MALAM di kala sesudah acara, terlihat lelah di wajah-wajah mereka. Orang-orang muda yang baru sahaja di pagi sampai dengan sore harinya, telah melaksanakan, memperingati hari lahirnya baginda termulia, Muhammad SAW.

Walau pun demikian, tersirat juga aura bahagia di setiap sekalian raut muka mereka. Kerana acara itu, alhamdulillah, sukses dan sangat-sangat bersahaja di sebuah rumah kos kawasan Kampus Darussalam, di Limpok, Aceh Besar, Minggu, 29 Januari 2017. 

Sebelum ini, adalah dua pekan di belakangnya, beberapa orang muda tersebut berbincang. Di sebuah kedai kopi yang berada di Banda Aceh dan bukan disengaja, bercakap-cakap sambil bersenda. Tentang bagaimana jika bersama-sama, mencoba untuk membuat sedikit acara peringatan hari lahirnya nabi (moled).

Yangmana semua mereka-mereka itu adalah anak rantau, oleh kerana tanggung jawab yang harus, kewajiban bagi setiap individu untuk mencari ilmu. Dari daerah masing-masing, berhingga sampailah di Kota Iskandar Muda. Adapun sekarang ini, masih pada bulan-bulan di mana hampir setiap hari adalah acara bersahaja, memperingati hari lahir, utusan Allah SWT.

Memperingati hari lahirnya ia, Muhammad nabi kita, penghulu segala nabi dan tidak ada yang lain setelahnya. Keranalah pada kebiasaan di daerah, setiap hari maulid, pasti ada bu minyek. Maka dari itu, dari kebiasaan di kampung. Berhasratlah untuk dirantau ini, orang-orang muda tersebut mahu memasaknya sendiri di kos-kosan. Dan tersepakatilah perihal itu.

Dan rupanya, setelah bermusyawarah dengan beberapa rakan-rakan yang lainnya lagi, disepakatilah akanpada acara maulid, yang akan diadakan dalam skala kecil-kecilan. Setidaknya dapat dinikmati oleh seratusan orang, dari rencana pura-pura yang memang tidak terkonsep dari awalnya untuk seratusan tamu pada kali ini. Sangatlah luar biasa, kerana acara itu dapat dilaksanakan sebagaimana mustinya. 

Bahkan seratusan lebih daripada tamu-tamu yang berdatangan untuk acara yang baru sahaja sukses untuk kesempatan kali pertama yang seperti ini adanya, kerana memang pada setiap tahunnya mereka-mereka itu memasak bu minyek dalam skala sepuluh orang sahaja. Dan apa yang sudah berlaku, sukses itu, seperti mimpi bagi mereka, masih seperti pura-pura.

“Ini sangat-sangat luar biasa, acara sudah selesai. Maulid ini sudah selesai, semoga di tahun-tahun selanjutnya kita lebih mampu lagi untuk mengadakan acara peringatan hari lahirnya nabi Muhammad SAW,” ujar Khaidir Syarifuddin di kos-kosannya di Limpok, Darussalam, Aceh Besar, ia terlihat sangat bahagia di Minggu malam tersebut.

Semua persiapan, dari segala macam bumbu-bumbu, memasak bu minyek, lauk-pauk dan semua-semuanya itu, dipersiapkan sendiri oleh para orang-orang muda tersebut. Semua masakan-masakan itu dimasak sendiri, bersama-sama. Biaya untuk acara juga dikumpul dari diri mereka-mereka itu.

“Nyak, nyoe kiban lom. Pu lom yang perle ta tamah (mak, ini bagaimana lagi. apa-apa sahaja yang perlu ditambah lagi,” adalah Cut Munira yang tengah menelpon ibunya di kampung, perempuan itu terus mencatat apa-apa sahaja yang harus dipersiapkan untuk membuat salah satu bumbu masakan tertentu. Berbeda dengan bu minyek, campuran-campuran itu harus dikirim dari kampung, kerana untuk meraciknya susah. Sedikit sahaja ada rempah-rempah yang kurang, tentulah akan merubah aroma, rasa bu minyek tersebut.

Sepekan masa, sebelum sampai pada hari acara. Orang tua di kampung terus ditelpon, untuk menanyakan segala hal yang berkaitan dengan apa sahaja yang diperlukan. Kerana persiapan akan hidangan acara ini adalah untuk seratusan tamu undangan, bukan cuma untuk lima dan sepuluh orang tamu sahaja.

“Untuk selanjutnya, kita ini sudah punya pengalaman jika akan membuat acara-acara yang dihadiri oleh seratusan orang bahkan untuk para tamu yang mungkin sahaja bertambah lagi daripada hari ini,” pungkas M. Nazar (Rambo) di malam sesudah acara yang luar biasa, sukses diadakan oleh orang-orang muda, yang masih belum seberapa menguasai tata cara, yang belum begitu berpengalaman dalam acara-acara seperti demikian itu.

Akan tetapi, bila juga tidak ada kekompakan, rasa kebersamaan di antara mereka, orang-orang muda itu sendiri. Tidak juga untuk satu acara, persoalan dan lain-lain bisa terkendali. Kerana setiap sesuatu, acara haruslah ada rasa kebersamaan. Ibarat sapu bunga kelapa, jika ia kita cabut dan satu sahaja. Pasti tidak bisa untuk membersihkan sampah-sampah yang ada di halaman rumah. 

Semoga ini bisa menjadi percontohan bagi orang-orang muda yang lainnya, apalagi untuk merayakan, meperingati hari lahirnya nabi kita, Muhammad SAW. Penulis pun mengakhiri keindahan akan rasa kebersamaan, kekompakan ini.

Penulis: Syukri Isa Bluka Teubai