ACEH UTARA – Salah satu penyebab utama anak mengalami kenaikan berat badan yang kurang adalah Makanan Pendamping ASI (MPASI) yang rendah kalori. Ini dapat menyebabkan bayi kekurangan gizi sehingga tumbuh kembangnya menjadi lambat, nafsu makan berkurang, dan mudah terinfeksi.

Oleh karena itu, Plt. Kepala Dinas Kesehatan Aceh Utara, Jalaluddin, SKM., M.Kes., menekankan bahwa kecukupan kalori dan zat besi dari makanan sangat penting pada fase MPASI lantaran asupan yang diperoleh melalui ASI sudah tidak mencukupi lagi.

“Zat besi dari sumber protein hewani lebih mudah diserap daripada sumber nabati sehingga makanan dari bahan hewani harus disertakan dalam MPASI,” ujarnya, Kamis, 17 Juli 2025.

Apabila asupan zat besi tidak mencukupi, anak akan berisiko mengalami anemia defisiensi zat besi yang berpengaruh pada terganggunya perkembangan sinaps (persambungan) antarsel otak, pembentukan selubung saraf. Dampaknya, gangguan pada fungsi kecerdasan. Apabila kecukupan gizi tidak terpenuhi dalam jangka waktu lama, anak berisiko mengalami stunting.

Penjelasan tersebut juga disajikan dalam buku Stunting-pedia: Apa yang Perlu Diketahui tentang Stunting.

Pemantauan Pertumbuhan

Adapun pencegahan dan tindakan yang perlu dilakukan, antara lain: Pemantauan pertumbuhan dan perkembangan anak usia 0-23 bulan. Pesatnya pertumbuhan pada usia awal menjadi penting untuk anak dalam mendapatkan pemantauan pertumbuhan dan perkembangan secara rutin.

Pemantauan ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas tumbuh kembang anak, serta melakukan tindakan koreksi segera apabila terjadi penyimpangan. Jika pemantauan tumbuh kembang anak terlewat satu bulan saja, risikonya fatal karena penanganannya menjadi terlambat.

Skrining pertumbuhan pada anak usia 0-23 bulan dilakukan dengan menimbang berat badan serta mengukur panjang/tinggi badan dan lingkar kepala. Hasilnya kemudian diplotkan ke dalam kurva pertumbuhan yang sesuai untuk usia dan jenis kelamin yang terdapat dalam buku kesehatan anak atau Kartu Menuju Sehat (KMS) pada buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA).

Orangtua atau pengasuh dapat berkonsultasi kepada petugas kesehatan apabila terdapat masalah atau keluhan. Kegiatan pemantauan pertumbuhan dapat dilakukan dengan kunjungan Posyandu setiap bulannya. Dalam kegiatan Posyandu, orangtua atau pengasuh dapat mengukur pertumbuhan anak sekaligus mendapatkan edukasi dan konseling terkait pertumbuhan anak.

Dalam kegiatan pemantauan perkembangan, semua anak usia dini dipantau perkembangannya melalui Stimulasi Deteksi dan intervensi Dini Tumbuh Kembang (SDIDTK) menggunakan instrumen kuesioner pra skrining perkembangan (KPSP), buku KIA, atau instrumen standar lainnya.

Di dalam Buku KIA, Kartu Kembang Anak (KKA), dan SDIDTK ada milestone perkembangan yaitu kemampuan yang dicapai anak pada usia tertentu. Orangtua dapat mengevaluasi tumbuh kembang anak untuk mendeteksi secara dini adanya penyimpangan tumbuh kembang dengan mengidentifikasi red flags atau tanda bahaya yang mengindikasikan anak harus segera mendapatkan intervensi.

Pengasuhan Anak

Perkembangan sosial, emosional, dan moral pada anak hingga dewasa sangat dipengaruhi pola asuh orangtua. Pola asuh demokratis dianjurkan untuk diterapkan orangtua. Dalam pola asuh ini, selain menghargai kepentingan anak, orangtua pun menekankan sikap bertanggung jawab pada anak dengan cara mengikuti peraturan yang telah disepakati bersama. Peraturan ini perlu disesuaikan dengan norma sosial.

Stimulasi untuk Anak

Selain memberikan asupan gizi dan pola asuh yang tepat, anak juga mem butuhkan stimulasi. Perkembangan anak menjadi optimal apa bila mendapatkan stimulasi dari orangtua, sesuai dengan tahapan perkembangan anak.

Seribu hari pertama kehidupan (1000 HPK) adalah periode yang sangat penting dalam pertumbuhan anak. Otak anak berkembang sangat pesat. Sistem metabolisme tubuh dan kekebalan tubuh mulai terbentuk.

Stimulasi berperan penting dalam mengasah berbagai fungsi dan potensi yang dimiliki anak sesuai perkembangan umurnya.

Anak memerlukan asupan zat gizi yang tepat dengan jumlah yang seimbang agar periode 1000 HPK-nya dapat berjalan dengan baik. Kualitas kesehatan anak hingga dewasa nanti akan berpengaruh apabila pada periode ini asupan zat gizi yang diberikan pada anak tidak tercukupi.

Menjaga Kebersihan Diri dan Lingkungan

Kebersihan diri dan lingkungan sekitar merupakan aspek yang perlu dijaga dan diperhatikan untuk menjauhkan anak dari penyakit infeksi (seperti diare, kecacingan, malaria) yang disebabkan oleh lingkungan yang tidak sehat. Orangtua, pengasuh, masyarakat, dan pemerintah berperan penting dalam menciptakan lingkungan yang bersih dan aman bagi anak.

Dalam keseharian, orangtua atau pengasuh wajib membiasakan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) pada anak, seperti mandi secara rutin, mencuci tangan menggunakan sabun, membuang sampah di tempat sampah, serta menggunakan jamban ketika buang air. Berperilaku hidup bersih dan sehat sejak dini akan membuat anak terbiasa sampai ia dewasa.[](*)