BANDA ACEH – Pemerintah Aceh akan menggelar Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) ke-7 di Kota Banda Aceh, 5 – 15 Agustus 2018. Event itu untuk melestarikan budaya Aceh dan mempromosikan provinsi paling ujung di Pulau Sumatera ini kepada masyarakat internasional.

Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA), Teuku Irwan Djohan, mengatakan, PKA itu ada dua tujuannya. Pertama, pelestarian budaya Aceh. Misalnya, dari segi kesenian, pakaian adat, bahasa, kuliner, suku-suku di Aceh, dan juga memperkenalkan budaya Aceh ini kepada seluruh rakyat Aceh, terutama generasi muda, yang mungkin di era modern sekarang ini belum atau sudah tidak lagi mengetahui budaya-budaya tradisional Aceh.

“Tujuan kedua untuk mempromosikan Aceh. Kita telah menganggarkan dana Pemerintah Aceh sampai puluhan miliar untuk pelaksanaan PKA ke-7 tersebut. Tentunya ada tujuan yaitu memperkenalkan Aceh kepada dunia luar. Maka kita mengundang banyak tamu dari luar Aceh atau provinsi lain di Indonesia. Bahkan, kedutaan-kedutaan besar dari negara asing atau negara sahabat yang ada di Indonesia, kita juga mengundang mereka untuk datang ke sini (Aceh),” kata Irwan Djohan, diwawancarai portalsatu.com/, di ruang kerjanya, Kamis, 2 Agustus 2018, sore.

“Agar mereka melihat kekayaan kebudayaan Aceh, melihat bagaimana keindahan alam Aceh. Dengan tujuan agar citra Aceh di mata masyarakat dunia itu bisa terangkat. Juga memperbaiki dan meningkatkan citra Aceh di mata dunia, sehingga Aceh bisa dilirik oleh banyak warga mancanegara untuk bisa dijadikan salah satu destinasi, baik wisata maupun untuk mempelajari sejarah, budaya dan termasuk agama Islam khususnya di Aceh,” ujar Irwan Djohan.

Ditanya soal sektor pariwisata terkesan terabaikan dalam rencana kerja Pemerintah Aceh, Irwan Djohan menilai, ini memang faktor sumber daya manusia dan faktor finansial juga memengaruhi. “Jadi, harus menempatkan orang-orang yang paham dan memiliki kemampuan dalam posisi yang terkait promosi Aceh. Apakah itu di Badan Investasi dan Promosi, Dinas Penanaman Modal atau Dinas Parawisata. Itu harus orang-orang yang memang memiliki kemampuan dan kreativitas, inovasi, dalam hal memperkenalkan Aceh ke tingkat nasional maupun internasional”.

“Akan tetapi, anggarannya juga harus mendukung. Misalnya, anggaran untuk Dinas Parawisata dan Kebudayaan, dan Dinas Penanaman Modal. Artinya, di era sekarang ini semua daerah di Indonesia berlomba-lomba untuk memperkenalkan kekayaan alam di daerahnya masing-masing kepada pihak luar,” ungkap Irwan Djohan.

Oleh karena itu, kata Irwan Djohan, Aceh tidak boleh kalah. Jika tidak mengalokasikan anggaran yang memadai serta menempatkan orang-orang yang tepat dalam sektor pariwisata, Aceh bisa ketinggalan.[]