DENGAN dukungan studio film yang futuristik, deretan toko mewah, moda light rail transit (LRT), dan sejumlah hotel mewah, Tinapa sangat layak menjadi pusat bisnis Nigeria.

Kota itu pun sangat menjanjikan untuk mendulang pemasukan jutaan dolar AS.

Kontur kota cukup megah dengan kubah besar 'avant-garde' muncul dari balik rimbunan pepohonan dan deretan palem.

Di gerbang gapura, sebuah papan raksasa terpampang dengan tulisan 'Tinapa kembali ke jalur!.'

Namun, setelah 10 tahun dibuka dan diresmikan, Kota Tinapa jauh dari harapan semula.

Kota di negara Afrika Barat tersebut telah menjelma bak kota hantu.

Segala fasilitas pendukung yang tersebar di seputar Kota Tinapa terbengkalai.

Saat memasuki Tinapa yang semula diproyeksikan jadi kota masa depan, para pengunjung harus menuai kekecewaan.

Lorong toko-toko tampak lengang. Suasana sangat sepi dan tampak beberapa pengunjung dan penjaga toko.

“Di sini kosong, tidak ada pengunjung, seperti kuburan,” ujar seorang pelayan Toko Da Viva.

“Banyak yang sudah pergi,” tambah dia dengan telunjuknya mengarah ke deretan toko.

Tinapa memiliki luas 80 ribu meter persegi.

Kota tersebut mulai dibuka dan diresmikan pada 2007.

Sekarang Tinapa hanya menjadi 'lubang hitam' bagi mereka yang mendambakan kota masa depan.

Bank-bank besar Nigeria yang membiayai Tinapa mengalami kebangkrutan.

Dana-dana yang dikucurkan untuk membiayai proyek pembangunan sebesar US$450 juta tak dapat ditarik.

“Pada saat itu semua orang bersemangat. Tinapa akan meningkatkan pembangunan ekonomi seluruh wilayah dan menciptakan ribuan lapangan kerja,” ujar Bassey Ndem,[] Sumber: mediaindonesia.com