ACEH BESAR — Di ujung timur pesisir Aceh Besar, ombak Laut Andaman terus berdebur menghantam karang-karang tua di kawasan Lamreh dan Krueng Raya. Di balik tenangnya laut itu, tersimpan kisah besar tentang seorang perempuan tangguh yang namanya melegenda dalam sejarah maritim Nusantara, yakni Laksamana Malahayati.
Malahayati bukan sekadar tokoh sejarah bagi masyarakat Aceh. Ia adalah simbol keberanian, kecerdasan strategi perang, sekaligus bukti bahwa perempuan Aceh pernah memegang peranan besar dalam mempertahankan kedaulatan kerajaan dari ancaman bangsa asing.
Hingga kini, jejak perjuangan Malahayati masih dapat ditemukan di sejumlah kawasan bersejarah di Aceh Besar, terutama di Kecamatan Mesjid Raya yang dahulu menjadi pusat pertahanan laut Kesultanan Aceh Darussalam.
Dalam berbagai catatan sejarah, Malahayati atau Keumalahayati lahir di Aceh Besar sekitar tahun 1550. Ia berasal dari keluarga bangsawan dan keturunan laksamana Kesultanan Aceh. Sejak muda, Malahayati dikenal memiliki kemampuan kepemimpinan dan ilmu militer yang kuat.
Ia menempuh pendidikan di Akademi Militer Mahad Baitul Maqdis, lembaga pendidikan militer Kesultanan Aceh yang saat itu dikenal maju. Dari tempat itu, Malahayati mempelajari strategi perang darat dan laut, diplomasi, hingga kepemimpinan armada perang.
Perjalanan hidupnya berubah ketika suaminya, Laksamana Tuanku Mahmuddin bin Said Al Latief, gugur dalam peperangan melawan Portugis di Teluk Haru. Peristiwa itu tidak membuat Malahayati mundur. Ia justru tampil memimpin armada laut Aceh dan dipercaya menjadi laksamana perempuan Kesultanan Aceh Darussalam.
Salah satu jejak paling penting Malahayati berada di Benteng Inong Balee yang terletak di kawasan Lamreh, Kecamatan Mesjid Raya.
Benteng yang menghadap langsung ke Selat Malaka itu dibangun sekitar tahun 1599 dan menjadi markas pasukan Inong Balee, pasukan perempuan yang terdiri dari para janda syuhada perang Aceh. Kata “Inong” berarti perempuan, sedangkan “Balee” berarti janda.
Dari benteng di atas bukit itulah Malahayati melatih ribuan perempuan menjadi prajurit tangguh. Dalam sejumlah sumber sejarah disebutkan, pasukan Inong Balee memiliki kekuatan sekitar 2.000 personel yang siap menghadapi ancaman Portugis maupun Belanda.
Kini, sebagian bangunan benteng memang telah runtuh dimakan usia dan abrasi pantai. Namun sisa tembok batu, lubang pengintai, serta posisi strategis benteng yang menghadap laut masih memperlihatkan betapa pentingnya kawasan tersebut sebagai titik pertahanan Kesultanan Aceh pada masa lalu.
Dari lokasi benteng, hamparan Teluk Krueng Raya terlihat luas. Laut biru yang tenang itu dahulu menjadi jalur sibuk perdagangan internasional sekaligus medan pertempuran armada Aceh melawan kapal-kapal asing.
Nama Malahayati semakin dikenal dunia setelah peristiwa pertempuran melawan armada Belanda pada tahun 1599.
Saat itu, Cornelis de Houtman, pemimpin ekspedisi Belanda, datang ke Aceh. Awalnya hubungan berlangsung baik, namun berubah menjadi konflik setelah terjadi penghinaan dan ketegangan dengan Kesultanan Aceh. Sultan kemudian memerintahkan Malahayati memimpin perlawanan terhadap armada Belanda.
Dalam pertempuran laut yang sengit, Malahayati disebut bertarung langsung melawan Cornelis de Houtman di atas geladak kapal. Duel itu berakhir dengan tewasnya Cornelis de Houtman di tangan Malahayati, menjadikan Aceh sebagai salah satu kerajaan Nusantara yang mampu mempermalukan kekuatan Eropa di laut.
Kisah tersebut hingga kini terus hidup dalam ingatan masyarakat Aceh sebagai simbol keberanian perempuan Tanah Rencong.
Jejak lain Malahayati dapat ditemukan di Makam Laksamana Malahayati yang berada di atas bukit kecil di Desa Lamreh.
Untuk mencapai makam, pengunjung harus menaiki ratusan anak tangga di tengah suasana perbukitan yang menghadap laut lepas. Di lokasi itu, suasana terasa tenang dan penuh nuansa sejarah.
Malahayati diyakini gugur saat memimpin pertempuran melawan Portugis di kawasan Teluk Krueng Raya sekitar tahun 1606. Setelah wafat, jasadnya dimakamkan tidak jauh dari Benteng Inong Balee yang pernah menjadi pusat perjuangannya.
Kompleks makam tersebut kini menjadi salah satu destinasi wisata sejarah dan religi yang ramai dikunjungi masyarakat, terutama saat Hari Pahlawan maupun peringatan sejarah Aceh.

Lebih dari empat abad berlalu, nama Malahayati tetap hidup di Aceh. Namanya diabadikan menjadi pelabuhan, jalan, rumah sakit, hingga universitas. Pada tahun 2017, pemerintah Republik Indonesia resmi menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Laksamana Malahayati atas jasa besarnya bagi bangsa dan negara.
Bagi masyarakat Aceh Besar, Malahayati bukan hanya tokoh masa lalu. Ia adalah warisan semangat perjuangan, keberanian, dan martabat perempuan Aceh yang pernah menguasai lautan serta membuat bangsa-bangsa Eropa segan terhadap Kesultanan Aceh Darussalam.
Mengenang Keberanian Malahayati, Pahlawan Perempuan Penakluk Penjajah
Laksamana Malahayati bukan hanya dikenal sebagai sosok perempuan tangguh dalam sejarah Aceh, tetapi juga menjadi simbol keberanian rakyat Nusantara dalam melawan penjajah. Sosoknya kini dikenang melalui makam bersejarah yang menjadi salah satu destinasi wisata religi dan sejarah di Aceh.
Berada di kawasan pesisir Krueng Raya, Kabupaten Aceh Besar, makam Laksamana Malahayati kerap dikunjungi peziarah, wisatawan, hingga pelajar yang ingin mengenal lebih dekat jejak perjuangan perempuan pertama di Nusantara yang menyandang gelar laksamana.
Selain berziarah, pengunjung juga dapat menikmati suasana tenang di sekitar kompleks makam yang berada tidak jauh dari laut. Nuansa religius berpadu dengan panorama alam pesisir menjadikan lokasi ini memiliki daya tarik tersendiri bagi wisatawan domestik maupun mancanegara.
”Dalam catatan sejarah, Malahayati dikenal sebagai pemimpin armada laut Kesultanan Aceh pada abad ke-16. Ia memimpin pasukan Inong Balee, yakni pasukan perempuan tangguh yang beranggotakan para janda syuhada perang. Keberaniannya membuat bangsa asing segan terhadap kekuatan Aceh kala itu,” Ketua Ikatan Agam Inong Aceh, Teuku Muhammad Aidil, katanya, Kamis 21 Mei 2026.
Nama Malahayati semakin dikenal setelah keberhasilannya menghadapi armada Belanda dan Portugis yang mencoba menguasai wilayah Aceh. Bahkan, ia disebut berhasil menewaskan Cornelis de Houtman dalam pertempuran laut pada tahun 1599.
”Kini, makam sang srikandi laut tidak hanya menjadi tempat mengenang sejarah perjuangan, tetapi juga menjadi pengingat bahwa Aceh pernah memiliki perempuan hebat yang berdiri di garis depan perlawanan terhadap kolonialisme,” ungkap Aidil.
Bagi wisatawan yang datang ke Banda Aceh, berkunjung ke makam Laksamana Malahayati menjadi pengalaman wisata religi yang sarat nilai sejarah, budaya, dan semangat perjuangan. [Adv]








