Kamis, Juli 25, 2024

Cari HP di Bawah...

Mencari HP dengan harga terjangkau namun tetap memiliki performa yang handal memang bisa...

Siswa Diduga Keracunan Selepas...

SIGLI - Jumlah siswa yang dirawat akibat dugaan keracunan setelah konsumsi nasi gurih...

Spanduk Dukungan Bustami Maju...

LHOKSEUMAWE - Sejumlah spanduk berisi dukungan kepada Bustami Hamzah untuk mencalonkan diri sebagai...

Yayasan Geutanyoe Rayakan Hari...

LHOKSEUMAWE - Yayasan Geutanyoe merayakan Hari Anak Nasional tahun 2024 bersama 227 anak...
BerandaNewsHebatnya Ayah dan...

Hebatnya Ayah dan Ibu

*Nia Kartini

Pengalaman yang kelam dan menyakitkan akan berujung pada sesuatu yang biasa kita sebut dengan trauma. Menurut pandangan psikologi, semakin sakit luka yang dirasakan, semakin sukar pula disembuhkan.

Tidakkah kita bertanya-tanya, mengapa seorang ibu tidak mengalami trauma setelah melahirkan? Dilihat dari pendekatan biologi, ''Tubuh seorang manusia hanya dapat menahan 45 del (unit) dari rasa sakit. Ketika melahirkan, seorang wanita merasakan sekitar 57 del (unit) dari rasa sakit. Hal ini serupa dengan sekitar 20 tulang retak di waktu yang sama'' Juga mengingat, ia telah lelah mengandung paling tidak selama tujuh bulan.

Hebatnya, tidak sedikit ibu yang ingin melahirkan lagi dan lagi hingga dokter memberitahukan bahwa tubuhnya tidak sanggup lagi untuk menahan beban mengandung dan melahirkan.

Sebenarnya, kekuatan magis apa yang menyebabkan rasa sakit tersebut seolah hilang? Bukan, itu bukan kekuatan magis. Kekuatan magis saja tidak mampu menjadi obat rasa letih walau hanya untuk satu hari dalam masa mengandung.

Tubuh manusia mempunyai berbagai macam kurir kimia yang diproduksi oleh kelenjar-kelenjar endokrin, kurir-kurir kimia tersebut dinamakan dengan hormon. Hormon memiliki tugas khusus dan dapat mempengaruhi emosi dan perasaan seorang individu. Di antara banyak hormon yang diproduksi oleh kelenjar hipofisis yang terletak pada dasar otak besar adalah hormon oksitosin.

Kata oksitosin berasal dari bahasa Yunani, berarti kelahiran cepat. Oksitosin berfungsi merangsang kontraksi yang kuat pada dinding rahim sehingga mempermudah proses kelahiran. Oksitosin juga merupakan faktor dalam pengalaman orang tua yang merasa jatuh cinta pada pandangan pertama dengan bayi mereka (Febo, dkk, 2005; Numan, 2006). Ya, hormon inilah yang diduga kuat perangsang utama rasa cinta ibu terhadap bayinya.

Akan tetapi, apakah kita yakin hanya karena fungsi hormon tersebutlah ibu kita dapat mengasuh, mengajar, mendidik, dan membesarkan kita dengan rasa kasih dan sayang tiada tara? Saya pribadi meyakini bahwa rasa sayang ibu terhadap anaknya adalah anugerah kodrati yang dimiliki setiap wanita. Psikiater Inggris, John Bowlby (1969, 1989) berteori bahwa bayi dan ibunya secara naluriah menjalin kelekatan.

Tahukah Anda, satu-satunya tempat manusia terbebas dari kuman dan bakteri adalah di rahim seorang ibu? (Veli Karabuga, Mata Air; 2014) Sejak detik pertama manusia dilahirkan, ia mulai dihantui oleh ancaman beribu bakteri dan kuman.

Maha suci Tuhan yang telah menyediakan suatu asupan makanan yang tidak hanya mengenyangkan, tetapi juga berfungsi sebagai pelindung kekebalan tubuh untuk seorang bayi mungil. Makanan tersebut adalah air susu ibu (ASI).

Walaupun berjuta-juta rupiah digunakan untuk meracik suatu makanan yang bernilai gizi atau paling tidak sama seperti ASI, hasilnya akan nihil. Karena makrofag dan limfosit yang terdapat pada air susu seorang ibu bersifat hidup, tidak ada suatu cairan makanan pun yang dapat menggantikannya (WHO -1993, UNICEF, 1993- Bagian Pangan H-1 OF).

Di sini saya tidak hanya akan berbicara mengenai ibu, tetapi juga ayah. Di balik cinta ibu yang kita rasakan dan sangat mudah terlihat secara kasatmata, terdapat cinta seorang ayah yang berlimpah. Keduanya mengasihi kita dengan sepenuh hati di saat kita kecil. Mereka adalah guru pertama bagi kita, dua “malaikat” yang Tuhan kirimkan untuk merawat kita semenjak kita masih sangat lemah. Mereka membimbing kita hingga kita cukup kuat untuk menyikapi dunia.

Namun, apakah kita akan bertindak yang sama seperti di saat mereka mengasihi kita di waktu kecil? Terlebih di saat mereka mulai lemah memasuki masa lanjut usia. Akankah kita?

Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: ‘’Wahai Tuhanku, kasihilah mereka berdua, sebagaimana mereka berdua telah mengasihi dan mendidikku waktu kecil’’ (QS 17:24)

*Penulis adalah mahasiswa Unsyiah

Sumber Bacaan:
 A. King, Laura. Psikologi Umum. Jakarta: Salemba Humanika, 2010.
 Al-Quran
 Dorea GJ. (2000). Iron and Copper in Human milk. Nutrition 16. p: 209-220
 https://www.facebook.com/261529087373837/videos/389300934596651/
 Majalah Mata Air, edisi: Januari-Maret 2014 VOL.1 NO.1

 

Baca juga: