Senin, Juni 24, 2024

Judi Online: Antara Frustasi...

Oleh: Muhammad Syahrial Razali Ibrahim, Dosen Fakultas Syariah IAIN LhokseumawePemberitaan judi online akhir-akhir...

Hujan dan Angin Kencang,...

ACEH UTARA - Dua rumah di Dusun Dua Lampoh U, Keude Pantonlabu, Kecamatan...

Jelang Pilkada Subulussalam, Fajri...

SUBULUSSALAM - Komunikasi elit partai politik jelang Pilkada Subulussalam mulai terlihat intens. Terbaru,...

Jemaah Haji Aceh Dipulangkan...

BANDA ACEH – Jemaah Haji Debarkasi Aceh (BTJ) akan dipulangkan dari Arab Saudi...
BerandaBerita Banda AcehKuliah Umum di...

Kuliah Umum di USK Bahas Perlindungan Populasi Berkelanjutan Satwa Liar

BANDA ACEH – Universitas Syiah Kuala (USK) menggelar kuliah umum internasional tentang keanekaragaman hayati dan perlindungan satwa liar untuk populasi berkelanjutan di Indonesia, dengan menghadirkan dua pembicara Fion Cheung Ka Wing dari WWF Hongkong dan Daphne Ong Hui Wen dari Singapore Wildcat Action Group (SWAG).

Kegiatan yang dibuka Kepala LPPM USK, Prof. Dr. Taufik Fuadi Abidin berlangsung di Auditorium Gedung Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan USK, Selasa, 9 Mei 2023. Kuliah umum itu diselenggarakan dalam kemitraan antara Pusat Riset Konservasi Gajah dan Biodiversitas (PKGB) Universitas Syiah Kuala, Program Studi Biologi FKIP USK, Jurusan Kehutanan USK, dan WWF Hongkong Asian Waterbirds Program.

Fion Cheung Ka Wing dalam materinya membahas pentingnya burung air migran dan habitatnya, berbagai jalur terbang burung migrasi burung air dan perlunya upaya konservasi untuk memastikan kelangsungan hidup populasi ini.

Selain itu, Fion juga berbagi informasi tentang sistem pengelolaan tinggi muka air yang dilakukan di Hong Kong untuk memastikan burung air migran memiliki akses ke pasokan makanan yang cukup di habitat rawa lumpur dan area pasang surut.

“Penting melindungi habitat burung air migrasi, karena banyak dari mereka menghadapi ancaman seperti hilangnya habitat, polusi, dan eksploitasi berlebihan,” kata Fion

Dia juga menjelaskan bagaimana WWF Hong Kong menerapkan sistem pengelolaan muka air di daerah lumpur pantainya untuk memastikan burung-burung itu dapat mengakses pasokan makanan yang cukup selama migrasi mereka.

Menurutnya, burung air umumnya mencari makan di daerah rawa lumpur. Dengan menurunkan ketinggian air di daerah rawa lumpur, burung-burung migrasi tersebut dapat dengan mudah mengambil makanan, yang sangat penting untuk perjalanan jarak jauh mereka.

“Praktik pengelolaan ini dapat menjadi contoh baik bagi negara-negara lain, termasuk Indonesia, untuk memastikan keberlanjutan ekologi dan kelangsungan hidup burung air migrasi,” ujarnya.

Sementara itu, pemateri Daphne menyoroti pekerjaan SWAG dalam melibatkan masyarakat dalam upaya konservasi melalui inisiatif seperti mural interaktif, proyek restorasi, dan upaya pemantauan menggunakan jebakan kamera.

Dikatakan, kolaborasi SWAG dengan masyarakat lokal telah menjadi cerita sukses secara global. Dengan melibatkan masyarakat dalam konservasi, cinta dan apresiasi mereka terhadap alam dapat ditingkatkan, yang memimpin pada upaya yang lebih besar terhadap konservasi keanekaragaman hayati, baik secara langsung maupun tidak langsung.

“Pendidikan dan keterlibatan masyarakat adalah komponen penting dalam mendukung kesuksesan upaya konservasi,” kata Daphne Ong Hui Wen.

Burung air migran, tambahnya, melakukan migrasi massal dari satu wilayah ke wilayah lain di seluruh dunia. Burung-burung itu melakukan perjalanan jauh setiap tahun mencari sumber makanan yang lebih baik, iklim yang lebih hangat, atau tempat berkembang biak yang lebih aman.

Setiap tahun, jutaan burung air bermigrasi dari tempat asal mereka di benua Amerika, Asia, Eropa, dan Afrika ke daerah lain yang lebih hangat atau produktif dari segi sumber makanan. Beberapa burung air melakukan perjalanan ribuan kilometer, bahkan menyeberangi samudra dan benua untuk mencapai tujuan mereka.

Migrasi internasional burung air sangat penting dalam menjaga keanekaragaman hayati di seluruh dunia. Burung-burung ini membantu dalam penyerbukan tanaman dan mengendalikan populasi serangga dan hama yang merusak pertanian. Mereka juga memainkan peran penting dalam rantai makanan, menjadi mangsa bagi predator lain.

Namun, migrasi internasional burung air juga menghadapi ancaman serius seperti perubahan iklim, penghancuran habitat, perburuan dan perdagangan ilegal, dan polusi. Beberapa spesies burung air bahkan terancam punah karena ancaman tersebut.

“Selain itu, satwa liar di area hutan juga sedang menghadapi tekanan ekologis akibat peningkatan perburuan dan kehilangan habitat, yang telah mengakibatkan penurunan drastis populasi mereka. Sangat penting untuk mengambil langkah antisipatif untuk mengurangi ancaman terhadap keberlanjutan populasi satwa liar di area hutan,” pungkasnya.

Kuliah umum tersebut dihadiri oleh mahasiswa, fakultas, dan masyarakat yang peduli terhadap pelestarian lingkungan. Penyelenggara juga memberikan kesempatan kepada masyarakat umum.[rilis]

 

Baca juga: