LHOKSEUMAWE – Pemerintah Gampong Meunasah Mee, Kemukiman Kandang, Kecamatan Muara Dua, Kota Lhokseumawe, bersama jamaah Tarbiyah Islamiyah Mazhab Syafi’i Aceh, memperingati Haul ke-1242 tahun wafatnya Imam Syafi’i, dan Haul ke-11 Tarbiyah Islamiyah Mazhab Syafi’i Aceh. Kegiatan tersebut berlangsung di Kompleks Pendopo Tarbiyah Islamiyah Mazhab Syafi’i Aceh, Gampong Meunasah Mee, Kamis, 23 Januari 2025.
Selain jamaah tarbiyah dan masyarakat Kota Lhokseumawe dan Kabupaten Aceh Utara, turut hadir dalam acara tersebut pejabat mewakili Pj. Wali Kota Lhokseumawe, Kapolres Lhokseumawe, Dandim Aceh Utara, Kajari, Lhokseumawe, Kepala Dinas Syariat Islam, Kepala Kantor Kemenag Lhokseumawe, dan tamu undangan lainnya.
Sebelum dimulai acara peringatan haul, dilaksanakan pawai akbar jamaah tarbiyah menggunakan puluhan kendaraan roda empat dan dua berkeliling Kota Lhokseumawe.
Acara peringatan haul itu juga diisi dengan pengajian rakyat oleh Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Kabupaten Aceh Utara, Abu Manan Blang Jruen.
Pada acara tersebut juga dilakukan pengibaran bendera Tarbiyah Islamiyah Mazhab Syafi’i oleh jamaah perempuan. Acara ditutup dengan doa bersama, dilanjutkan dengan menikmati kenduri.

[Jamaah Tarbiyah Islamiyah Mazhab Syafi’i Aceh dan masyarakat berdiri sebagai bentuk penghormatan saat pengibaran bendera tarbiyah pada peringatan Haul Imam Syafii dan Haul Tarbiyah Islamiyah Mazhab Syafi’i di Pendopo Tarbiyah, Gampong Meunasah Mee, Kecamatan Muara Dua, Kota Lhokseumawe, Kamis, 23 Januari 2025. Foto: Istimewa]
Tujuan Tarbiyah
Pimpinan Tarbiyah Islamiyah Mazhab Syafi’i Aceh saat ini, Teungku Ahmad (Abon Banda Dua), mengatakan Haul wafatnya Imam Syafi’i diperingati setiap tahun di akhir bulan Rajab, bertepatan dengan Haul Tarbiyah Islamiyah Mazhab Syafi’i Aceh. “Tujuannya untuk mengenang perjuangan beliau (Imam Syafi’i) dalam mengembangkan ilmu Allah,” ujarnya.
Abon Banda Dua menjelaskan Tarbiyah Islamiyah Mazhab Syafi’i adalah satu acuan peninggalan Sultan Malikussaleh. Tarbiyah ini bukan organisasi politik, tapi murni untuk mensyiarkan agama Islam dan mendidik umat agar berakhlak mulia. Tarbiyah ini hanya satu pimpinan, tidak ada wakil dan bendahara.
“Tarbiyah ini untuk merenovasi moral dan akhlak umat dengan memberi ilmu kepada rakyat. Pusatnya sekarang di Pendopo Tarbiyah di Pesantren Darul Mukminin Nusantara Aceh di Desa Meunasah Mee, Kecamatan Muara Dua, Kota Lhokseumawe. Tarbiyah ini akan diserahkan kepada pemerintah, karena pemerintah wajib menjaga agama rakyat dan pemerintah punya kuasa, sebagaimana yang telah diperbuat oleh Abu Hasan Krueng Kalee kepada (Presiden) Soekarno, dan Abu Ibrahim Cot Ceubrek kepada (Presiden) Soeharto kala itu,” ujar Abon Banda Dua.
Abon Banda Dua menambahkan, arti tarbiyah adalah mendidik melalui kegiatan pengajian atau beut rakyat supaya masyarakat tidak hidup dalam kejahilan. “Oleh karena itu, saya mengajak pemerintah dan rakyat untuk kembali kepada acuan Sultan Malikussaleh, Wali Songo, dan Syiah Kuala,” ucapnya.
Pada tahun 2013 lalu, (Almarhum) Abati Usman Banda Dua mendeklarasikan kembali Tarbiyah Islamiyah Mazhab Syafi’i di Desa Alue Lim, Kecamatan Blang Mangat, Kota Lhokseumawe, sebagai sambungan dari (Almarhum) Abu Cot Ceubrek.[](red/ril)






