Dinas Pendidikan Dayah Aceh ini berlangsung di Hotel Madinatul Zahra, Aceh Besar, selama tiga hari, 22-24 Agustus 2026.

Patria Briliyan Amin menorehkan prestasi gemilang sebagai Juara II kategori putra dengan raihan nilai impresif 94,20. Langkah manis ini diikuti sejawatnya, Syathira Aleta Rasha, yang menyabet Juara II kategori putri setelah mengumpulkan total nilai 93,50.

Persaingan di atas panggung dakwah ini terbilang sangat ketat. Nilai kedua utusan Dayah IQ tersebut hanya terpaut tipis dari sang juara bertahan.

Untuk kategori putra, Juara I diraih oleh Ahmad Syakir Mubarak dari Dayah Darul Ihsan Abu Hasan Krueng Kalee dengan nilai 95,00. Sementara mahkota Juara I kategori putri dibawa pulang oleh Cut Alisa Maharani, utusan Pesantren Modern Al Manar, dengan skor 94,00.

Adapun posisi Juara III untuk kedua kategori diborong oleh duo utusan Dayah Ruhul Islam Anak Bangsa (RIAB), Fais Hafiz dan Zahratus Shulfi ZT, yang kompak mengantongi nilai kembar 91,50.

Kebanggaan dan Harapan dari Dayah IQ

Rasa syukur dan haru tak bisa disembunyikan oleh Pimpinan Dayah Insan Qurani, Ustaz H. Muzzakir Zulkifli, S.Ag. Baginya, pencapaian ini adalah buah dari kerja keras dan ketekunan para santri dalam menempa diri.

“Alhamdulillah, di ajang Lomba Public Speaking Tahun 2026 yang diselenggarakan Dinas Dayah Aceh, kedua santri utusan dari dayah kita sangat membanggakan. Keduanya meraih juara II untuk tingkat MA baik kategori putra maupun putri,” ujar Ustaz Muzakkir dengan nada penuh syukur, Senin, 24 Agustus 2026.

Muzakkir berharap, keberhasilan Patria dan Syathira tidak berhenti sebagai kebanggaan pribadi, melainkan mampu menyalakan api semangat bagi santri-santri lainnya.

“Torehan kedua santri ini semoga menjadi motivasi bagi adik-adik mereka yang masih duduk di jenjang MTs dan MA, baik putra maupun putri, untuk terus membawa harum nama Dayah Insan Qurani,” tuturnya.

Ia juga menambahkan bahwa tradisi mengukir prestasi ini harus tetap dijaga. “Alhamdulillah, dari berbagai ajang lomba atau kompetisi tingkat dayah, utusan Dayah IQ kerap membawa harum nama dayah dengan meraih juara. Harapan kita semoga ini terus dipertahankan,” kata Muzakkir optimis.

Lebih dari Sekadar Panggung dan Piala

[Kadis Pendidikan Dayah Aceh, Muhsin Thahir, berfoto bersama para juara dan Panitia Perlombaan Public Speaking Santri Dayah, di Hotel Madinatul Zahra, Aceh Besar, Minggu (23/8/2026) malam. Foto: Ig Humas Dayah]

Malam penganugerahan hadiah yang berlangsung pada Minggu, 23 Agustus 2026, menjadi momentum penting. Kepala Dinas Pendidikan Dayah Aceh, Muhsin Thahir, S.Pd.I., M.Pd.I., mengingatkan bahwa esensi dari lomba ini jauh lebih besar dari sekadar piala atau selebrasi di atas panggung.

Menurut Muhsin, cakap berbicara di depan publik adalah bekal hidup yang krusial bagi seorang santri. Di era modern ini, santri tidak hanya dituntut menguasai ilmu agama di dalam ruang kelas, tetapi juga harus lihai menyampaikannya kepada dunia luar.

Public speaking ini penting bagi santri karena nantinya mereka akan berhadapan langsung dengan masyarakat. Santri harus mampu menyampaikan ilmu, berdakwah, menyampaikan gagasan, dan menjadi bagian dari solusi di tengah masyarakat,” ungkap Muhsin di hadapan para peserta, seperti dikutip dari salah satu media online.

Menata kata dan menyampaikan gagasan, lanjut Muhsin, bukan sekadar modal nekat atau keberanian tampil. Di dalamnya ada seni menyusun ide, ketepatan memilih diksi, serta cara membangun rasa percaya diri agar pesan kebaikan bisa meresap ke hati pendengar.

Oleh karena itu, ia menitip pesan agar ruang-ruang latihan di dayah terus dihidupkan. Kompetisi ini harus menjadi pemantik awal bagi para santri untuk terus mengasah kemampuan komunikasi mereka dalam kehidupan sehari-hari.

“Santri harus berani berbicara, tetapi juga harus memiliki substansi dalam apa yang disampaikan. Keberanian harus diikuti dengan ilmu, akhlak, dan kemampuan menyampaikan pesan dengan cara yang baik,” tegas Muhsin.

Di tengah gerak zaman yang serba cepat, kemampuan komunikasi yang persuasif akan menjadi jembatan bagi generasi muda Aceh untuk mengambil peran strategis. Pihak dinas berharap, alumni-alumni dayah ke depan siap berdiri di garis depan sebagai pemimpin, pendidik, dan penggerak kemajuan masyarakat.[]