Jumat, Juli 19, 2024

Lebih 170 Bangunan Rusak...

ACEH UTARA - Sebanyak 173 bangunan dilaporkan rusak akibat diterjang badai (hujan deras...

Inilah Struktur Lengkap Kepengurusan...

BANDA ACEH - Ketua Umum Majelis Syuriah Pengurus Besar Himpunan Ulama Dayah Aceh...

Samsul Azhar Dilantik sebagai...

BANDA ACEH - Pj. Gubernur Aceh, Bustami Hamzah, melantik Samsul Azhar sebagai Pj....

Ini Kata Camat Tanah...

ACEH UTARA - Pemerintah sedang melakukan pendataan bangunan yang rusak akibat diterjang badai...
BerandaBerita Gayo LuesKejari Gayo Lues...

Kejari Gayo Lues Hentikan Kasus Penganiayaan Peternak Bebek dengan Pemilik Sawah

BLANGEKEJEREN – Kejaksaan Negeri Kabupaten Gayo Lues kembali menghentikan penuntutan kasus penganiayaan secara Restorative Justice. Penganiayaan itu dilakukan peternak bebek terhadap pemilik sawah di Desa Leme, Kecamatan Blangkejeren.

Kepala Kejaksaan Negeri Gayo Lues, Ismail Fahmi, S.H., melalui Kasi Pidana Umum, Muhammad Sairi, S.H., Selasa, 9 Agustus 2022, mengatakan telah menyerahkan Surat Ketetapan Penghentian Penuntutan dalam perkara penganiayaan kepada tersangka berinisial MA, warga Leme. Dengan dihentikanya kasus tersebut, sudah enam perkara yang diselesaikan secara Restorative Justice.

“Yang menjadi tersangka dalam kasus penganiayaan ini adalah MA, 59 tahun, laki-laki, Dusun Uken, Desa Leme, Kecamatan Blangkejeren. MA melakukan penganiayaan pada Selasa, 24 Mei 2022, sekira pukul 10:00 WIB terhadap korban yaitu LA, warga desa yang sama,” katanya.

Kejadian itu, kata Kasi Pidum, berawal ketika LA mengusir bebek milik MA yang sering masuk ke sawah miliknya. Melihat hal tersebut, MA tidak senang, lalu mendatangi LA dan memarahinya, sehingga terjadi cekcok antara tersangka dan korban.

“Selanjutnya tersangka yang sudah tersulut amarah memukul korban menggunakan tangannya dan kayu yang ditemukan di sekitar tempat kejadian, sehingga menyebabkan luka memar pada kepala korban di bagian mata sebelah kanan sebagaimana tertuang pada Surat Visum Et Repertum Nomor: Peg. 800/115/PKM/BKJ/V/2022,” jelasnya.

Atas perbuatannya tersebut, tersangka diduga melanggar Pasal 351 Ayat (1) KUHPidana.

Dalam perjalanan perkara antara MA dengan LA telah tercapai kesepakatan perdamaian “tanpa syarat” pada 3 Agustus 2022.

Oleh karena itu, Jaksa Penuntut Umum selaku fasilitator mengajukan upaya penyelesaian perkara melalui Restorative Justice, karena beberapa pertimbangan. Di antaranya, tersangka baru pertama kali melakukan tindak pidana; tindak pidana yang disangkakan diancam dengan pidana penjara tidak lebih dari lima tahun; menghindari tindakan pembalasan, dan antara tersangka dengan korban masih memiliki hubungan keluarga. Korban merupakan adik ipar dari tersangka.[]

Baca juga: