BANDA ACEH – Pemerintah Kota Banda Aceh menargetkan seluruh kawasan kota terbebas dari tumpukan sampah setiap pagi sebelum pukul 08.00. Untuk mendukung target tersebut, pemerintah menambah 18 kendaraan operasional bagi Dinas Lingkungan Hidup, Kebersihan dan Keindahan Kota (DLHK3), terdiri atas sembilan mobil pikap L300 dan sembilan truk pengangkut sampah.
Wali Kota Banda Aceh Illiza Sa’aduddin Djamal menyerahkan kendaraan tersebut kepada pasukan oranye DLHK3 di Taman Putroe Phang, Selasa, 27 Oktober 2026. Penambahan armada ini diharapkan memperkuat kemampuan petugas dalam mengangkut sampah sekaligus mempercepat pelayanan kebersihan di berbagai wilayah.
Illiza mengatakan, ketersediaan kendaraan operasional harus diikuti peningkatan kedisiplinan dan ketepatan waktu dalam bekerja. Ia berharap petugas semakin bersemangat menjalankan tugas sehingga sampah tidak menumpuk dan aktivitas masyarakat dapat berlangsung di lingkungan yang bersih.
“Mudah-mudahan para pekerja kita semakin bersemangat. Pengangkutan sampah dan pembersihan di kota menjadi lebih baik serta lebih tepat waktu,” ujarnya.
Target kebersihan sebelum pukul 08.00, menurut Illiza, membutuhkan perubahan dalam pola penanganan sampah. Pemerintah tidak ingin persoalan kebersihan hanya dibebankan kepada petugas yang mengangkut sampah setelah dibuang masyarakat. Pengurangan sampah harus dimulai dari rumah tangga dan lingkungan permukiman.
Karena itu, ia mengajak warga lebih bertanggung jawab terhadap sampah yang dihasilkan, termasuk dengan mendukung pengelolaan di tingkat gampong. Partisipasi masyarakat dinilai penting agar beban pengangkutan yang ditangani DLHK3 dapat dikurangi.
“Harapan kami pukul 08.00 pagi kota kita sudah bersih dari sampah. Kami juga berharap masyarakat ikut berpartisipasi karena kita sedang berupaya mengurangi sampah sejak dari sumbernya, baik melalui pengelolaan oleh gampong maupun dari rumah masing-masing,” kata Illiza.
Untuk memperkuat gerakan tersebut, pemerintah kota merencanakan pemberian becak sampah kepada enam gampong yang telah menunjukkan kesiapan dalam mengelola sampah secara mandiri. Fasilitas serupa juga disiapkan untuk mendukung operasional DLHK3.
Menurut Illiza, pemberian fasilitas akan dilakukan dengan mempertimbangkan kesiapan masing-masing gampong. Wilayah yang telah memiliki kesadaran dan inisiatif pengelolaan sampah akan didorong menjadi contoh bagi kawasan lainnya.
“Gampong-gampong yang memang sudah punya kesadaran akan kita fasilitasi. Bagi yang belum, akan terus kita dorong,” ujarnya.
Pendekatan berbasis gampong tersebut diharapkan dapat memperkuat pengelolaan sampah dari lingkungan terkecil. Dengan dukungan fasilitas dan keterlibatan warga, pengumpulan sampah di kawasan permukiman diharapkan menjadi lebih teratur sebelum diangkut menggunakan armada DLHK3.
Penambahan kendaraan dan rencana pemberian becak sampah menunjukkan bahwa pembenahan kebersihan Banda Aceh diarahkan melalui penguatan pelayanan sekaligus peningkatan partisipasi masyarakat. Kedua hal tersebut saling berkaitan: armada yang memadai membutuhkan sistem pengumpulan yang tertib, sedangkan pengelolaan dari sumbernya dapat membantu mengurangi volume sampah yang harus diangkut.
Tantangan pemerintah berikutnya adalah memastikan seluruh fasilitas digunakan secara optimal, jadwal pengangkutan berjalan konsisten, dan program pengelolaan sampah di gampong benar-benar terlaksana. Dengan demikian, target menjadikan Banda Aceh bersih setiap pagi tidak hanya menjadi agenda petugas kebersihan, tetapi juga menjadi tanggung jawab bersama seluruh warga. [adv]








