ACEH UTARA – Usman Nurdin (48) bersama istri, Nurazizah, dan lima anaknya tinggal di gubuk tidak layak huni di Gampong Geudumbak, Kecamatan Langkahan, Kabupaten Aceh Utara. Keluarga miskin itu menempati gubuk reyot 6×6 meter. Dindingnya terbuat dari papan, sebagian menggunakan terpal biru. Atapnya dari daun rumbia, sudah bocor. Lantai tanah.

Tempat tidur berupa rangkang dari pohon pinang dibelah-belah. Gubuk itu sudah miring, terancam roboh. Keluarga Usman mengandalkan air sungai di dekat gubuk untuk kebutuhan sehari-hari. Tidak ada sumur dan MCK. Lampu menerangi gubuk Usman dari arus listrik rumah tetangga.

Penghuni gubuk reyot tersebut semuanya delapan orang. Selain Usman, istri dan lima anaknya, ada ibu mertua Usman dengan kondisi tunanetra dan sudah lanjut usia, sekitar 72 tahun.

Pegiat Sosial Aceh, Akmal, Selasa, 18 April 2023, sore, menyambangi Usman dan melihat gubuk yang ditempati keluarga miskin itu dalam kondisi memprihatinkan.

Ketika Akmal minta izin masuk ke dapur, ia melihat hanya ada ikan tongkol untuk lauk berbuka puasa hari itu. Tidak ada menu lainnya.

Mulanya, Akmal bertemu dengan Usman sore itu ketika Usman berjualan keliling membawa kacang panjang hasil panen dari kebunnya menggunakan sepeda motor tua, di Gampong Geudumbak, Kecamatan Langkahan.

Saat itu, Akmal hendak membeli barang dagangan Usman. Dia menanyakan kepada Usman, “Berapa harga kacang panjang itu semua?”

“37 ribu,” ucap Usman. Harga itu untuk semua barang bawaannya, satu karung.

Akmal menyampaikan itu kepada portalsatu.com/ via telepon, Rabu, 19 April 2023.

“Kebetulan saat ini kami sedang membangun rumah kepada salah satu anak yatim di Geudumbak. Saya mendapat informasi dari warga setempat bahwa Usman dan keluarganya itu tempat tinggalnya sangat miris, tidak layak huni. Sehingga saya mendatangi rumah beliau dan berbuka puasa di sana,” cerita Akmal.

“Jadi, begitu tiba di sana, saya melihat rumah tidak berdinding dan terpasang terpal yang sudah lapuk dengan kondisi sangat memprihatinkan. Memang patut dan super layak dibantu, ini ekstrem sekali miskinnya kalau menurut pandangan saya,” kata Akmal.

Menurut Akmal, dari sekian ratus rumah di Aceh yang dibangun pihaknya melalui donasi masyarakat, kondisi keluarga Usman bikin hatinya amat terenyuh.

“Ketika saya tanyakan, apakah sudah menyerahkan zakat fitrah (Idulfitri 1444 Hijriah), Usman menjawab ‘belum, karena tidak ada beras’. Meskipun memang beliau tidak wajib membayar zakat fitrah karena serba kekurangan. Namun, membuat hati saya tersentuh dengan keadaannya yang lemah. Pakaian lebaran bagi lima anaknya pun tidak ada uang untuk dibeli,” ujar Akmal.

Akmal pun menyerahkan bantuan semampunya kepada Usman untuk kebutuhan lebaran bagi lima anak tersebut. Empat di antaranya masih SD, satunya lagi SMP. “Paling tidak bisa mengurangi sedikit beban, walaupun tidak seberapa bantuan yang kita serahkan itu,” ucapnya.

Dia berharap pemerintah daerah melalui dinas terkait dapat membantu keluarga kurang mampu itu.

Menurut Akmal, Usman menempati gubuk tersebut di lahan pribadi, walau tidak begitu luas. “Jika dibangun rumah sudah ada lahan sebagai tempat tinggalnya. Kita akan melakukan penggalangan dana untuk dibangun rumah itu. Mudah-mudahan usai lebaran nanti bisa terealisasi,” ujarnya.

“Konstruksi rumah milik Usman sudah tidak bisa direhab lagi. Kayu atau tiang penyangga lapuk dan nyaris roboh. Begitu juga ketika hujan, mereka tidak bisa tidur karena atapnya bocor, ditambah lagi dinding hanya terpal. Bagaimana mau tinggal yang nyaman kalau seperti itu,” pungkas Akmal.[]