HARI pergelaran Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) ke-7, akan berlangsung sekitar satu pekan lagi, yakni 5-15 Agustus 2018. 

“Bakal bunga-bunga yang dibawa itu terlalu kecil, siang semacam ini saja terlihat seperti telah hangus,” kata Abdullah berkata kepada temannya Sahron, terkait sebaris bakal bunga kecil bewarna kuning yang terlihat mulai layu.

Ditanya tentang dimana mengambil air untuk menyiram tanaman yang baru mereka semai tersebut, mereka menunjuk ke arah yang berjarak beberapa puluh meter agak jauh dari taman dan katanya mereka membawa air itu dari sana dengan menggunakan kereta sorong untuk menyiram tanaman bunga.

Sementara seorang petugas lainnya, Sahron terlihat terus membersihkan rumput-rumput di taman kecil berpagar beton setumit yang berbentuk segitiga itu.

Bakal bunga-bunga itu di tanam jarang-jarang, di sekelilingnya ditanam bunga Asoka, dan di tengahnya ditanam bunga sikawet, dan di sebelah sisi lainnya juga ditanam bunga tubai lalat.

Setelah melihat tak ada satupun jenis dari bunga mawar yang ditanam, namun ketika menanyakan soal itu mereka mengatakan, mereka hanya menanam apa yang dibawa oleh pemerintah. Pertanyaan tersebut terlontar disebabkan pada fakta pada setiap sebutan ‘Taman’, sebagian orang  tentu meyakini bahwa itu identik dengan mawar.

Sekilas tentang kisah unik Abdullah sang ‘penjaga taman’ Iinilah ceritanya.

Sebelum menjadi penjaga taman di sana, dahulu ia berprofesi sebagai penjual obat keliling, dan kemudian terakhir ia bergelut dengan dunia jualan obat-obatan tradisional ketika datangnya musibah tsunami 2004 datang.

“Pagi itu saya bertiga sesama tim penjual obat keliling, sedang berada di Kota Lampaseh, Banda Aceh. Tsunami pun datang setelah terjadi gempa dahsyat dan kedua temannya hilang terseret arus ketika mencoba menyelamatkan mobil yang mereka pakai untuk berjualan yang kebetulan berada agak jauh dari tempat mereka sedang duduk,” ceritanya.

Setelah musibah itu, Abdullah mencoba melamar pekerjaan ke dinas kebersihan, dan syukur, lamarannya pun diterima. Tak lama bekerja di sana kemudian beralih menjadi pekerja tetap di taman itu bersama beberapa pekerja lainnya. Katanya, jam masuk kerja dari pukul delapan ke pukul lima petang, hari Sabtu dan Minggu libur.

Petang ini, Abdullah dan Sahron mengambil sebuah tong sampah bersama sapu dan perkakas lainnya. Tong itu terseret dengan ban kecilnya, langkah-langkah mereka terus menuju ke depan panggung utama, hari beberapa puluh menit lagi akan tiba jam beristirahat.

Petang ini Rabu 25 Juli 2018, di mana-mana di taman itu terlihat mulai sibuk, dan untuk melihat lebih lanjut apa saja yang sedang mereka lakukan menjelang PKA 7. Di bagian lain, di sana juga terlihat seorang pemuda juga sedang duduk sambil memperhatikan seorang temannya yang sedang mencat dinding bagunan yang ada di depannya.

Ketika ditanya, ia mengatakan bahwa itu adalah ruang tempat penyimpan travo yang berfungsi untuk menyiapkan arus listrik untuk segala keperluan terutama di PKA.

“Pihak pemerintah telah memberi tenggat waktu, tanggal 31 Juli 2018, segala persiapan ini harus kami selesaikan,” katanya.

Tak jauh di sebelah utaranya terlihat beberapa pemuda sedang membangun fasilatas WC umum baru, sementara di beberapa bagian tepi jalan, parit-parit juga masih terlihat kerusakan-kerusakan kecil yang yang membutuhkan perawatan.

Di mana-mana para pemuda di hampir semua anjongan, siang menjelang petang ini terlihat tengah  mengecat dinding bangunan yang berciri khas daerah mereka masing-masing.

Sementara di belakang sebuah anjongan lainnya, tiga orang pemuda tengah menggemburkan tanah dan memisahkan rumput-rumput dengan tangan mereka.

“Tanah ini sudah seharusnya diganti dengan satu truk tanah yang gembur yang bisa ditanami tanaman bunga,” ujar salah seorang dari mereka yang lebih tua. Mereka mengluh dengan kondisi tanah yang kering.

Namun, di sebuah tiang listrik yang berada di pinggir halaman utama taman itu, tersandar satu catatan informasi tentang kontruksi Penataan Taman Ratu Safiatuddin yang sedang berlangsung oleh Pemerintah Aceh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata. Di sana tertulis:

Nama Paket : Kontruksi Penataan Taman Ratu Safiatuddin.
Lokasi : Banda Aceh.
Sumber Dana : APBA-  OTSUS Aceh.
Nomor Kontrak : DST. 646/816/2018
Nilai Kontrak : 1.755.416.000,-
Tanggal Kontrak :  5 Juni 2018
Tahun Anggaran : 2018
Waktu Pelaksanaan : 180 hari
Mulai Kerja : 5 Juni 2018
Konsultan Pengawas : CV. Dimensi Utama.
Penyedia : PT. Mada Montala.[]