SIGLI – Sungai lebar dipenuhi bebatuan besar, airnya jernih dan arusnya tidak deras karena sedang kemarau. Disirami semburat cahaya jingga matahari senja, permukaan air memantulkan rona keemasan yang eksotis nan romantis. Di sekitarnya pemandangan alam yang hijau menjadi 'bingkai' yang menawan.

Sekelompok anak-anak bermain dengan girang di tengah sungai. Mereka menaiki sebongkah batu besar, kemudian melompat ke sungai dengan riang gembira. Di sisi lain seorang ibu sedang memandikan anaknya yang masih balita.

Potret itu saya temukan di Lhok Keutapang, Tangse, Pidie, Sabtu petang, 1 Juli 2017. Mengingatkan pada potret lukisan alam yang dulu sering saya lihat di toko buku. Bedanya, yang ini asli. Bisa dilihat, bisa dirasa oleh indera.

Terdengar gemericik airnya kala bertumbuk dengan bebatuan. Bisa dirasakan sejuknya ketika uap air yang tak terlihat menabrak kulit. Bisa dirasakan segarnya udara pegunungan yang bersih bebas polutan. Juga hangatnya cahaya mentari yang tumpah di ujung senja sebelum tenggelam di ufuk barat.

Krueng Tangse yang membentang panjang telah lama menjadi magnet bagi para wisatawan, khususnya wisatawan lokal. Saat hari-hari libur besar seperti Idul Fitri, Krueng Tangse memiliki gaya gravitasi tersendiri yang mampu menghimpun pengunjung.

Salah satu titiknya adalah yang ada di Desa Lhok Keutapang ini. Para pengunjung merasa takjub dan betah berlama-lama di sini karena pemandangan di sekitarnya sangat memesona.

Hal itu diakui oleh Nurul Muhdiah, warga Aceh Timur yang sedang berlebaran di Teupien Raya, Pidie dan berkesempatan mengunjungi Tangse.

“Ini pertama kalinya saya main ke Tangse. Tadi baru dari air terjun Lhok Jok di Mane, dan pulangnya mampir di Lhok Keutapang ini untuk mencicipi kopi arang (kayu), ternyata dapat suguhan pemandangan sungai yang sangat indah,” kata Diah, 17 tahun, takjub.

Layaknya anak baru gede, Diah pun tak melewatkan momen indah tersebut. Dengan kamera ponsel ia berswafoto dan mengabadikan pemandangan indah yang ada di hadapannya. “Inginnya sih bisa nyebur ke sungai, tapi ini sudah terlalu sore, tidak memungkinkan lagi,” katanya.

Kopi Arang

Ada yang istimewa di Lhok Keutapang ini selain bentangan sungai berbatu yang asyik untuk bermain air dan memanjakan mata. Adalah hidangan kopi arang khas WK ADN yang diracik dari kopi Robusta asli Tangse. Bagi penikmat kopi, belum sempurna ke Tangse jika belum mencicipi kopi ini.

Yang membuatnya istimewa adalah air yang digunakan untuk meracik kopi ini direbus dengan api yang berasal dari kayu bakar. Sehingga cita rasa kopinya menjadi berbeda dan lebih gurih. Seperti ada bau-bau asapnya. Aroma khas kayu bakar.

Sebenarnya kurang tepat menyebutnya sebagai 'kopi arang', tetapi sejumlah penikmat kopi Lhok Keutapang menyebutkan begitu. “Bukan, ini bukan kopi arang, karena ini yang dibakar kayu, bukan arang,” kata Adnan, 63 tahun, pemilik warung kopi ADN.

Kopi arang ini hanya dijual oleh warung kopi ADN. Satu-satunya warung kopi di Tangse yang masih mempertahankan cara tradisional menyeduh kopi. Warung ini berada di tubir sungai di atas tadi.

Adnan mengatakan, ia mulai berjualan kopi sejak tahun 1990-an. Meski kini sudah ada tungku berbahan bakar minyak atau gas, Adnan tetap mempertahankan cara tradisional merebus air dengan kayu bakar.

Ini merupakan strateginya untuk menjaga ciri khas kopi di warungnya. Tak heran jika di samping tungku di dalam warungnya ada beureumban kayee.

“Walaupun sudah ada kompor kami tetap pakai kayu, untuk menjaga cita rasa,” kata Adnan, yang duduk di meja kasir.

Untuk menjaga cita rasa kopi di warungnya, Adnan menyortir sendiri biji kopi yang akan dibelinya. Dengan keunikan dan kekhasannya ini, warung kopi ini didatangi para penikmat kopi dari berbagai tempat.

Bagi pengunjung, setelah berpuas-puas mandi di sungai bisa menghangatkan diri dengan segelas kopi panas. Harganya hanya Rp 4 ribu. Jika tak suka dengan suasana warung kopi, pengunjung bisa duduk di balai yang ada di bilah samping warung. Atau, jika mau bisa juga membawa gelas kopi pesanan Anda ke sungai. Rasanya pasti beda, menikmati kepulan kopi panas sambil merasakan sensasi dinginnya air sungai.[]