Menurut data sejarah yang dapat dipercayai, Aceh telah menjalin hubungan resmi dengan negara luar, sejak penguasa Pulau Sumatra ini memiliki Kesultanan Pasai (Summutrah atau Samudra Pasai), yang kemudian dilanjutkan dengan Kesultanan Aceh Darussalam.

Selama ini, para peminat sejarah memahami bahwa Samudra Pasai memiliki hubungan dagang dengan berbagai negara besar di zamannya, seperti Persia, Turki Usmani, dan India oleh karena ianya merupakan satu-satunya produsen lada terbesar di dunia. 

Hubungan keamanan dan penyebaran Islam pun terjalin dengan beberapa negara, terutama di Semenanjung Malaka dan Pulau Jawa.

Khususnya hubungan Samudra Pasai dengan Turki Usmani jarang diketahui orang. Hal ini terjadi, diperkirakan karena Turki di masa itu tidak mengurusi hubungan dengan Asia Tenggara secara langsung, akan tetapi melalui mitra-anak Kesultanannya di India Raya (meliputi Afghanistan, India, Pakistan, Nepal, dan sebagainya).

Setelah Mamluk runtuh, kerajaan-kerajaan di kawasan menobatkan Turki Usmani (Ottoman) sebagai pusat kekhalifahan.

Diperkirakan, Samudra Pasai sebagai pemegang kuasa penyebaran Islam di Asia Tenggara, turut mengangkat Turki Ottoman sebagai khalifah. 

Kapan hubungan resmi terjadi antara Aceh dengan Turki?

Setelah Samudra Pasai runtuh, muncullah Kesultanan Aceh Darussalam, menggantikan posisi Samudra Pasai sebagai penjaga Asia Tenggara. Tugas utama para sultan adalah mengusir Portugis di dataran Sumatra dan merebut kembali Melaka dari penyerang yang telah mengalahkan Samudera Pasai tersebut. Di masa itu Angkatan Laut terkuat di dunia dipunyai Portugis yang dikenal juga dengan nama Spanyol. Dan Angkatan Darat Terkuat di Dunia di masa itu dimiliki Kesultanan Usmani, yang orang luar Turki menyebutnya Khalifah Islam Turki  Usmani.

Oleh karena itu, Sultan Alaidin Riayat Syah Al Kahar yang mulia, mengirim utusan kepada Khalifah Turki Usmani, Sultan Suleyman Kanuni yang mulia, untuk menjalin kerjasama keamanan, penyebaran Islam, dan perdagangan.

Dalam hal ini, Aceh meminta atau membeli senjata dari Sultan Turki, dan dukungan lainnya. Sekaligus utusan itu menyampaikan pengakuan Sultan Aceh Darussalam bahwa ia dan seluruh orang di wilayahnya mengakui keberadaan Kesultanan Turki Usmani sebagai khalifah Islam yang memimpin dunia.

Di sini saya mengutip isi buku “Kesultanan Aceh dan Turki” yang ditulis oleh Dr Mehmet Ozay, seorang peneliti independen asal Istanbul, lulusan Marmara University.

Mehmet Ozay menulis, 

[Dari Lada Secupak Hingga Utusan Sultan Selim II 

Adalah lebih baik untuk mengawali bab ini dengan beberapa pertanyaan: 
1. Mengapa Turki begitu penting dalam ingatan sosial masyarakat Aceh seperti 
yang tercermin dalam tradisi lisan dan beberapa karya yang melegenda?; 
2. Mengapa Kesultanan Aceh Darussalam memilih Turki Utsmani, bukannya 
kekuatan (kerajaan) lain misalnya bangsa Safawi di Timur Tengah?; 
3. Bagaimana tanggapan Turki Utsmani terhadap permintaan untuk menjalin 
hubungan ini – apakah hubungan ini hanya terbatas pada kontribusi militer 
belaka?; dan seterusnya… 

Secara jujur saya (Mehmet Ozay) dapat mengatakan bahwa historiografi (catatan sejarah) Turki 
Utsmani masih harus diungkapkan terlebih dahulu untuk dapat menjawab 
pertanyaan-pertanyaan ini dalam berbagai aspek.

…. …
Paradigma Politik pada Elit Politik Aceh 
Untuk mendapatkan pemahaman yang benar mengenai hubungan antara 
Kesultanan Aceh Darussalam dan Negara Turki Utsmani, penting untuk 
memperhatikan sekilas mengenai prinsip dasar Kesultanan Aceh Darussalam. 
Upaya untuk menjalin kerjasama dengan Negara Turki Utsmani yang dilakukan 
oleh para penguasa Aceh adalah didasarkan pada filsafat politik.

Dalam konteks ini, 
dekade awal abad ke-16 menjadi saksi berdirinya Kesultanan Aceh dan terjadinya 
serangkaian pembangunan bertahap sebagai sebuah negara federasi yang 
diprakarsai oleh Ali Mughayat Syah, Pendiri Kesultanan Aceh Darussalam. Salah 
satu faktor pendorong berdirinya Kesultanan ini adalah untuk menjawab 
keberadaaan Portugis yang juga dikenal sebagai penjajah di wilayah dan di sekitar 
Selat Malaka. 

… …

Di antara pemikiran politik Ali Mughayat Syah adalah membangun hubungan di 
bidang politik, ekonomi, budaya dan agama di antara wilayah dunia Islam bagian 
Timur dan Barat. Ini harus dipahami sebagai bagian dari upaya untuk mendirikan 
serikat Islam global. Karena visi politik ini, selama masa pemerintahannya, rakyat 
Aceh mampu membangun hubungan melalui saluran yang tepat dengan pemerintah 
Turki Utsmani dan mendapat peluang untuk mengembangkan hubungan tersebut 
seiring berjalannya waktu. Karena memiliki tekad yang kuat untuk terjun ke 
dunia politik internasional, Ali Mughayat Shah mulai menjalin hubungan dengan 
Turki sebagai salah satu prinsip kebijakan luar negeri Kesultanannya. Dalam 
lingkup yang lebih besar atau lebih kecil, ini menjadi latar hubungan antara 
Kesultanan Aceh Darussalam di Timur dan Negara Turki Utsmani di Barat dalam 
tatanan wilayah dunia Islam sejak awal dekade abad ke16. Sebagai suatu kebijakan konstruktif, upaya untuk membangun hubungan internasional ini 
menjadi titik acuan yang kemudian juga diterapkan dan diteruskan oleh beberapa sultan lainnya seiring berjalannya waktu.

Dalam konteks ini, sesungguhnya Kesultanan Aceh memainkan peran yang unik 
sebagai ujung tombak berkembangnya pemahaman modern tentang PanIslamisme.

Dalam skala tertentu, ini merupakan suatu tindakan politik yang 
dapat menjalin hubungan dengan cara yang baru antara pusat (Negara Turki 
Utsmani, di Timur Tengah) dan pinggiran (Kesultanan Aceh, di Asia Tenggara). 

Bahkan kader pemimpin 
Portugis telah melihat bagaimana elit politik Aceh dapat memainkan peran secara 
konstruktif dalam wilayah mereka sendiri untuk menentang kekuatan asing. 
Padahal Portugis mengupayakan penyerbuan ke daerah tersebut secara 
berturut-turut. Pimpinan Portugis, terutama D'Albuquerque yang terkenal, 
“meramalkan reaksi universal dunia Islam” di berbagai wilayah di sekitar Samudra 
Hindia. Selain itu, Diogo do Couto, seorang sejarawan resmi Portugis telah 
menyadari keberadaan kekuatan Kesultanan Aceh di wilayah tersebut dan 
mengungkapkan kekhawatirannya mengenai persiapan militer Kesultanan Aceh 
yang dapat merebut Malaka dari tangan Portugis yang saat itu menduduki 
semenanjung Malaka.

Cerminan sikap politik Ali Mughayat Shah dapat diamati dari pernyataan yang 
beliau kemukakan ketika menjelaskan prinsip-prinsip dasar mengenai hubungan 
luar negeri Kesultanan. Beberapa hal di antaranya adalah seperti meningkatkan hubungan dengan negara-negara dunia Islam seperti Arab, India, Melayu, dan 
Turki Utsmani; menegakkan perjuangan melawan kekuatan kolonial Barat; dan 
mengupayakan perluasan wilayah Islam; dan sebagainya.]

Di dalam buku yang sama, Mehmet Ozay menulis:

[Meriam Lada Secupak

“Lada secupak” adalah kisah yang sangat menakjubkan. Ungkapan ini, yang secara 
harfiah berarti 'segenggam lada', memiliki konotasi yang sangat berbeda apabila 
mengacu pada sebuah peristiwa yang membangkitkan hubungan historis antara dua 
negara yang dulunya pernah membangun kekuatan politik-militer mereka sendiri di 
daerah masing-masing. Konsep ini umum digunakan di hampir semua buku-buku 
sejarah dan artikel terkait yang mencatat hubungan antara Turki Utsmani dan Aceh. 
Dan hal ini juga sering disinggung sebagai pembuka percakapan antara orang 
Turki dan orang Aceh yang kebetulan bertemu pada acara-acara kemasyarakatan. …

Isu mengenai ‘lada secupak’ ini tampaknya juga dicatat dalam babad 'Hikayat 
Meuka Alam' yang mengangkat sebuah kisah mengenai meriam yang disampaikan 
sebagai cerita lisan tentang hubungan Aceh dan Turki. Kisah tersebut menegaskan 
bahwa meriam tersebut dilindungi di Aceh sampai pecah Perang Belanda pada tahun 1874. 
Ada beberapa artikel yang menceritakan mengenai 'masalah meriam' 
ini yang diterbitkan pada pertengahan abad ke-20 di Istanbul.
Berkenaan dengan hal ini, sebagai seorang saksi, saya yakin bahwa ingatan sosial 
orang Aceh lebih kuat dibandingkan dengan ingatan sosial orang Turki. Karena 
konsep ini sangat penting bagi orang Aceh sehingga ia seperti sebuah gambar yang 
terukir dalam pikiran masyarakat Aceh. 
Penting sekali untuk menggambarkan apa sebenarnya maksud dari ungkapan Lada 
Secupak. Pada saat utusan Aceh tiba di Konstantinopel pada tahun 1565, Sulaiman 
Yang Adil, Sultan Turki Utsmani pada saat itu secara langsung memimpin sendiri 
pasukan dalam peperangan melawan Hungaria di medan perang Szigetwar,47 di 
Eropa Timur. Menanti masa berlangsungnya peperangan tersebut serta mangkatnya 
Sultan Sulaiman menyebabkan utusan Aceh itu menghabiskan waktu lebih lama di 
Konstantinopel. Dengan usaha sendiri, mereka menyewa tempat dan menafkahi 
diri mereka sendiri dengan menjual komoditas yang mereka bawa bersama dengan 
hadiah yang akan dipersembahkan kepada Sultan. Setelah Selim II, putra Sulaiman 
Yang Adil, selesai dilantik, barulah utusan Aceh memperoleh kesempatan untuk 
melakukan kunjungan resmi ke Istana, yakni dua tahun setelah kedatangan mereka 
di Turki. 48 Untuk menafkahi diri mereka selama berada di Turki, mereka terpaksa 
menjual semua komoditas lada yang mereka miliki termasuk bagian yang 
sebenarnya telah mereka niatkan untuk dihadiahkan kepada Sultan. Yang tersisa di tangan mereka hanyalah secuil (segenggam), dan itulah yang dapat mereka 
tawarkan kepada Sultan yang baru saja naik tahta. Dalam pertemuan resmi 
tersebut, Sultan Turki Utsmani memutuskan untuk mengupayakan bantuan militer 
ke Aceh yang diantaranya termasuk sebuah meriam yang secara simbolis 
dinamakan 'lada secupak'. Menarik juga untuk mencari tahu apakah utusan Aceh 
ada menulis sebarang karya sastra (tulisan) mengenai kehidupan, pengalaman dan 
pengamatan mereka dan lain-lain selama mereka menghabiskan waktu yang cukup 
lama di Konstantinopel. Hal ini masih perlu untuk telusuri dan diungkap.]

Apa pengaruh dari hubungan dengan Turki itu?

Sultan II Selim, yang menggantikan ayahnya, Suleyman Kanuni Yang Adil, yang syahid di Hongaria, memenuhi permintaan utusan Sultan Al Kahar.

Sultan II Selim mengirim senjata, ahli senjata, perwira pelatih tentara, ahli bangunan, dan ahli logam, serta ahli agama ke Bandar Aceh Darussalam (Banda Aceh).

Maka sesampainya di Banda Aceh, para utusan Sultan II Selim itu diberikan tempat oleh Sultan Al Kahar, di tempat yang kini dikenal dengan nama Gampong Bitai dan Gampong Emperom.

Mereka membangun akademi di sana, yang kemudian melahirkan tokoh besar, seperti Laksamana Keumala Hayati dan Sultan Iskandar Muda.

Kemudian, pengaruh Turki di Aceh masuk ke dalam semua sistem pemerintahan dan sebagian budaya di dalam masyarakat, termasuk gaya berpakaian dan makanan.

Turki, yang saat itu disebut “Rum” oleh orang Aceh, telah dianggap sebagai bagian dari Aceh sendiri. ” Bangsa Rum, yang membantu Sultan kita melawan Portugis.” 

Tidak ada bangsa manapun, sepanjang sejarah Aceh, yang bersedia membantu seperti yang pernah dilakukan oleh bangsa Rum (Turki). Dan, sejak saat itu, Aceh setuju dengan sang Sultan, yang bersumpah setia kepada Khalifah di Istanbul, bahwasanya kita akan senantiasa setia kepada Raja Rum yang memimpin dunia. 

Setelah Aceh Darussalam diluluhlantakkan oleh pasukan koalisi Eropa yang dipimpin Belanda, hubungan langsung dengan Turki terhenti sementara. Hal itu diperparah dengan hancurnya Kekhilafan Turki Usmani, dan didirikan Republik Turki yang sekuler. Ditambah diperparah lagi dengan lenyapnya Kesultanan Aceh Darussalam, dan Aceh digabungkan dengan negara baru, Republik Indonesia.

Hubungan itu, selain ingatan orang tua tua di kampung, muncul lagi setelah bencana smong (tsunami) 26 Desember 2004. Pada Februari 2005, Tuan Recep Tayyip Erdogan, yang saat itu masih menjabat sebagai Perdana Menteri Turki mengunjungi Aceh, dan memerintahkan orang Turki membantu Aceh. 

Maka, Erdogan adalah orang yang mengingatkan lagi bahwa Turki punya hubungan penting dengan Aceh di masa silam. Saat itu, barulah orang Aceh bangun dari mimpi buruknya. Melihat Turki kembali berkuasa di dunia, dan Aceh diluluhlantakkan oleh perang dan bencana.

Orang orang Aceh baru menyadari bahwa sejak Erdogan memimpin, Turki kembali kepada peradaban Islam, sehingga bisa terhubung lagi dengan Aceh. Namun, bukan lagi seperti di masa Sultan, kini Aceh tidak punya apa apa, dan tidak punya impian apa apa. Yang mengherankan-lebih tepatnya memilukan- mengapa pemimpin besar Turki yang harus mengingatkan orang Aceh tentang persaudaraan ini, bukan orang atau pemimpin Aceh sendiri. 

Mungkinkah Tuan Erdogan tahu sumpah setia itu, bahwasanya, “Kita akan senantiasa setia kepada Raja Rum yang memimpin dunia.”

Oleh karena itu, Peringatan 477 Tahun Hubungan Aceh dan Turki, oleh Gata (Gabungan Komunitas Aceh), pada 10 Agustus 2016, di Gampong Bitai, Banda Aceh, patut cukup memiliki alasan. Walaupun acara itu masih dinilai sebatas romantisme sejarah, tanpa pembicaraan kuat referensi, namun itu sesuatu yang luar biasa dan amat patut diangkat dua belah tangan sebagai tanda penghormatan. Ternyata masih ada anak Aceh yang ingatannya terawat dengan baik.[]

Thayeb Loh Angen, Aktivis Kebudayaan, penulis Novel Aceh 2025.