Senin, Juni 24, 2024

Atlet KONI Aceh Rebut...

BANDA ACEH - Prestasi mengesankan ditoreh atlet binaan KONI Aceh yang dipersiapkan untuk...

Realisasi Pendapatan Asli Aceh...

BANDA ACEH - Realisasi Pendapatan Asli Aceh (PAA) tahun 2019-2023 melampaui target. Akan...

Judi Online: Antara Frustasi...

Oleh: Muhammad Syahrial Razali Ibrahim, Dosen Fakultas Syariah IAIN LhokseumawePemberitaan judi online akhir-akhir...

Hujan dan Angin Kencang,...

ACEH UTARA - Dua rumah di Dusun Dua Lampoh U, Keude Pantonlabu, Kecamatan...
BerandaGara-Gara HP Napi...

Gara-Gara HP Napi Kritis Dihajar ‘Teman’ di Rutan Idi

IDI RAYEK – Musliadi Bin Hasan, salah seorang narapidana perkara narkoba di Rumah Tahananan (Rutan) Cabang Idi, Aceh Timur, dilaporkan mengalami penganiyaan berat hingga kritis oleh napi lainnya. Korban kemudian terpaksa dirujuk ke Rumah Sakit Zainal Abidin (RSUZA) Banda Aceh.

Informasi dihimpun portalsatu.com, penganiayan itu terjadi di kamar 17 Rutan Idi, Selasa 23 Februari 2016, sekira pukul 04:00 WIB. Setelah pingsan akibat penganiayaan, Musliadi dilarikan ke Rumah Sakit Umum (RSU) Graha Bunda Idi, sekira pukul 09:00 WIB. Tetapi, kondisi korban yang tidak stabil di ruang ICU membuat pihak medis memutuskan untuk merujuknya ke RSUZA Banda Aceh, sekira pukul 19:00 WIB.

Kepala Rutan Idi, Yusnaidi dikonfirmasi portalsatu.com, membenarkan korban merupakan napi di rutan itu. “Penganiayaan dilakukan salah satu napi gara-gara korban (Musliadi Bin Hasan) mengambil handphone (HP) milik US alias AT. Begitu US terbangun , HP miliknya berada di tangan korban. Sehingga, US kita duga memukulnya,” ujar Yusnaidi, Rabu, 2 Maret 2016.

 Berdasarkan informasi diterima Yusnaidi, penganiayaan tersebut terjadi seusai salat subuh pada hari itu, lalu beberapa napi lain melaporkan kepada petugas jaga.

“Setelah (korban) dibawa ke klinik di dalam rutan ternyata tak mampu (ditangani), lalu kita rujuk ke RSU Graha Bunda Idi. Ternyata di sana juga tak mampu, sehingga korban dirujuk ke Banda Aceh setelah berkoordinasi dengan Polres Aceh Timur dan mendapat persetujuan dari Kakanwil Kemenkum HAM Aceh. Saya juga ikut membawa korban sampai ke Banda Aceh,” katanya.

Untuk menyelesaikan perkara tersebut, Yusnaidi menyebut pihaknya telah berupaya memediasi antara kedua keluarga napi itu. Namun, kata dia, keluarga korban enggan menerima upaya damai.

“Keluarga korban sudah kita mediasi dan kasus ini diminta oleh keluarganya diselesaikan secara hukum. Bahkan US sudah diperiksa oleh penyidik Polres Aceh Timur pada 1 Maret 2016 kemarin,” ucap Yusnaidi.[] (tyb)

Baca juga: