HARI raya Idulfitri tahun ini memiliki kisah tersendiri. Pemerintah Aceh melarang masyarakat pulang kampung (mudik) dari 6 hingga 17 Mei 2021, dengan beberapa ketentuan. Menanggapi larangan tersebut, sebagai warga negara yang baik, aku tidak pulang kampung kali ini.

Simpang Limong

Seusai salat Isya pada Rabu malam masuknya Idulfitri 1 Syawal 1442 H/12 Mei 2021, aku keluar untuk melihat-lihat keadaan kota ini, Banda Aceh. Sebagian jalannya masih terlihat disesaki kendaraan, sebagian lagi sepi seperti baru selesai perang.

Tempat pertama yang kutuju adalah Simpang Limong (Simpang Lima) yang dianggap simpang utama kota di Banda Aceh, ikon untuk para aktivis dan mahasiswa berunjuk rasa.

Malam itu, di Simpang Limong terlihat kendaraan melintas sesekali. Beberapa orang anggota Polda Aceh berdiri di pinggir simpang itu, bersiap siaga, menyiapkan diri apabila terjadi suatu hal yang mengkhawatirkan. Namun, saat itu keadaan aman dan terkendali.

Anggota Kepolisian Daerah Aceh (Polda Aceh) menjaga ketertiban arus lalu lintas di Simpang Limong, Kuta Alam, Kota Banda Aceh, pada malam Idulfitri 1 Syawal 1442 H, 12 Mei 2021. @ Thayeb Loh Angenportalsatu.com/

Setelah beberapa menit di Simpang Limong, aku menuju sebuah tempat yang tidak seorang pun ingin ke sana, kecuali karena terpaksa. RSUZA (Rumah Sakit Umum Zainal Abidin).

RSUZA

Ada sebagian orang harus melupakan hari raya, apalagi larangan mudik. Mereka adalah orang-orang yang sekarat, harus dirawat di balai pengobatan (rumah sakit) beserta keluarga yang merawat dan menunggu mereka pulih kembali.

Itulah sisi lain kehidupan kota. Di setiap kota ada, orang-orang yang tidak berdaya, terkulai lemah di bangsal-bangsal balai pengobatan.

Halaman RSUZA senyap. Hanya ada beberapa orang penjaga duduk di dekat gerbang masuk. Di antara gerbang dan ruang gawat darurat ada sebuah kemah untuk zona merah. Terlihat dua orang di sana. Ranjang-ranjang untuk orang-orang yang butuh pertolongan mendesak berbaris di beranda.

Aku memasuki lorong-lorong panjang di samping ruangan gawat darurat. Lorong yang menuju bagian timur bangunan anti gempa itu kosong. Tidak ada seorang pun terlihat di sana. Saat itu, hampir tengah malam.

Aku berjalan terus, menembus lorong sunyi itu seraya bergumam. Bulu kudukku berdiri.

“Entah berapa banyak sudah orang menghembuskan nafasnya yang terakhir di tempat ini.”

Setelah melewati lorong itu, baru terlihat beberapa orang duduk di kursi tunggu dan di lantai. Wajah mereka kelelahan, tidak ada senyuman. Seyuman adalah hal berat bagi mereka saat itu. Mereka tengah menunggui  kerabat yang diharapkan segera pulih dari sekaratnya.

Suara orang membaca Alquran terdengar sendu di pengeras suara di sekitar penjaga di lorong paling timur. Aku melihat orang-orang yang duduk di lantai, melawan kantuk. Aroma obat-obatan rumah sakit sesekali terendus di ruangan luas itu.

RSUZA malam Idulfitri 1 Syawal 1442 H, 12 Mei 2021. @Thayeb Loh Angenportalsatu.com/

Suara pembacaan Alquran dan aroma obat tersebut membuatku teringat saat pembacaan surat yasin secara berjamaah untuk orang sekarat atau yang sudah meninggal dunia. Aku pun membatin.

“Mengapa petugas kesehatan di sini menyiapkan keadaan angker begini, sementara orang-orang seharusnya disediakan keadaan yang penuh harapan. Ataukah ini dilakukan supaya orang teringat pada Sang Pencipta dan memohon pada-Nya supaya dipulihkan?”

Aku terus mengelilingi ruang-ruang di sana sampai ke lantai dua. Orang-orang terbaring di dalam ruangan perawatan, tidak berdaya. Keluarga mereka menunggu di lantai-lantai yang selalu bersih. Mereka tidak mempersoalkan larangan mudik. Bahkan, dipaksa mudik pun mereka tidak bersedia.

Setelah melihat-lihat selama sekira setengah jam, aku meninggalkan tempat menyeramkan itu dan menuju Simpang BPKP.

Simpang BPKP

Malam itu, tempat paling sesak adalah Simpang BPKP, Kecamatan Ulee Kareng. Tepatnya, dari Simpang BPKP ke arah Simpang Tujoh (Simpang Tujuh). Di simpang itu, kendaraan sempat terhenti selama beberapa jam. Kendaraan dari arah timur dan barat bergerak serentak.

Pemandangan sesaknya kendaraan di malam hari raya, tidak terlihat di tahun-tahun tanpa pandemi. Para perantau yang jumlahnya lebih banyak daripada pemukim turunan setempat (penduduk yang telah bermukim secara turun temurun di suatu tempat) menjenguk kampung halaman mereka pada hari raya, sebuah budaya.

Simpang BPKP, Ulee Kareng, Banda Aceh, Idulfitri 1 Syawal 1442 H, 12 Mei 2021. @Thayeb Loh Angenportalsatu.com/

Percakapan di Kedai Kopi

Pekan lalu, terjadi perbincangan di sebuah kedai kopi kota ini.

“Pernahkah kalian membayangkan, sekiranya semua perantau di kota ini diizinkan mudik. Setelah itu, bencana pandemi tidak terkendali, dan pemudik terjebak di kampung halaman mereka, dilarang kembali ke sini selama beberapa bulan atau lebih setahun? Apa yang akan terjadi?” kata Nuruddin (nama samaran) yang merupakan seorang sosiolog.

Senyap. Tidak ada yang berkata-kata lagi. Semua mengurut-urut kepalanya, berpikir.

Sekira satu menit berselang, meja di kedai kopi itu masih hening. Kemudian, karena tidak ada seorang pun yang menjawab, akhirnya Nuruddin menjawab pertanyaannya sendiri.

“Larangan kembali ke kota lebih parah daripada larangan mudik. Lebih tepatnya, itu akan membuat terjadinya sebuah bencana sosial berskala besar, kota akan bangkrut,” katanya.

Tidak ada seorang pun yang menyambung kata-kata Nuruddin. Dia pun melanjutkan.

“Bayangkan saja, puluhan ribu orang yang mudik dilarang kembali ke kota ini untuk mencegah penyebaran corona. Maka, toko-toko di sepanjang jalan besar dalam kota ini dikunci sampai berdebu. Penginapan tutup, kedai kopi tutup. Ribuan usaha lainnya juga akan tidak ada lagi. Banda Aceh akan jadi kota mati.”

Wabah dan Menciptakan Masyarakat Sehat

Tentang wabah seperti covid-19 yang menjadi pendemi, atau epidemi seperti malaria, bukanlah hal baru di Aceh. Di kitab-kitab lama Aceh tentang pengobatan, telah disebutkan cara mengobati wabah.

Demi semakin membaiknya kesehatan penduduk Aceh, kita mengharapkan pemerintah mengimbau dan membantu masyarakat untuk menjalani gaya hidup sehat. Pepatah umum menyebutkan, lebih baik mencegah daripada mengobati.

Alangkah baiknya jika pemerintah menganalisis kebijakan tentang kesehatan.

Daripada menyubsidi obat, lebih baik menyediakan makanan sehat. Kebijakan itu menguntungkan Aceh sendiri. Selain rakyat akan hidup sehat, keuntungan juga akan dirasakan oleh para petani dan penjual makanan, bukan untuk pemilik perusahaan obat raksasa.

Daripada menyubsidi pengobatan paru-paru dan jantung dan sebagainya, lebih baik membantu orang menghentikan kebiasaan merokok dan memerintahkannya menjalani gaya hidup sehat. Dengan begitu, selain rakyat akan hidup sehat, petani dan penjual makanan akan mendapatkan keutungan, bukan lagi pemilik perusahaan rokok raksasa.

Memang, iklan rokok menyumbang PAD (Pendapatan Asli Daerah) yang besar. Namun, mari kita menganalisis lagi, lebih banyak mana antara PAD dari iklan rokok dengan subsidi pengobatan untuk masyarakat perokok. Semoga kita semua senantiasa diberikan kesehatan oleh Allah SWT. Semoga pandemi ini cepat berakhir.[]

Penulis: Thayeb Loh Angen.