Abdullah Idris asal Mojokerto, Jawa Timur, telah merasakan “asam garam” sejak dirinya memilih Islam sebagai agama yang dipeluknya. Delapan tahun lalu, pria yang lahir dengan nama Po Yang Siung itu untuk pertama kalinya mengucapkan dua kalimat syahadat. Perkenalannya dengan Islam berawal dari rasa penasarannya terhadap kebiasaan seorang asisten rumah tangga (ART) di rumah.
Sebut saja, ART itu bernama Bi Sumi. Pada suatu hari, Paul Fransisko—demikian namanya sebelum memeluk Islam—mendapati wanita paruh baya itu sedang sujud di dalam kamar. Karena heran, ia saat itu terus mengamati gerak-gerik perempuan tersebut.
Akhirnya, Bi Sumi selesai dengan ibadah. Melihat anak majikannya tertegun di dekat pintu, sang ART pun memanggilnya. Setelah ditanya, perempuan yang sehari-hari bekerja membersihkan seisi rumah itu menjelaskan. Yang baru saja dilakukannya adalah shalat. Artinya, berdoa dan beribadah kepada Allah, Tuhan Yang Maha Esa.
Bi Sumi juga menerangkan tata cara shalat. Begitu pula dengan amalan-amalan sebelum dan setelahnya, semisal wudhu atau zikir. “Saya bertanya saat Bi Sumi berwudhu, itu apa saja yang dilakukan. Kalau sedang shalat, mengapa memakai pakaian yang berbeda (dengan baju sehari-hari –Red),” kata Abdullah Idris mengenang masa kecilnya, beberapa waktu lalu.
Penjelasan dari ART itu cukup sederhana untuk ditangkap seorang anak-anak. Hingga masa remajanya, Idris belum sampai berminat mempelajari Islam lebih dalam. Sebagai pemuda, ia aktif di berbagai organisasi.
Idris muda mungkin tidak bisa digolongkan sebagai remaja yang nakal. Namun, ia mengaku saat itu tidak begitu taat dalam beragama. Baginya, ibadah hanya formalitas belaka, yang mesti diikutinya tiap akhir pekan.
Idris mendaftar di SMA umum. Seorang guru yang berkesan baginya ialah Pak Mukhlis. Ia melihat, sang guru begitu patuh dalam menjalankan kewajiban harian sebagai Muslim. Shalat selalu dilaksanakannya di masjid atau mushala sekolah begitu azan berkumandang.
Dari Pak Mukhlis, Idris mulai mengenal beberapa ajaran inti dalam Islam. Misalnya, konsep tauhid, keistimewaan Alquran, dan pengertian hadis. Sesekali, guru tersebut mengajaknya untuk bertemu dengan istri dan anak-anaknya.
Di rumah, keluarga Muslim ini menunjukkan akhlak yang ramah dan terbuka. Sikap itu amat bertolak belakang dengan stigma-stigma yang selama ini didengarnya mengenai Islam.
“Pandangan saya mengenai Islam dan umat Muslim pun mulai berubah,” katanya.
Maka, ia saat itu perlahan-lahan mempelajari Islam. Caranya antara lain dengan membaca terjemahan Alquran, yang dipinjamnya dari perpustakaan. Selain itu, dirinya juga mengikuti kisah-kisah sejarah Nabi Muhammad SAW dan sejumlah sahabat beliau.
Dari yang semula hanya untuk menuntaskan rasa penasaran, kini menjadi kebiasaan. Idris muda kian menikmati literasi Islam. Akhirnya, kedua orang tua dan saudaranya menyadari perubahan dalam dirinya.
Idris kemudian ditanya. Kepada mereka, ia mengucapkan hal-hal positif tentang Islam. Alhasil, ayah dan ibunya menafsirkan tanggapan itu sebagai bukti ketertarikan anak ini terhadap agama tauhid. Ia pun diberi ultimatum.
Waktu itu, rumah hanya diisi sang ibu serta kakak dan Idris sendiri. Ayahnya mengetahui kabar “kedekatan” Idris dengan Islam. Dari Pasuruan, bapaknya itu menelepon sembari mengumbar amarah.
Keluarga Idris berasal dari level ekonomi menengah. Saat itu, ia mengurungkan niat untuk menjadi Muslim. Sebab, apabila orang tua mengusirnya dari rumah, barang tentu kebutuhan sehari-hari tak akan ditunjang lagi oleh mereka.
Begitu lulus SMA, Idris meneruskan pendidikan tinggi di sebuah kampus di Surabaya. Beberapa bulan kemudian, bapaknya dipanggil Yang Maha Kuasa. Dari Mojokerto, ibu dan anak itu menempuh perjalanan ke Pasuruan. Sesampainya di rumah duka, ada kejadian yang tidak mengenakkan.
“Keluarga Papa menyebut, Papa saya meninggal karena sakit memikirkan saya yang ingin memeluk Islam. Jika ucapan kasar itu hanya didengar saya, mungkin tak masalah. Tapi, Mama juga ikut mendengar. Seakan-akan, kata-kata itu menyalahkan Mama saya yang mengurus saya selama ini,” ucap dia menuturkan.
Pada 2010, Idris mulai rajin mencari informasi melalui media-media sosial. Salah satu grup Facebook yang diikutinya adalah Mualaf Center Surabaya. Setelah menjadi anggota, ia sering mengajukan pertanyaan kepada para peserta grup. Dan, rata-rata mereka menjawabnya dengan antusias dan informatif.
Kemudian, Idris mendapatkan kabar tentang kajian Islam yang digelar Ustaz Zaki. Setelah menonton video majelis ilmu tersebut, ia merasa sang ustaz dapat menjadi tempatnya bertanya tentang Islam. Sebagai seorang yang belum resmi berislam, ia merasa diterima dengan hangat.
Pada suatu hari, Idris ingin menghadiri langsung kajian yang diadakan Ustaz Zaki. Sayangnya, lokasi acara cukup jauh dari tempat tinggalnya. Terlebih lagi, masjid yang akan ditujunya berada di daerah yang kurang begitu diakrabinya. Salah-salah, ia justru tersesat dan berlama-lama di jalan.
Namun, Idris tidak menyerah. Dengan sepeda ontel, kendaraan miliknya satu-satunya saat itu, ia tetap berjuang sampai ke lokasi. Akhirnya, kajian ustaz yang juga seorang dosen di Surabaya itu dapat dihadirinya.
Setelah hadir dalam kegiatan dakwah tersebut, Idris berkenalan dengan seorang anggota Komunitas Tionghoa Muslim. Darinya, ia mengetahui, grup tersebut berisi banyak muda-mudi Tionghoa yang baru memeluk Islam. Ia pun senang berdiskusi bersama mereka.
Idris kemudian diajak Ustaz Zaki untuk berbagi pengalaman dan kisahnya dalam mengenal Islam. Pada sesi dialog, seorang mualaf Tionghoa menyarankannya agar bersyahadat saja apabila sudah yakin akan kebenaran agama ini. Tanpa ragu, ia pun meminta dipandu untuk mengucapkan kalimat tauhid.
Inilah momen keislamannya. Namun, barulah pada 2014 ia mendapatkan surat keterangan berislam. “Pada 26 Januari 2014, saya syahadat ulang di Masjid Perumahan Galaxy Permai, Surabaya, untuk mendapat sertifikat secara resmi,” katanya.
Sejak menjadi Muslim, ia memilih nama baru, yakni Abdullah Idris. Ia pun mulai belajar shalat dan pelbagai ibadah wajib lainnya. Dalam hal ini, ia mengaku bersyukur, karena dibantu banyak kawan, terutama di komunitas Masjid Al Falah, Surabaya.
Akan tetapi, Idris masih menyembunyikan kabar keislamannya dari keluarga. Ia takut akan mendapatkan respons yang kurang menyenangkan. Barulah pada saat menjelang Ramadhan tahun 2014, ia memberanikan diri.
Waktu itu, ibundanya menelepon. Ia tahu betul karakter sang ibu. Apabila ada hal-hal yang membuatnya gusar, maka kekesalan dapat dipendamnya dalam hati. Namun, kalau amarah sudah memuncak, ibunya itu dapat berkata dengan nada tinggi.
Saat itu, yang amat diharapkannya ialah pengertian dari orang tuanya. Bahwa Islam tidak seperti stigma-stigma yang dipikirkan ibundanya selama ini. Untuk lebih meyakinkan sang ibu, Idris sampai-sampai mengundang sejumlah kawannya yang mualaf beretnis Tionghoa.
“Saya berharap, Mama dapat terbuka pikirannya. Banyak orang Tionghoa yang juga memeluk Islam,” ucap dia.
Setelah itu, untuk beberapa lama Idris menyangka, ibunya sudah berubah. Ternyata, anggapan itu keliru. Pada suatu hari, ia shalat di dalam kamar. Mendapati itu, Mama marah besar. Karena itu, ia tidak lagi menunaikan ibadah wajib tersebut di rumah, untuk lebih meredakan amarah sang ibu.
Setelah beberapa tahun menjadi Muslim, meski masih kuliah, Idris ingin menyempurnakan separuh agama dengan menikah. Melihat pengalaman masa lalu, tentu orang tuanya akan menolak jika Idris menikah dengan seorang Muslimah, apalagi yang bukan etnis sama.
Pria ini mulanya hendak melamar seorang wanita asal Kendari. Namun, saat di bandara untuk bersiap-siap ke ibu kota Provinsi Sulawesi Tenggara itu, ia mendapatkan telepon. Rencana lamarannya ditolak.
Tidak mau patah arang, Idris lekas ke mushala bandara, lalu shalat sunah. Dalam doanya, ia berharap Allah dapat memberikan petunjuk agar dirinya dimudahkan mendapatkan pasangan yang terbaik.
Allah membukakan jalan melalui orang tua asuhnya. Ya, di komunitas mualaf tempatnya bergabung, ada seorang wanita yang siap menikah. Sebulan sesudah berkenalan, pada November 2016, Idris melamarnya.
Pernikahan resmi baru berlangsung pada Februari 2017. Sebab, perlu beberapa bulan untuk menimbang-nimbang, apakah menikah secara agama terlebih dahulu atau sekalian resmi negara. Beberapa waktu setelah Idris menikah, ibunya masih membiarkan komunikasi merenggang.
Barulah sesudah istri Idris hamil dan melahirkan, hubungan antara ibu dan anak itu cair. Mamanya mulai sering menjenguk sang cucu di Surabaya. Kini, keduanya sudah akrab kembali.
Silaturahim Idris juga kembali erat dengan kakak perempuannya. “Dahulu, kakak juga menjauhi saya setelah tahu saya menjadi Muslim. Bahkan, anaknya pun sempat dilarang untuk mendekati saya. Namun, kini kami sudah akrab lagi,” tutur dia.
Penulis: Ratna Ajeng Tejomukti/Sumber: republika.id








