ACEH BARAT – Kepolisian dan Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Aceh Barat merilis jumlah kejahatan asusila terhadap anak di kabupaten itu.
Menurut kedua instansi itu, jumlah kejahatan asusila terhadap anak di Aceh Barat, berdasarkan data yang dimiliki, mengalami peningkatan signifikan di tahun 2018, terhitung Januari hingga awal Juli. Setidaknya, terdapat 13 kasus pencabulan dengan jumlah korban 18 anak. Dalam sebulan, setidaknya terjadi dua kasus. Sementara pada 2017, hanya terjadi 6 kasus.
Angka tersebut diungkap oleh Kapolres Aceh Barat, AKBP Raden Bobby Aria Prakasa, melalui Kaur BIN Ops Reskrim, Ipda P. Panggabean, serta Ketua P2TP2A Aceh Barat, Diah Pratiwi, S.Psi.
Bupati Aceh Barat, Ramli, MS, saat dikonfirmasi portalsatu.com/, Sabtu, 7 Juli 2018 sore, mengatakan, banyaknya kasus kejahatan asusila terhadap anak di kabupaten itu, yang terungkap ke publik, karena kabupaten yang dikenal sebagai Bumoe Teuku Umar itu, saat ini sedang giat berbenah, khususnya dalam hal pemberantasan maksiat.
“Karena Aceh Barat lagi gencar-gencarnya kita benahi dalam berbagai segi. Makanya semua kemaksiatan dan pelanggaran pasti terkuak. Alhmdulillah, Allah sedang menampakkan betapa besar kuasanya,” kata Ramli.
Ramli menegaskan, anak merupakan titipan yang seharusnya dijaga dan dilindungi agar tidak menjadi korban kejahatan asusila. Masyarakat, kata dia, harus mengambil pelajaran dari kasus kejahatan asusila terhadap anak tersebut. “Karena anak adalah titipan Allah yang wajib dididik dan disayangi,” tegasnya.
Bupati berharap, pihak berwajib terus memberikan perhatian khusus untuk membongkar berbagai kasus kejahatan asusila terhadap anak lainnya di Aceh Barat.
Hal senada dikatakan Ketua P2TP2A Aceh Barat, Diah Pratiwi, S.Psi. Menurut psikolog ini, meningkatnya jumlah kasus kejahatan asusila terhadap anak di Aceh Barat, bukan karena perilaku menyimpang pedofilia (ketertarikan seksual terhadap anak) sudah merambah ke sendi-sendi Bumoe Teuku Umar.
Meskipun, kata Diah, tidak dipungkiri, pedofilia adalah penyakit khas, yang keberadaannya tidak mungkin hilang dalam kehidupan bermasyarakat.
Namun, menurutnya, adanya peningkatan pada jumlah kasus kejahatan asusila terhadap anak di Aceh Barat pada tahun 2018, karena saat ini, pihak keluarga korban mau diajak bekerjasama untuk mengungkap kejahatan dan pelaku asusila yang menimpa anak mereka.
Sebelumnya, banyak keluarga yang berusaha menutup diri dan tidak berani membeberkan kejadian yang menimpa anaknya. “Bahkan, banyak kasus, yang orangtuanya marah, ketika kami (P2TP2A) mendesak agar mereka mau melapor ke polisi. Karena itu dianggap aib, apalagi ketika yang menjadi pelaku rupanya keluarga sendiri,” kata Diah, Jumat/kemarin.[]




