LHOKSUKON – Status gizi sebelum dan selama kehamilan seorang ibu sangat penting untuk menjamin ketersediaan simpanan zat gizi yang akan dimanfaatkan oleh bayinya. Sebab, kehamilan merupakan periode penting yang dapat memengaruhi kesehatan ibu dan bayi yang dilahirkan.
Oleh karena itu, Plt. Kepala Dinas Kesehatan Aceh Utara, Jalaluddin, SKM., M.Kes., menekankan pentingnya upaya pencegahan agar ibu hamil jangan sampai mengalami anemia. Sebab jika ibu hamil mengalami anemia akan menyebabkan gangguan pertumbuhan janin dalam kandungan.
“Sehingga anak berisiko mengalami berat badan lahir rendah (BBLR), dan ukuran janin kecil untuk usia gestasinya, yang akan berisiko mengalami stunting pada periode selanjutnya,” ujarnya, Jumat, 4 Juli 2025.
Ibu yang mengalami anemia juga akan berisiko melahirkan janin dengan cadangan zat besi yang terbatas. Sehingga berpotensi menderita anemia pada awal kehidupannya. “Maka upaya pencegahan itu sangat penting. Ibu hamil harus mendapatkan tablet tambah darah (TTD), dan asupan gizi yang cukup,” ucapnya.
Lantas, apa saja kontributor penyebab stunting pada masa kehamilan?
Faktor-faktor pada masa kehamilan yang dapat memengaruhi kejadian stunting adalah anemia defisiensi besi, kurang energi kronik (KEK), obesitas, dan perilaku kunjungan pemeriksaan kehamilan.
Mengutip buku Stunting-pedia: Apa yang Perlu Diketahui tentang Stunting, anemia adalah kondisi di mana jumlah dan ukuran sel darah merah atau konsentrasi hemoglobin berada di bawah nilai batas yang ditetapkan, yaitu 11 gr/dL. Hal tersebut dapat mengganggu kapasitas darah untuk mengangkut oksigen ke seluruh tubuh.
Anemia gizi besi terjadi karena tidak cukupnya zat gizi besi yang diserap dari makanan sehari-hari guna pembentukan sel darah merah. Hal ini menyebabkan ketidakseimbangan antara pemasukan dan pengeluaran zat besi dalam tubuh. Kondisi tersebut dapat menyebabkan distribusi oksigen ke jaringan akan berkurang dan akan menurunkan metabolisme jaringan. Pertumbuhan janin akan terhambat dan berakibat BBLR.
Jika tidak dilakukan tatalaksana dengan tepat, bayi dengan BBLR akan berisiko mengalami stunting. Dapat pula terjadi hambatan atau gangguan pemrograman metabolik pada organ-organ tubuh lainnya, yang dalam jangka panjang akan berdampak pada timbulnya penyakit tidak menular seperti hipertensi, kencing manis, penyakit jantung, penyakit ginjal, dan stroke.
Sebaliknya, jika tumbuh di lingkungan yang cukup zat gizinya, janin akan tumbuh dan berkembang secara optimal.
Adapun ibu hamil KEK adalah ibu hamil yang mengalami kekurangan gizi dan telah berlangsung lama (beberapa bulan atau tahun). Ukuran lingkar lengan atas (LiLA) ibu hamil KEK kurang dari 23,5 cm.
Pengukuran lingkar lengan atas (LiLA) sangat mudah dan relatif stabil selama kehamilan, sehingga dapat digunakan untuk mengidentifikasi ibu hamil dengan risiko kurang energi kronik (KEK). LiLA dapat memberikan gambaran tentang keadaan jaringan otot dan lapisan lemak di bawah kulit pada ibu hamil.
Ibu yang mengalami KEK akan lebih berisiko melahirkan bayi dengan BBLR yang dapat meningkatkan risiko terjadinya stunting.
Selain anemia dan KEK, masalah lain yang terjadi pada ibu hamil antara lain hipertensi, usia terlalu muda atau terlalu tua, terlalu banyak anak, dan jarak kehamilan yang terlalu dekat.
Lalu, obesitas pada ibu hamil dan IUGR. Berat badan sebelum hamil mengindikasikan baik atau tidaknya status
gizi ibu selama hamil. Sebelum proses kehamilan berlangsung, sangat penting bagi seorang wanita untuk mengetahui dirinya kekurangan atau kelebihan berat badan.
Obesitas adalah penyakit kronis dengan penyebab multifaktor dan dapat didefinisikan sebagai peningkatan akumulasi lemak tubuh. Obesitas dapat memicu produksi stres oksidatif yang menyebabkan gangguan fungsi plasenta dan kejadian patologis pada kehamilan.
Kejadiannya berupa hambatan pertumbuhan dan perkembangan (intra uterine growth retardation/IUGR) di dalam rahim. Terjadinya IUGR dapat memengaruhi pertumbuhan dan perkembangan janin serta dapat meningkatkan risiko terjadinya stunting.[](*)







