BANDA ACEH – Komunitas Aceh Selatan yang menamakan diri sebagai Komunitas Colourful Kota Naga, yang sadar budaya dan cinta kearifan lokal, mengadakan acara bedah naskah buku.

Kegiatan tersebut bertempat di Aula Fakultas Ushuluddin UIN Ar-Raniry, Sabtu, 9 April 2016. Diskusi gathering bedah naskah buku ini membahas dua naskah buku hasil karya Yelli Sustarina. Kedua buku tersebut ialah Catatan pengrajin Kasab dan Asal Mula Bahasa Aneuk Jamee di Kota Naga Aceh Selatan.

Acara tersebut dibuka oleh Rafly Kande selaku tim penasehat Colourful Kota Naga. Dalam kata Rafly menyampaikan agar para pemuda Aceh senantiasa untuk berkarya, baik itu karya musik, seni, tari maupun tulisan.

“Setiap karya yang disampaikan hendaknya mempunyai makna sehingga berguna untuk masyarakat banyak,” kata Rafly, lalu melatunkan beberapa penggalan lagu.

Dua naskah buku ini dibedah oleh 3 orang narasumber yaitu, Muhammad Umar Emtas (Penulis buku-buku sejarah dan kebudayaan Aceh), Herman RN (Sastrawan) dan Essi Hermaliza (Peneliti pada balai pelestarian seni dan Budaya Aceh). Ketiga narasumber itu memperbaiki buku yang ditulis oleh Yelli Sustarina dengan memberikan masukan dan saran untuk kesempurnaan buku tersebut.

Menurut para narasumber memang terdapat banyak kesalahan dalam penulisan buku tersebut, baik itu dalam sistematis kepenulisan, tata bahasa, layouting maupun sumber dari buku tersebut.

Seorang pembicara, Herman RN, mengatakan, kreatifitas Yelli patut diapresiasi dengan baik, melihat semangat kepenulisan yang dimiliki. Karena, kata Herman, jarang ada orang yang mau membedah bukunya sebelum diterbitkan ke khalayak ramai.

“Yelli adalah perempuan pertama dari Aceh Selatan, yang menerbitkan buku. Sebelumnya ada peulis yang sudah terkenal, yaitu Fardelyn Hacki Irawani. Namun ia tidak menulis dalam bentuk sebuah buku secara perseorangan, tulisannya ada dalam antologi bersama,” kata Herman.

Acara ini dihadiri orang dari berbagai instansi pemerintahan seperti Balai pelestarian seni dan budaya Aceh, paguyuban Aceh Selatan, dan mahasiswa yang ada di Banda Aceh.

“Acara ini sangat mengesankan dan penulis terbilang cukup berani untuk melakukan kegiatan pra bedah seperti ini,” kata Fardenly Hacky, salah seorang peserta yang juga blogger ternama di Aceh.[]