Syukri Isa Bluka Teubai
Setidaknya, walaupun tidak bisa untuk membantu semuanya. Ibu-ibu atau anak-anak dara yang ada di kampung mempunyai kegiatan di waktu-waktu senggang mereka, bahpun hanya untuk membantu panen, memotong daun-daun, mensortir bawang-bawang saja. Itulah salah satu petikan kata-kata untuk memulai menulis tulisan ini.
Yangmana kita selalu berharap pada setiap apa yang kita lakukan, dapat diperoleh akan manfaat yang berguna bagi siapa sahaja. Dan yang berkata demikian juga adalah seorang lelaki yang baru penulis kenal di malam Minggu, tanggal 24 Juli 2016 kemarin.
Walau sudah lama dari masa akan pertemuan yang tiada disengaja telah terlewati, namun penulis sangat berkeinginan untuk menuliskan pertemuan tersebut dengan lelaki yang petani bawang dari Gampong Ceureucok, Meunasah Kapai, Simpang Lhee, Pidie, Aceh.
Bertemu dengan orang sepertinya itu merupakan pertemuan yang luar biasa bagi penulis sendiri, dan untuk semua juga, berharap. Kerana jarang ada yang mahu menjadi petani, setelah selesai dari kuliah dan sudah memperoleh strata satu dari mana-mana kampus.
Ini lain ceritanya dengan kita yang belum beruntung, walau sudah mendapat gelar master, di sini penulis tiada membahas pada yang demikian. Penulis hanya ingin menceritakan keberanian, yang bermodal nekat dari seorang Ikhsan. Ia tiada pernah sekalipun peduli terhadap apa yang dikatakan orang-orang kepadanya, di awal-awal ia mulai bertani.
Mereka berkata kepada saya, kenapa dulu kamu harus kuliah. Jikalau sekarang ini kerjamu itu menjadi petani. Tidak ada arti kuliahmu itu, hanya menghabiskan uang orang tuamu saja. Dan saya tiada pernah sekalipun peduli pada siapa sahaja yang berkata seperti demikian itu, saya hanya melakukan pekerjaan saya. Dan keyakinan di dalam hati ini sangatlah besar, bahawa suatu saat nanti saya akan menjadi seorang yang sukses!
Ia mengingat pada kata-kata tersebut, dan sebuah senyuman pun mekar dari mulutnya setelah ia menceritakan kejadian itu kepada penulis.
Kami telah bercakap-cakap banyak tentang pertanian, khususnya tentang bawang di dalam perjalanan menuju Banda Aceh di kala waktu, awalnya penulis belum tahu. Bahawa ia adalah seorang petani bawang, dan sudah mulai menciptakan bibit bawang untuk sekarang ini.
Agar kita yang ada di Sigli, Aceh umumnya, akan tiada harus susah-susah lagi mencari bibit bawang ke Tegal, kata pemuda yang sudah sukses untuk sekarang ini. Ia juga sudah memperkerjakan sedikit banyaknya ibu-ibu dan anak dara di kampungnya.
Dan pada pertemuan di malam menjelang pagi Ahad tersebut, ia mahu berangkat ke Tegal. Adalah untuk melihat gudang bawang yang ada di sana. Kerana ia belum memiliki akanpada gudang tersebut di sini, sekarang ia hanya menyimpan bibit-bibit bawang itu di tempat yang dibuat olehnya sendiri.
Pukul delapan pagi nanti, saya dan beberapa orang dari BI (Bank Indonesia) akan berangkat ke Tegal untuk melihat gudang bawang mereka. Untuk mengetahui bagaimana cara mereka menyimpan bibit bawang dan bisa tahan dalam waktu yang lama. Bang Ikhsan yang berkata demikian.
Seorang sarjana pertanian itu telah mengajari, membuktikan kepada kita, yang bahwa apa yang kita pelajari haruslah dipraktekkan. Dan biarkan orang-orang berkata sesuka hatinya, kerana jalan yang kita tempuh tiada pernah akan sama dengan jalan yang ditempuh oleh siapa sahaja. Tiada pernah akan sama. Kamipun berpisah di pagi Ahad tersebut.
Syukri Isa Bluka Teubai, Mahasiswa Bahasa Arab UIN, Ar-Raniry.





