KUTACANE – Semenjak berdirinya pabrik perebusan pinang milik PT Pinang Global Indonesia (PGI) yang berada di Desa Pulo Dadi, Kecamatan Badar, Aceh Tenggara terbilang dapat membantu mengurangi angka pengangguran masyarakat setempat.

"Keberadaan pabrik perebusan pinang peluang sangat besar untuk masyarakat sekitar dan kehadirannya juga akan ikut berkontribusi dalam mengurangi angka pengangguran di Aceh Tenggara," kata Humas Pabrik Pinang PT PGI, Ari Kusanto juga sekaligus kepala desa setempat, kepada portalsatu.com/, Jumat, 8 November 2024.

Menurut Ari, semenjak berdirinya pabrik pinang selama dua tahun lebih dapat membantu angka pengangguran di wilayah kabupaten Aceh Tenggara. Bahkan berdirinya pabrik itu perputaran uang di daerah Aceh Tenggara meningkatkan, mulai dari pembelian kayu dan anggota karyawan.

"Kami menilai dalam aksi yang dilakukan itu adalah kepentingan individu seolah menimbulkan opini semata," jelasnya.

Terkait dengan izin operasional dan izin UPL serta UKL-nya itu, biarlah pihak PT PGI yang mengurus. Jangan menyebar opini seolah pabrik pinang menimbulkan limbah dan polusi.

"Karna semenjak dua tahun lebih pabrik beroperasi tidak ada menimbulkan masalah terutama dampak terkena pencemaran lingkungan," katanya.

Dia menjelaskan, dalam aksi mereka beberapa hari lalu, pabrik pinang tersebut telah banyak menimbulkan kekhawatiran dari warga. Selain dari persoalan limbah dan polusi, suara kebisingan dari aktivitas pabrik itu juga sangat menganggu kenyamanan warga, katanya.

"Itu adalah tidak benar, karna suara bisingan itu hanya suara mesin sedikit berbunyi. Karna mengingat juga dari perkampungan warga tidak terdengar sama sekali," jelasnya.

Keberadaan pabrik pinang, kata Ari seharusnya kebanggaan karena pertama berdiri Desa Pulo Dadi. Dimana semenjak berdirinya dapat menciptakan lapangan pekerjaan di wilayah kabupaten Aceh Tenggara.

Seperti diketahui warga masyarakat pemanjat pinang dibawa luar itu mencapai 700 orang. "Alhamdulillah bagian juga sudah mendapat peluang pekerja, bayangkan gaji mereka saja bisa sampai Rp 200 – Rp 300 ribu perharinya," katanya.

Selain itu, ibu ibu bisa bekerja di sini untuk meringankan beban suaminya, yang lebih lagi usaha kayu bakar dapat terbantu. Mengingat alam disini dikelilingi pegunungan, itu juga bisa mencapai omset Rp 500 ribu perharinya.

"Sebagian kayu bakar itu diambil oleh masyarakat itu dari hasil banjir bandang dan dikumpulkan dan dijual ke pabrik pinang itu," ucapnya.

Menurut Ari, jumlah orang kerja di pabrik pengolahan pinang itu mencapai 170 orang pekerja, secara otomatis itu dapat mengurangi akan pengangguran masyarakat dan omset masyarakat bertambah terutama lapangan kerja masyarakat daerah setempat.

Ia berharap kepada pemerintah daerah agar dapat mendukung perjalanan pabrik pinang ini terutama dapat memberikan bibit yang ungul untuk menambah dominan masyarakat untuk bertani.

"Karna ini adalah sangat peluang bagi masyarakat kita yang ada disini, Selain itu, untuk kebutuhan pinang di pabrik dapat dibutuhkan 80 ton perharinya," pintanya.

Salah satu ibu pekerja di Pabrik Pinang, Kartini berharap pabrik ini tetap berdiri agar dapat membantu untuk biaya anak sekolah dan dapat membantu beban keluarga di rumah. Semenjak berdirinya pabrik pinang yang berdiri di kabupaten Aceh Tenggara dapat mengurangi angka pengangguran di daerah setempat.

Mayoritas masyarakat Aceh Tenggara adalah petani pekebun, kalau lah ada pabrik di daerah ini masyarakat sudah pasti dapat membantu perekonomian.

"Jangan korbankan kami. Kami ketahui mereka demo itu kepentingan dia, kami tolong lah jangan bebankan emak emak yang ada di sini," ucapnya.

Kartini menjelaskan, semenjak berdirinya perusahaan ini dapat bersukur terutama kebutuhan sehari. "Karna suami saya untuk saat ini lagi sakit terpaksa saya menjadi tulang punggung keluarga," tungkasnya.(Supardi)