*Siti Arifa Diana
DALAM BALUTAN sinar matahari yang pekat, setapak demi setapak aku melangkahi beberapa jenis jalan. Mulai dari jalan yang beraspal, jalan yang berumput, jalan yang berbatu, jalan berliku-liku, jalan lurus, sampai tiba pada jalan yang abstrak. Tidak jelas mendeskripsikan jalan yang satu ini. Tapi yang pasti ini jalan yang amat rumit. Aku bahkan sampai mengutuk jalan ini. Jalan yang tampak begitu lekit, dan berlubang, namun itu hanya pada musim hujan. Di musim lain seperti musim panas saat ini, menjelma deburan debu. Namun, sesungguhnya aku lebih mengutuki orang-orang yang kerap hilir mudik membawa kendaraan berat di sini. Merekalah biang kerok, dalang dari masalah jalan, dan juga dalang dari segala dalang. Tapi bangsatnya, mereka terlalu munafik. Lagi suka menggombal.
Sekitar sepuluh meter dari jalan yang terkutuk itu. Tiba sampainya aku pada sebuah jalan teduh dan berpasir putih. Aku berjalanan melangkahi lorong sempit menuju rumahku yang sangat sederhana. Ada banyak rumah-rumah yang berdiri serupa dengan rumahku, bangunan kayu serbuk, berlantai tanah, dan beratap rumbia, ada juga sebagian rumah-rumah yang memakai atap dari anyaman daun kelapa, dan ada pula yang mulai menggantinya dengan seng.
Inilah desa teduhku. Desa pesisir yang damai namun jauh dari sejahtera. Masih menyisip potret kemiskinan dan kebodohan dibaliknya. Seakan menjadi titisan yang menggulma. Bertahun-tahun masyarakat pesisir Lampayang bertahan dengan profesi sebagai nelayan. Sebab, tidak ada keahlian lain yang mampu menerobos nasib yang begitu. Tapi, masih ada sekulit harapan yang membalut mimpi mereka. Yaitu tetap menyekolahkan anak-anak mereka. Dalam doa, agar kelak mampu merubah peradaban yang ada. Tapi aku masih berkelut dalam ragu. Kadang tak yakin.
Sebenarnya, aku telah banyak mendengar sejarah tentang kehidupan masyarakat pesisir Lampayang. Puluhan tahun yang lalu. Saat aku belum terlahir ke dunia. Orang-orang bilang, Lampayang adalah destinasi surgawi. Tempat bermukimnya para juragan dan nelayan terhormat lagi kaya. Sumber daya lautnya yang melimpah, menjadikan Lampayang sebagai salah satu daerah penghasil bermacam ikan bermutu seperti tongkol sure, timphek, jeunara, rambe, bawal, udang, paro, sumbo, ikan cengkalang eungkoet sisek, cumi-cumi dan berbagai jenis lainnya. Tidak pernah ada masyarakat yang kelaparan. Anak-anak dahulu bermain dengan ceria di pantai, tubuh-tubuh lincah nan gemuk itu membuat para orang tua tersenyum. Mereka tidak pernah mengkhawatirkan kesehatan dan gizi anak-anak mereka, yang tampak begitu sehat.
Aku selalu bermimpi untuk mengulang kisah lalu itu. Kadang kala gemar melamun sendiri di pinggir pantai ditemani oleh angin-angin sepoi.
Saat ini, kondisi telah berubah 180 derajat dari wajah puluhan tahun silam. Air laut kini tak sebiru laut biasanya. Gelap dan berbuih. Bahkan setiap pagi aku selalu mencium aroma busuk menyengat. Bau itu berasal dari ratusan bangkai ikan yang terdampar di pinggir laut.
***
Setibanya di rumah, aku membuka sepatu dan seragam sekolahku. Sambil bertelanjang dada, kurebahkan tubuhku di atas tikar, sehelai tikar yang menjadi sofa tidurku selama ini.
Dari arah dapur , tercium bau asap . Ibu sedang mematikan tungku dan baru saja selesai dengan masakannya. Bau rempah-rempah temuru dan kunyit serta bawang putih & merah, aku sangat mengenalinya. Aku segera ke dapur. Perutku tak tahan menahan keroncongan, dan bau nikmat dari dapur.
Ibu masak apa? tanyaku.
Kuah Ikan lemak.
Ikan lagi ya?
Hmmm.., makanlah selagi nasi dan lauknya masih hangat.
Seketika itu raut wajahku memerah, Rongga mulutku bergetar. Nafsu makanku pun sirna begitu saja. Hatiku terasa amat sakit. Biasanya itu adalah lauk kesukaanku. Aku bisa membayangkan rasa gurihnya kuah santan dengan campuran daging dan kaldu ikan tongkol. Sungguh nikmat. Tapi hari ini aku benar-benar tidak ingin menyantap lauk ibu.
Bu, haruskah kita selalu makan ikan, bisa tidak ibu mengganti ikan dengan tahu atau tempe saja, jangan ikan lagi.
Jangan meminta yang tidak ada, bersyukurlah ikan ini tidak harus dibeli.
Aku menelan ludah, melicinkan tenggorokanku yang kering. Aku tahu, berdebat dengan ibu pada akhirnya membuah kesia-siaan saja. Bertahun-tahun ia merasakan getir dan kerasnya hidup. Sampai dibuat kebal oleh nasib.
Ibu menatapku yang diam tanpa bergeming dan beranjak.
Jika kau tidak suka, makan saja dengan nasi putih. Kali ini ia mulai geram, ucapannya itu terdengar dua kali lipat lebih cepat dengan intonasi keras.
Aku tetap tidak beranjak, hanya bungkam memperhatikan raut wajah ibu yang kian lusuh oleh balutan asap bercampur keringat. Aku mengalihkan tatapanku kepada Nurul, adik kecilku berusia dua tahun dalam gendongan ibu. Wajah, tangan dan kakinya penuh akan luka korengan yang mengeluarkan cairan. Sudah hampir empat minggu penyakit gatal-gatal menggerogoti tubuh mungil Nurul. Ia bahkan kesulitan membuka sebelah kanan matanya, oleh karena bintik besar bernanah. Hatiku amat sakit melihatnya.
Kudengar, anak tetangga sebelahku menderita penyakit gatal-gatal yang sama seperti Nurul. Bahkan anak panglima laut lebih parah, selain gatal-gatal, juga sampai muntah darah.
Sungguh aku tak lagi sanggup menerima kepasrahan yang ada. Aku memperhatikan orang-orang lain sedemikian rela memborgol hidupnya, diperkosa haknya, dan membunuh dirinya pelan-pelan. Mengapa? Mengapa mereka tidak melawan?
Aku tak tahan lagi, Bu, aku sungguh tak tahan. Erangku menangis sambil menutupi wajah dengan langit tanganku, dan berlari keluar.
***
Sekitar 500 meter dari daratan seberang tepi pantai, berdiri sebuah bangunan pabrik. Yang konon begitu otoriter terhadap alam. Kudengar ada puluhan ekor burung bangau yang mati setelah terbang melintasi pabrik tersebut. Terkepung udara yang tercemar racun kimia. Kasihan, padahal burung-burung itu hanya ingin singgah ke tepi pantai untuk melepas dahaga, dan mencari beberapa sumber makanan di laut. Tapi malah berujung maut.
Setahun sekali, orang-orang yang bergelatung dengan perusahaan itu terjun ke masyarakat pesisir Lampayang. Di akhir tahun mereka rutin membagi-bagikan brosur dan sekarung beras ke tiap-tiap rumah warga. Mereka juga telah merenovasi mesjid dan membangun meunasah.
Tapi, Ayah selalu mengingatkan, untuk tidak menerima bantuan beras itu. Jika ditanya, kami masih mampu membeli beras.
Mereka harus mengembalikan lagi ekosistem laut dengan keadaan semula. Limbah yang mereka tumpahkan di laut telah meracuni ikan dan membunuh massal masyarakat desa ini. Jelas ayah.
Di zaman ini banyak manusia memutuskan untuk menjadi sekutu Alam. Demi memekarkan uang, dari sekuntum peluh nista.
Aku menatap ayah. Kulitnya amat hitam terbakar jilatan matahari, otot-otot lengannya yang kekar menutupi kekurangan akan tubuhnya yang cungkring itu, seraya memukul paku dengan palu yang digenggamnya di badan perahu. Aku terus menatapnya.
Aku ingat, Jumat adalah hari libur para nelayan. Itu sebabnya ayah sibuk dengan perahunya. Jumat adalah hari di mana Ikan-ikan butuh istirahat dari pukat nelayan, butuh berkembang biak lebih banyak, untuk meningkatkan populasinya. Demikian adat mengajarkan kita (para nelayan) untuk tetap santun kepada kehidupan laut.
Di samping itu aku berdoa, agar ikan-ikan tetap sehat, dan bertahan dengan habitatnya yang telah tercemar.
***
Selimir angin dan kilau fajar membangkitkan energi menempuh satu kilometer jalan menuju kampung Lampayang.
Masih terngiang dalam memori, materi pelajaran bahasa Indonesia tentang latihan menulis surat. Guruku memuji suratku dan memberi nilai yang terbaik. Ia mengatakan padaku akan mengirim surat itu kepada orang yang bersangkutan, yang kutulis dalam isinya. Aku berpikir ini adalah latihan biasa, namun pernyataan guruku itu sungguh meyakinkan. Surat Untuk Bapak Presiden, Tentang Kampung Yang tercemar.
Ah, bu guru. Aku tak sabar menantinya. Menanti suratku untuk segera dibaca oleh presiden.
***
Sudah seminggu kiranya, aku menunggu balasan suratku. Guruku juga tidak pernah membahasnya. Di kelas ia mengajar seperti biasa, begitupun selesai mengajar, ia menoleh keberadaanku, menganggap tak ada apa-apa yang perlu disampaikan. Ah, beliau seperti tidak tahu bagaimana anak-anak, pantang diberi harapan dan ketidakpastian. Mereka tentu selalu menunggu. Menunggu tanpa sabar.
Bel berbunyi, tanda pulang.
Anak SD kelas empat, berbondong-bondong merebut mencium tangan bu guru. Untuk sesegera keluar dari ruang.
Tapi justru aku sebaliknya, melambatkan langkahku mendahulukan 24 murid lainnya yang ingin keluar kelas lebih cepat.
Saipun, duduklah. Ujar Guruku yang masih muda itu, sambil menaik turunkan kacamata di matanya yang sayu.
Jantungku mulai berdebar-debar, mungkin seperti orang yang jatuh cinta. Ah bukan, jelas bukan.
Aku menanti kalimat selanjutnya terucap dari bibir bu guru.
Saipun, boleh ibu pinta sesuatu?
Apa itu bu guru?
Ada seorang wartawan yang ingin mewawancaraimu, ah maksudku ingin bertanya-tanya tentangmu, tentang lingkungan tempat tinggalmu, tentang keluarga, tentang pekerjaan ayahmu dan lain-lain, apa kau bersedia?
Siapa itu wartawan bu? apa ibu sudah mengirim surat itu ke presiden? aku balik bertanya kembali, sebelum memberi jawaban itu.
Bu guru tersenyum, Tenang saja, kita akan segera menunggu respons dari presiden, tapi kamu perlu bertemu dulu dengan wartawan, merekalah orang yang akan mempermudah surat itu untuk dibaca presiden Jelasnya.
Aku menganggukkan kepala. Menyetujuinya.
***
Hari bergerak, seiring putaran jarum jam pada porosnya.
Sambil menggenggam koran yang memuat fotoku di dalamnya. Tak sabar aku untuk menemui ayah dan ibu agar memperlihatkannya.
Serasa ada ombak yang bersuara untuk menyambut semangatku.
Namun setibanya di rumah. Mengejutkan.
Aku tak bergeming, menatap bangunan rumahku yang hanya tinggal serpihan kayu. Tak lagi berdiri. Dan menelanjangi seluruh isi dalamnya.
Dari lima meter jarak pandangku melihat keadaan rumah, banyak orang-orang mengerumuninya. Dan kulihat ibu terjongkok dengan kain sarung sambil memeluk Nurul yang kala itu sedang menangis keras.
Jantungku seribu kali lipat berdegup, bibirku kering, keningku penuh akan peluh yang berjatuhan. Tatapanku sekejap kosong.
Apa yang terjadi? gumamku dalam hati.
Kulepaskan koran dari genggamanku. Aku berjalan perlahan, mengerucutkan lima meter menuju situasi itu.
i…ibu….
Orang-orang mengalihkan tatapannya kepadaku yang datang di tengah rumitnya keadaan.
Apa, yang kau lakukan nak. Mengapa kau membuat masalah besar untuk keluarga kita. Ucap ibu.
Aku tersentak kala itu, seakan suara ribuan ombak dari arah laut menggelintir nadiku, hingga ragaku setengah mati.
Apa aku membuat kesalahan bu? Suaraku bergetar. Air mataku tertahan di sudut kelopak.
Ibuku terus menangis histeris. Tidak menjawab kembali. Nurul memperhatikanku dengan isak air mata membasahi pipinya, jeritan tangis ibu membuatnya mengalah.
Ba.. Bang.., hiks hiks hiks.
Nurul menyebutku, dalam kebingungannya, Ia pasti ingin menjelaskan sesuatu, tapi sayangnya Nurul belum mampu untuk itu.
Kulihat ayah tak ada di sekitar kami. Ke mana ia ?
Kau masih belum sadar juga bocah, sudah mengotori nama desa ini! aku tak ingin menahan seorang bocah, jadi kupanggil saja ayahmu untuk bertanggung jawab dengan kelakuan anaknya ini. Bentak laki-laki berpangkat kepala desa, bertubuh gemuk dan berkumis lebat itu.
Cepat tinggalkan desa ini, sebelum kami memusnahkan barang-barang kalian, teriak salah satu dari warga lainnya di tengah kerumunan.
Sekarang aku paham. Ternyata otak mereka telah tercuci gombalan.
Akupun berdiri, juga membangunkan ibu dan Nurul dari pasir yang menggotong tubuh mereka.
Kalian semua telah Buta, bodoh, dan selamanya bodoh!
Teriakku dengan lantang.
***
Keterangan: Desa Lampayang Hanyalah Fiksi dalam cerita.
*Penulis: Siti Arifa Diana, mahasiswi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Malikussaleh, Jurusan Sosiologi, aktif di Komunitas Demokrasi Aceh Utara, Penikmat Sastra.



![[CERPEN] Bukti Sayang Bukan Warisan Utang](https://portalsatu.com/wp-content/uploads/2022/09/Ilustrasi-utang-foto-pikiran-rakyat-1.jpg)

