KUTACANE – SMKPP Negeri Kutacane bekerja sama dengan Pusat Pelayanan Terpadu Perindungan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Aceh Tenggara menggelar bimbingan konseling (BK) untuk menghilangkan trauma dialami siswa-siswi sekolah itu. Tim P2TP2A berdialog dan memberikan motivasi yang membangun bagi masa depan anak didik SMKPP Kutacane.
Sebelumnya, para siswa-siswi itu melakukan aksi protes terhadap Kepala SMKPP Kutacane berinisial MD hingga terjadi keributan pada Rabu, 15 Januari 2025, malam. Dampak kejadian tersebut, aktivitas belajar mengajar di SMKPP Kutacane terhenti sementara. Ekses kejadian itu, Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh menonaktifkan MD dari jabatan kepala SMKPP Kutacane.
Sekretaris Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Aceh, Azanuddin Kurnia, S.P., M.P., mengatakan ada belasan siswa yang mengikuti bimbingan konseling itu untuk membangkitkan kembali semangat mereka dan menghilangkan hal-hal kurang berkesan yang terjadi beberapa waktu lalu.
“Kita akan terus berusaha memberikan yang terbaik untuk anak-anak dan sekolah ini sesuai dengan kemampuan dan kewenangan yang ada di Distanbun Aceh,” kata Azanuddin, Selasa 28 Januari 2025.
Azanuddin mengaku hampir sepekan di Aceh Tenggara untuk melakukan koordinasi dengan berbagai pihak dan mengambil langkah pasti agar dapat membangkitkan kembali semangat para guru dan siswa-siswi SMKPP. Sehingga proses belajar mengajar di sekolah ini bisa aktif kembali.
“Alhamdulillah, proses belajar mengajar sudah aktif kembali. Kita berharap kegiatan positif ini terus berlanjut untuk dapat membawa SMKPP Kutacane lebih baik dan maju ke depan,” ucapnya.
Menurut Azanuddin, kegiatan ini terlaksana melalui kerja sama antara Ketua P2TP2A Aceh Tenggara, Erdarina Pelis, pihak sekolah dan Komite SMKPP Kutacane.
Ketua P2TP2A Aceh Tenggara, Erdarina Pelis, mengatakan pihaknya akan terus mendukung kegiatan positif di SMKPP Kutacane. Apalagi, SMKPP hanya ada tiga di Aceh.
“Potensi yang ada ini akan terus kita optimalkan demi kemajuan bangsa khususnya di bidang pertanian,” kata Erdarina yang juga alumni SMKPP Kutacane.
Menurut Erdarina, pada hari pertama sudah dilakukan evaluasi terhadap mekanisme pola bimbingan yang nantinya diikuti seluruh siswa-siswi SMKPP Kutacane.
“Nantinya kita juga akan mengupayakan semacam outbond bagi siswa dan siswi. Semoga saja pihak sekolah dan Distanbun Aceh bisa memfasilitasi,” ucapnya.
Erdarina menjelaskan hal ini perlu dilakukan supaya anak-anak didik lebih fresh dalam mengikuti pelajaran di sekolah.
BK ini juga disaksikan Ketua Komite SMKPP Kutacane, Taufik Hidayat, Wakil Ketua Komite Iqbal Selian dan beberapa dewan guru khususnya guru BK.
Wakil Ketua Komite SMKPP Negeri Kutacane, Iqbal mengatakan pihaknya juga akan terus mendukung kegiatan ini dan berusaha menjadi mitra strategis sekolah.
Iqbal memberi apresiasi terhadap langkah-langkah yang sudah dilakukan Sekretaris Distanbun Aceh selama beberapa hari berada di Aceh Tenggara. Dengan melakukan koordinasi sehingga proses belajar mengajar di SMKPP itu bisa berjalan normal.
Apresiasi Distanbun Aceh
Langkah cepat Distanbun Aceh menonaktifkan MD dari jabatan Kepala SMKPP Kutacane, membentuk komite dan menggelar bimbingan konseling kepada siswa-siswi yang masih trauma atas kejadian sepekan lalu mendapat apresiasi dari masyarakat dan aktivis.
Ketua PA GMNI Aceh Tenggara, Marham Jayadi mengatakan kejadian protes siswa-siswi terhadap MD merupakan pukulan berat bagi dunia pendidikan di Agara. Akan tetapi, hal itu bisa diselesaikan oleh pihak Distanbun Aceh sehingga proses belajar mengajar di SMKPP Kutacane aktif kembali.
“Kami apresiasi langkah cepat yang diambil oleh Sekretaris Distanbun Aceh, Azanuddin. Semoga SMKPP Kutacane lebih maju ke depan,” ucapnya.
Seperti diketahui, kata Marham, saat ini Presiden RI Prabowo Subianto sangat memprioritaskan ketahanan pangan. “Hal itu sangat urgen dibenahi mengingat SMKPP hanya ada tiga di Aceh,” kata Marham.
Marham berharap Distanbun Aceh terus memberikan kontribusi yang efektif untuk mendukung produktivitas sektor pertanian dengan berbagai fasilitas dan kebutuhan lainnya guna mencetak generasi muda berkualitas di bidang pertanian.
“Kita berharap Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh terus meningkatkan kualitas pendidikan SMKPP, sehingga dapat bersinergi dengan program Asta Cita Presiden,” ujar Marham.
“Dengan adanya SMKPP Negeri Kutacane, diharapkan dapat berkontribusi, sekaligus mencetak insan pertanian yang berwawasan luas dan berkualitas,” pungkasnya.[](Supardi)








