LHOKSUKON – Malam merambat perlahan di Lapangan Upacara Kantor Bupati Aceh Utara, Landing, Kecamatan Lhoksukon, Sabtu, 12 September 2026. Di tengah kepungan lampu stan dan riuh rendah suara manusia yang merayakan Milad Kabupaten Aceh Utara dan Samudra Pasai “ke-800”, sebuah aroma magis menyeruak ke udara. Aroma gurih mi yang ditumis di dalam wajan besar seketika mengeluarkan uap, membelah dinginnya angin malam.
Di sudut belakang deretan stan kecamatan, orang-orang tampak berdesakan, membentuk antrean panjang yang mengular. Mereka rela berdiri berjam-jam bukan hanya demi menuntaskan lapar, melainkan untuk menyaksikan sebuah pertunjukan visual yang tak biasa.
Di balik kepulan asap wajan raksasa itu, seorang pria dengan gaya rambut unik yang menyerupai tempurung kura-kura sedang beraksi. Dialah Armia, pria asal Gampong Teungku Dibanda Pirak, Kecamatan Paya Bakong, yang kini lebih kondang disapa Bang Baneng.
Malam itu, di tangan Bang Baneng, mi bukan sekadar karbohidrat yang pasrah diaduk bumbu. Pria berambut nyentrik ini menyuguhkan teatrikal kuliner. Dengan gerakan tangkas, mi diangkat tinggi-tinggi menggunakan alat masak berukuran panjang, ditimang di udara, lalu dijatuhkan kembali ke dasar wajan besi yang panas. Asap mengepul hebat, menerbitkan rasa lapar bagi siapa saja yang memandang.
“Bang Baneng, mi pesanan saya sudah siap belum?” teriak seorang pengunjung dari tengah kerumunan, mencoba memecah antrean. Dengan senyum ramah yang tak lepas dari wajahnya, Armia menyahut pelan seraya tangannya terus menari mengaduk mi.
Keunikan racikan dan aksi Armia rupanya memikat hati orang nomor satu di Aceh Utara. Sejak membuka lapaknya pada 9 September 2026 dalam rangkaian Piasan Pase, Bupati Aceh Utara, Ismail A. Jalil—akrab disapa Ayahwa—bahkan sampai dua kali menyambangi lapak sederhananya. Tak sekadar menyapa formalitas, Ayahwa ikut melebur bersama warga, duduk dan mencicipi langsung kelezatan mi legendaris tersebut.
Berawal dari Getir Hidup di Atas Pohon Manggis
Popularitas dan antrean yang mengular malam ini tidak jatuh dari langit. Di balik riuh tepuk tangan pengunjung Piasan Pase, ada kisah perjuangan hidup seorang perantau yang sempat terhimpit pahitnya ekonomi.
Kepada portalsatu.com pada Sabtu (12/9) malam, Armia membuka lembaran kisahnya dengan nada suara yang bergetar penuh haru.
“Awalnya, ide ini muncul ketika saya sedang berada dalam kondisi ekonomi yang sulit setelah pulang merantau dari Jakarta. Sudah lama saya kembali ke gampong (desa), sementara saya tidak memiliki pekerjaan tetap. Tabungan pun semakin menipis, sehingga untuk membuka usaha saja saya tidak memiliki modal,” ungkap Armia jujur.
Kembali ke kampung halaman tanpa pegangan hidup yang pasti memaksanya memeras otak. Ruang gerak modal yang nihil membuatnya harus memutar kreativitas dari apa yang disediakan oleh alam sekitarnya.
“Saya sempat berpikir, kalau harus menyewa ruko untuk berjualan, dari mana saya mendapatkan modalnya. Dalam kondisi seperti itu, saya mencoba memanfaatkan apa saja yang ada di sekitar. Buah pinang dan manggis pun saya kumpulkan dan dijual untuk mendapatkan uang,” kenang Armia.
Keterbatasan itu justru melahirkan keajaiban. Dari atas dahan pohon manggis di pekarangan rumahnya di Paya Bakong, sebuah ide gila lahir: memasak mi di atas pohon. Hanya bermodal kompor, wajan, bahan seadanya, dan sebuah kamera ponsel, Armia merekam aksinya lalu mengunggahnya ke akun TikTok “bangbaneng”. Slogan “Memasak di atas pohon pertama kali dilakukan di Aceh” seketika meledak di dunia maya, bergulir viral, hingga membawanya masuk ke layar kaca televisi nasional.
Kini, kreativitas dari pelosok gampong terpencil itu membuahkan hasil manis. Bang Baneng mulai dilirik sebagai influencer. Pintu rezeki terbuka lebar lewat berbagai tawaran endorsement, mulai dari mempromosikan merek smartphone ternama hingga usaha perhiasan emas di Kota Langsa.
Ludes Puluhan Kilo, Omzet Menembus Jutaan Rupiah
Jika dulu Armia hanya memasak untuk kamera ponsel atau konsumsi warga gampong, kini di arena Piasan Pase, wajannya harus melayani ribuan lidah pengunjung yang penasaran. Grafik penjualannya melonjak tajam seiring malam yang makin meriah.
“Pada hari pertama saya membuka lapak dalam rangkaian acara Piasan Pase pada 9 September 2026, kami hanya menyediakan 25 kilogram mi untuk dimasak. Hari kedua meningkat menjadi 40 kilogram, hari ketiga 50 kilogram, dan malam ini (Sabtu malam) menyiapkan 65 kilogram. Alhamdulillah, semuanya habis diborong pelanggan,” cetus Armia dengan mata berbinar bahagia.
Di tengah kepungan pembeli yang tak putus-putus, Armia dibantu oleh tiga orang sahabat karibnya dari gampong. Mereka berbagi tugas; ada yang membungkus, menerima uang, hingga bertindak menenangkan situasi antrean yang riuh. Keringat yang bercucuran malam itu terbayar lunas oleh lembaran rupiah yang masuk ke kantong mereka.
“Kalau omzet per hari memang bervariasi. Saya masih ingat, saat disediakan mi sebanyak 50 kilogram, omzet yang diperoleh sekitar Rp3,6 juta. Sementara malam ini dengan jumlah mi mencapai 65 kilogram, omzetnya ada Rp5 juta dan seluruhnya habis terjual,” tutur Armia merinci rezekinya.
Lapak legendaris di atas tanah Piasan Pase ini memang tergolong singkat, hanya beroperasi selama lima hari, dari tanggal 9 hingga 13 September 2026. Bagi Armia, kesempatan emas ini adalah sebuah batu loncatan besar yang tak akan pernah ia lupakan dalam hidupnya.
“Saya mengucapkan terima kasih banyak kepada Bupati Aceh Utara dan panitia pelaksana yang telah memberikan kesempatan kepada saya untuk membuka lapak. Saya juga sangat berterima kasih, karena Bapak Bupati telah menyempatkan diri mengunjungi lapak kecil kami. Bagi saya, kunjungan tersebut menjadi motivasi tersendiri untuk terus berjualan dan mengembangkan usaha kuliner,” pungkas Armia menutup obrolan malam itu.
Ketika malam kian larut dan Piasan Pase bersiap memadamkan lampunya, kisah Bang Baneng membuktikan satu hal: dari sebuah pelosok sunyi dan sebatang pohon manggis, kreativitas dan keteguhan hati bisa mengantarkan siapa saja ke tengah panggung kehormatan. Warga tak hanya pulang dengan perut kenyang, melainkan membawa pulang cerita tentang sebuah inspirasi.[]








