*oleh Ajmir Akmal

Bulan Ramadan tahun ini jatuh pada 6 Juni 2016 bertepatan dengan 1437 Hijriah. Ramadan menjadi momen penting bagi seluruh umat muslim di dunia untuk mengekspresikan diri dengan beragam bentuk. Salah satunya adalah melihat dimensi perjuangan pahlawan menjalani ibadah Puasa walau dalam situasi melawan penjajah. Tulisan ini mencoba memberikan pencerahan hakikat dan dimensi perjuangan pahlawan dalam pelaksanaan ibadah Puasa walau dalam kondisi berperang sekalipun.

Tidak lepas dari ingatan betapa besar jasa dan perjuangan pahlawan mengusir penjajah walau dalam keadaan kritis sekalipun. Namun yang menjadi pertanyaan awam adalah apakah perjuangan pahlawan sudah berakhir? Bagaimana melanjutkan perjuangan pahlawan di era masa kini? Bukankah perlawanan bukan sekadar melawan penjajah, tetapi jauh dari ada esensi perang yang lebih besar yang harus hadapi dengan sigap, yaitu melawan hawa nafsu, salah satunya dengan berpuasa.

Dengan melihat luasnya aspek, mengembalikan mental  perjuangan perang melawan penjajah untuk  menjadi dasar perjuangan melawan hawa nafsu menjadi penting diketahui oleh seluruh masyarakat, khususnya para pemuda generasi penerus masa depan bangsa.

Harmonisasi antar-elemen masyarakat menjadi prasyarat untuk mewujudkannya. Oleh karena itu, keterlibatan masyarakat dalam semua proses itu harus dikedepankan, yang pada akhirnya merekalah sebagai penentu jalan tidaknya semua proses yang direncanakan. Lalu, di antara masyarakat itu, generasi mudalah yang mestinya mendapatkan tempat karena merekalah kelompok yang paling rentan terhadap “kelunturan sejarah” perjuangan pahlawan dan dimensi kebudayaan “endatu” yang kian tergerus oleh perubahan zaman.

Tentu apa yang selama ini dirintis oleh pemerintah dan masyarakat lokal dalam menjaga tradisi dan kesejarahan bangsa patut diapresiasikan. Namun, perlu juga dilakukan upaya untuk mempertajam peran masing-masing pihak sehingga apa yang dilakukan bisa lebih dipertanggungjawabkan dan dapat memberikan dampak positif terhadap generasi masa depan.

Perjuangan Pahlawan Aceh

Dalam konteks kepahlawanan Aceh, penulis memandang keteladanan dari seorang pejuang perempuan Aceh, salah satunya adalah Cut Nyak Dhien yang merupakan pahlawan perempuan yang lahir dan besar di Aceh. Beliau merupakan istri panglima perang Teuku Umar.

Pada masa penjajahan Belanda, setelah Teuku Umar mangkat, Cut Nyak Dhien mengambil peran dalam perjuangan melawan Belanda. Perjuangan bukan sekadar  batas negara, kedudukan harta, melainkan juga demi menjaga agama dan martabat bangsa.

Cut Nyak Dhien dan para pejuang masuk dan keluar hutan belantara Aceh demi mengusir Belanda. Berkat perjuangannya, Cut Nyak Dhien kini bukan hanya dikenang sebagai pahlawan perempuan dari Aceh, melainkan juga pahlawan nasional.

Semasa perjuangan, Cut Nyak Dhien kokoh menjaga akidah dan mengembangkan agama Islam. Hingga di akhir perjuangan, beliau menderita sakit, penglihatan terganggu, tetapi tetap berjuang. Seketika itu kondisi beliau semakin lemah dan sakit kian parah.

Salah seorang pengawal, juga bekas panglima perang, dan seorang anak berusia 15 tahun bernama Teuku Nana memutuskan menyerahkan Cut Nyak Dhien kepada Belanda untuk mendapatkan pengobatan.

Dengan kondisi Cut Nyak Dhien yang kian memburuk, Belanda membawanya ke Pulau Jawa bersama pengawal. Di sana, tepatnya di Semedang, beliau ditawan oleh Belanda. Ketika itu perjuangan Cut Nyak Dhien tetap dilanjutkan di Pulau Jawa.

Sejak di Sumedang dan tinggal bersama keluarga H. Ilyas, kondisi beliau sudah sakit-sakitan dan tidak bisa melihat. Namun, kemampuan beliau menghafal Alquran membuat warga Sumedang, khususnya ibu-ibu di lingkungan Masjid Agung Sumedang terkagum-kagum.

Sungguh kisah perjuangan Cut Nyak Dhien ini harus diketahui generasi Aceh. Ketabuan akan sejarah perjuangan perang dan perjuangan syiar Islam oleh pahlawan harus diantisipasi dengan bijak. Mengingat perkembangan dinamika zaman, maju pesatnya teknologi informasi membuat generasi terlena dengan budaya baru dan menghilangkan budaya indatu yang telah diwariskan. Karenanya tulisan ini merupakan curahan hati penulis melihat kondisi generasi Aceh yang kian terpuruk dengan perkembangan zaman.

Sudah saatnya kita menjadikan Ramadan sebagai momen mengembalikan perjuangan pahlawan dalam mempertahankan negeri berjuluk “Serambi Mekah” ini seperti yang diperjuangkan oleh n?k syiek

Saat ini esensi perjuangan bukanlah dengan angkat senjata dan berperang, tidak harus keluar masuk hutan. Esensi perjuangan yang dibutuhkan saat ini adalah  memaksimalkan pendidikan, perbaikan akhlak, dan menghidupkan kembali  tradisi pengajian “beut” di malam Ramadan. Dikatakan demikian karena  petuah dan tradisi bulan Ramadan akhir-akhir ini mulai meredup.

Menurut hemat penulis, sepuluh tahun yang  lalu ketika  tiba bulan Ramadan, aktivitas  éh di meunasah (tidur di musala) sudah menjadi tradisi dan kebiasaan generasi muda dulu. Di sana mereka bertadarus.  Tak hanya itu, éh di meunasah menyebabkan semarak sahur selalu bergema.

Lantas, tantangan kita saat ini adalah mampukah mengembalikan budaya dan tradisi itu, dan mampukah kita melanjutkan perjuangan Cut Nyak Dhien menjaga agama.

Perspektif Perjuangan “Pahlawan Masa Kini”

Kini masyarakat kita menjadi dilematis dalam memaknai kepahlawanan, padahal yang berhasil melawan hawa nafsu juga merupakan pahlawan. Bukankah Rasulullah juga pernah mengingatkan sahabat bahwa perang terbesar kita adalah melawan hawa nafsu.

Sudah seharusnya masyarakat kita memahami nilai-nilai perjuangan yang dikobarkan oleh para pahlawan dulu untuk membangkitkan semangat “pahlawan” masa kini dalam arena perjuangan melawan hawa nafsu.

Banyak perspektif  ketokohan yang dapat kita jadikan pedoman dan panutan dari esensi perjuangan perang, katakanlah dalam konteks Aceh muncul  panglima perang perempuan bernama Cut Nyak Dhien. 

Perjuangan bukan sekadar melawan kafir, melainkan juga melawan hawa nafsu dan tentunya bukan hal yang mudah menjalani keduanya dalam satu kondisi. Begitulah kira-kira gambaran perjuangan para pahlawan tempo dulu.

Namun, kini memaknai perjuangan itu tidaklah sama halnya seperti perjuangan masa lalu, tetapi mengapa perjuangan nafsu sekarang terasa lebih berat? Bukankah lebih mudah. Ini tantangan bagi kita semua masyarakat Aceh.[]

Ajmir Akmal adalah mahasiswa Pascasarjana IPB, Pengurus Ikatan Mahasiwa Pasca Sarjana Aceh-Bogor (IKAMAPA)